<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Mengukur Jarak Bintang Dengan Paralaks</title>
	<atom:link href="http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/</link>
	<description>Situs Astronomi Populer Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 09:17:42 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
	<item>
		<title>By: alamhudi</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-3/#comment-6537</link>
		<dc:creator>alamhudi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 09:17:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-6537</guid>
		<description>saya kok masih gak ngerti..
itu dapat 206.265 SA dari mana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya kok masih gak ngerti..<br />
itu dapat 206.265 SA dari mana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dadc</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-3/#comment-6131</link>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Nov 2011 14:58:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-6131</guid>
		<description>prinsipnya sederhana saja. potret objek di dua waktu yang berbeda lalu bandingkan &amp; ukur sudutnya. tetapi secara teknis tentu saja memerlukan peralatan yang memiliki akurasi tinggi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>prinsipnya sederhana saja. potret objek di dua waktu yang berbeda lalu bandingkan &amp; ukur sudutnya. tetapi secara teknis tentu saja memerlukan peralatan yang memiliki akurasi tinggi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dodo</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-3/#comment-3402</link>
		<dc:creator>Dodo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 02:59:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-3402</guid>
		<description>Assalamualaikum...

Senang sekali saya menemukan situs ini..
Mas saya mau tanya,untuk mengukur sudut paralaknya caranya gmana?atau sudah ada alatnya??

Terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum&#8230;</p>
<p>Senang sekali saya menemukan situs ini..<br />
Mas saya mau tanya,untuk mengukur sudut paralaknya caranya gmana?atau sudah ada alatnya??</p>
<p>Terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sigondrong dari Gua Hiro</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-1/#comment-2842</link>
		<dc:creator>Sigondrong dari Gua Hiro</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 10:22:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-2842</guid>
		<description>Dan suatu tanda  bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.(37)
dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.(38)
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga  kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua .(39)
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.(40)

Sepertinya tidak ada yg mengatakan bahwa bumi hanya berotasi dan tidak berevolusi? bisa minta tolong lebih diperjelas bagian mana yg mengatakan bahwa bumi hanya berotasi dan tidak berevolusi?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dan suatu tanda  bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.(37)<br />
dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.(38)<br />
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga  kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua .(39)<br />
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.(40)</p>
<p>Sepertinya tidak ada yg mengatakan bahwa bumi hanya berotasi dan tidak berevolusi? bisa minta tolong lebih diperjelas bagian mana yg mengatakan bahwa bumi hanya berotasi dan tidak berevolusi?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: E.P Arumaningtyas</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-3/#comment-803</link>
		<dc:creator>E.P Arumaningtyas</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 06:01:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-803</guid>
		<description>Nambahin...

Setahu saya kenapa Cepheid dipilih karena dia memiliki hubungan Perioda-Luminositas. Dimana hubungan tersebut masih terus diperbaharui sampai sekarang.

Dari Key Project HST didapat :
Mv = -2.760LogP-1.458
MI = -2.962LogP-1.942

Data paralaks trigonometri Large Magelanic Cloud (LMC) oleh HST mendapatkan:
Mv = -2.81LogP-1.43
(Weinberg-Cosmology)
kalibrasinya :
dari data paralaks --&gt; tahu jarak --&gt; pake hk kuadrad perbandingan tahu L (diubah jadi satuan mag)--&gt; diplot vs Periode --&gt; dipake ngalibrasi cepheid yang lebih jauh lagi..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nambahin&#8230;</p>
<p>Setahu saya kenapa Cepheid dipilih karena dia memiliki hubungan Perioda-Luminositas. Dimana hubungan tersebut masih terus diperbaharui sampai sekarang.</p>
<p>Dari Key Project HST didapat :<br />
Mv = -2.760LogP-1.458<br />
MI = -2.962LogP-1.942</p>
<p>Data paralaks trigonometri Large Magelanic Cloud (LMC) oleh HST mendapatkan:<br />
Mv = -2.81LogP-1.43<br />
(Weinberg-Cosmology)<br />
kalibrasinya :<br />
dari data paralaks &#8211;> tahu jarak &#8211;> pake hk kuadrad perbandingan tahu L (diubah jadi satuan mag)&#8211;> diplot vs Periode &#8211;> dipake ngalibrasi cepheid yang lebih jauh lagi..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zulkarnaen SL.</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-3/#comment-801</link>
		<dc:creator>Zulkarnaen SL.</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 15:08:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-801</guid>
		<description>Saya berusaha ngerti jarak paralaks dari dulu gk ngerti-ngerti... Baca artikel ini jd tau, meski masih blm bisa menerangkan ke orang lain... Tengkiyu Mas... Moga jadi amal jariyah Mas.... Amin.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya berusaha ngerti jarak paralaks dari dulu gk ngerti-ngerti&#8230; Baca artikel ini jd tau, meski masih blm bisa menerangkan ke orang lain&#8230; Tengkiyu Mas&#8230; Moga jadi amal jariyah Mas&#8230;. Amin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kamar Berjarak Sejauh Bintang &#171; Ahya al Qadr&#39;s Blog</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-3/#comment-775</link>
		<dc:creator>Kamar Berjarak Sejauh Bintang &#171; Ahya al Qadr&#39;s Blog</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 02:58:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-775</guid>
		<description>[...] jarak sebuah bintang. Adalah Friedrich Bessel yang pertama kali berhasil menghitungnya dengan metode Paralaks. Astronom Jerman itu berhasil mengamati bintang 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] jarak sebuah bintang. Adalah Friedrich Bessel yang pertama kali berhasil menghitungnya dengan metode Paralaks. Astronom Jerman itu berhasil mengamati bintang 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kamar Berjarak Sejauh Bintang &#171; My Mind</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-3/#comment-774</link>
		<dc:creator>Kamar Berjarak Sejauh Bintang &#171; My Mind</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 15:10:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-774</guid>
		<description>[...] jarak sebuah bintang. Adalah Friedrich Bessel yang pertama kali berhasil menghitungnya dengan metode Paralaks. Astronom Jerman itu berhasil mengamati bintang 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] jarak sebuah bintang. Adalah Friedrich Bessel yang pertama kali berhasil menghitungnya dengan metode Paralaks. Astronom Jerman itu berhasil mengamati bintang 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kamar Berjarak Sejauh Bintang bahtiarhs.net in Kultum &#124; bahtiarhs.net</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-3/#comment-771</link>
		<dc:creator>Kamar Berjarak Sejauh Bintang bahtiarhs.net in Kultum &#124; bahtiarhs.net</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 06:44:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-771</guid>
		<description>[...] jarak sebuah bintang. Adalah Friedrich Bessel yang pertama kali berhasil menghitungnya dengan metode Paralaks. Astronom Jerman itu berhasil mengamati bintang 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] jarak sebuah bintang. Adalah Friedrich Bessel yang pertama kali berhasil menghitungnya dengan metode Paralaks. Astronom Jerman itu berhasil mengamati bintang 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Danau Toba</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-657</link>
		<dc:creator>Danau Toba</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 08:07:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-657</guid>
		<description>Ditulisan ini sampai tahun 1980 jarak bintang yang dihitung baru ratusan buah, sampai tahun 1990 baru ratusan ribu buah. Yang saya bingung sampai sekarang bintang yang ada di Bimasakti katanya ada jutaan buah. Sampai bisa digambarkan bentuk Bima sakti dari letak2 bintang yang diketahui jaraknya. Dapat dari mana jarak bintang (Jutaan dikurangi ratusan ribu)sehingga bisa menggambarkan bentuk Galaksi? Jangan2 gambar ini cuma HOAX.

&lt;blockquote&gt;yang dimaksud ratusan dan ribuan buah di tahun 1980 dan 1990 adalah bintang yang diketahui jaraknya. sedangkan jumlah bintang di galaksi bimasakti memang jutaan buah, namun tidak semuanya kita ketahui jaraknya. nah, dari bintang-bintang yang kita ketahui jaraknya itulah kita bisa membuat gambaran bentuk galaksi kita. tapi pengetahuan itu diperoleh bukan hanya dari pengamatan bintang saja,  melainkan dengan pengamatan pada panjang gelombang lain seperti inframerah dan radio. jadi, sekali lagi kami tegaskan bahwa gambar tersebut bukan hoax, tapi hasil dari penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulisan ini sampai tahun 1980 jarak bintang yang dihitung baru ratusan buah, sampai tahun 1990 baru ratusan ribu buah. Yang saya bingung sampai sekarang bintang yang ada di Bimasakti katanya ada jutaan buah. Sampai bisa digambarkan bentuk Bima sakti dari letak2 bintang yang diketahui jaraknya. Dapat dari mana jarak bintang (Jutaan dikurangi ratusan ribu)sehingga bisa menggambarkan bentuk Galaksi? Jangan2 gambar ini cuma HOAX.</p>
<blockquote><p>yang dimaksud ratusan dan ribuan buah di tahun 1980 dan 1990 adalah bintang yang diketahui jaraknya. sedangkan jumlah bintang di galaksi bimasakti memang jutaan buah, namun tidak semuanya kita ketahui jaraknya. nah, dari bintang-bintang yang kita ketahui jaraknya itulah kita bisa membuat gambaran bentuk galaksi kita. tapi pengetahuan itu diperoleh bukan hanya dari pengamatan bintang saja,  melainkan dengan pengamatan pada panjang gelombang lain seperti inframerah dan radio. jadi, sekali lagi kami tegaskan bahwa gambar tersebut bukan hoax, tapi hasil dari penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: shin</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-654</link>
		<dc:creator>shin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 06:42:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-654</guid>
		<description>like this..! nambah pengetahuan.. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>like this..! nambah pengetahuan.. <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ahmad</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-650</link>
		<dc:creator>Ahmad</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 09:18:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-650</guid>
		<description>aku suka masalah perbintangan, terima kasih atas cara perhitungannya, kalo bisa ada perhitungan kematian (nujum)

&lt;blockquote&gt;setahu kami, nujum adalah ilmu astrologi, bukan astronomi. jadi kami tidak akan membahasnya.
&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku suka masalah perbintangan, terima kasih atas cara perhitungannya, kalo bisa ada perhitungan kematian (nujum)</p>
<blockquote><p>setahu kami, nujum adalah ilmu astrologi, bukan astronomi. jadi kami tidak akan membahasnya.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: geboy</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-272</link>
		<dc:creator>geboy</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 04:06:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-272</guid>
		<description>Mencoba menjawab pertanyaan Anton dalam comment pertamax:

1. Pin, gimana cara mengalibrasi paralaks bintang dengan variabel cepheid?
Menurut saya, sepertinya susah meng-kalibrasi paralaks dengan variabel Cepheid. Penentuan jarak dengan metode paralaks dan metode variabel Cepheid berada dalam domain yang berbeda. Paralaks tentu saja yang paling akurat tetapi hanya untuk bintang2 dekat, sementara metode variabel Cepheid mengandalkan hubungan periode-luminositas --&gt; periode diketahui, luminositas diketahui, dan rumus modulus jarak digunakan.

Mencoba menjawab pertanyaan Hanif dalam comment pertamax:

2. kapan sebenarnya metode penentuan jarak dengan paralaks ini ditemukan. dan bintang apa yang ditentukan jaraknya pertama kali dengan metode ini.

Mungkin koment saya sebelum ini bisa menjawab :-). Bintang yang pertama kali ditentukan jaraknya dengan metode ini ya 61 Cygni oleh Friedrich Bessel.


&lt;blockquote&gt;
1. justru kalibrasi jarak harus dilakukan dari sebuah bintang yang jaraknya dihitung dari 2 metode yang berbeda.

2. sudah saya komentari juga di bawah  :-)

terima kasih lagi buat jawabannya
&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mencoba menjawab pertanyaan Anton dalam comment pertamax:</p>
<p>1. Pin, gimana cara mengalibrasi paralaks bintang dengan variabel cepheid?<br />
Menurut saya, sepertinya susah meng-kalibrasi paralaks dengan variabel Cepheid. Penentuan jarak dengan metode paralaks dan metode variabel Cepheid berada dalam domain yang berbeda. Paralaks tentu saja yang paling akurat tetapi hanya untuk bintang2 dekat, sementara metode variabel Cepheid mengandalkan hubungan periode-luminositas &#8211;&gt; periode diketahui, luminositas diketahui, dan rumus modulus jarak digunakan.</p>
<p>Mencoba menjawab pertanyaan Hanif dalam comment pertamax:</p>
<p>2. kapan sebenarnya metode penentuan jarak dengan paralaks ini ditemukan. dan bintang apa yang ditentukan jaraknya pertama kali dengan metode ini.</p>
<p>Mungkin koment saya sebelum ini bisa menjawab <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Bintang yang pertama kali ditentukan jaraknya dengan metode ini ya 61 Cygni oleh Friedrich Bessel.</p>
<blockquote><p>
1. justru kalibrasi jarak harus dilakukan dari sebuah bintang yang jaraknya dihitung dari 2 metode yang berbeda.</p>
<p>2. sudah saya komentari juga di bawah  <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>terima kasih lagi buat jawabannya
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: geboy</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-270</link>
		<dc:creator>geboy</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 08:44:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-270</guid>
		<description>Sedikit menambahkan, orang yang menemukan paralaks bukanlah Friedrich Bessel. Bessel adalah orang pertama yang berhasil menerapkan konsep tersebut pada pengukuran jarak bintang. Aristarkhus pada abad ke-3 SM menggunakan prinsip tersebut untuk pengukuran jarak matahari dan bulan (tentu saja dengan keakuratan yang sangat kurang) dan Eratosthenes menggunakannya untuk mengukur keliling bumi.


&lt;blockquote&gt;maksud saya juga begitu, pertama kali mengamati paralaks pada bintang, bukan menemukan metode paralaks secara umumnya. lalu jangan lupa, walaupun kita tahu aristarchus menggunakan prinsip paralaks di pengamatannya, tetapi apakah aristarchuslah yang menemukan prinsip paralaks pertama kali? sampai sekarang kami belum tahu jawabannya
&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sedikit menambahkan, orang yang menemukan paralaks bukanlah Friedrich Bessel. Bessel adalah orang pertama yang berhasil menerapkan konsep tersebut pada pengukuran jarak bintang. Aristarkhus pada abad ke-3 SM menggunakan prinsip tersebut untuk pengukuran jarak matahari dan bulan (tentu saja dengan keakuratan yang sangat kurang) dan Eratosthenes menggunakannya untuk mengukur keliling bumi.</p>
<blockquote><p>maksud saya juga begitu, pertama kali mengamati paralaks pada bintang, bukan menemukan metode paralaks secara umumnya. lalu jangan lupa, walaupun kita tahu aristarchus menggunakan prinsip paralaks di pengamatannya, tetapi apakah aristarchuslah yang menemukan prinsip paralaks pertama kali? sampai sekarang kami belum tahu jawabannya
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: iwan</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-257</link>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 03:34:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-257</guid>
		<description>sangat bermafaat untuk sy yg lg kuliah ilmu geografi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sangat bermafaat untuk sy yg lg kuliah ilmu geografi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: titis</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-271</link>
		<dc:creator>titis</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 08:24:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-271</guid>
		<description>mkch ats bngt atas infonyA...
INI yang akko cari!!!!!!!!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mkch ats bngt atas infonyA&#8230;<br />
INI yang akko cari!!!!!!!!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Trenyenk</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-273</link>
		<dc:creator>Trenyenk</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 10:36:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-273</guid>
		<description>terima kasih Bang, terjawab sudah pertanyaan di benak saya selama ini. terus berkarya ya. dan sajikan info2 menarik lainnya..

regard.


&lt;blockquote&gt;
terima kasih juga karena sudah berkunjung. saya akan berusaha untuk terus berkarya :-) &lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih Bang, terjawab sudah pertanyaan di benak saya selama ini. terus berkarya ya. dan sajikan info2 menarik lainnya..</p>
<p>regard.</p>
<blockquote><p>
terima kasih juga karena sudah berkunjung. saya akan berusaha untuk terus berkarya <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  </p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Afandi Belajar mengamati bintang</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-256</link>
		<dc:creator>Afandi Belajar mengamati bintang</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 07:06:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-256</guid>
		<description>wow harus sangat teliti ya
jarak bintang-bintang itu sangat jauh ya
jadi bintang yang paling besar pun sangat tidak ada artinya dibanding jaraknya.
belum lagi jarak galaksi dengan galaksi yang lainnya ya.
terus jarak kelompok galaksi dengan kelompok galaksi yang lainnya.
matahari tidak ada apa-apanya.
apa lagi bumi.
apalagi diriku
yang duduk di sudut ruangan di sudut kawasan di sudut pulau Jawa
wow kecil sekali.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wow harus sangat teliti ya<br />
jarak bintang-bintang itu sangat jauh ya<br />
jadi bintang yang paling besar pun sangat tidak ada artinya dibanding jaraknya.<br />
belum lagi jarak galaksi dengan galaksi yang lainnya ya.<br />
terus jarak kelompok galaksi dengan kelompok galaksi yang lainnya.<br />
matahari tidak ada apa-apanya.<br />
apa lagi bumi.<br />
apalagi diriku<br />
yang duduk di sudut ruangan di sudut kawasan di sudut pulau Jawa<br />
wow kecil sekali.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: jatra</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-2/#comment-266</link>
		<dc:creator>jatra</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 09:53:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-266</guid>
		<description>mas mamets
ayat yang mana yang menunjukkan bumi diam dan semua mengelilingi bumi ?
37. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.
38. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

(matahari dalam skala yang lebih besar juga beredar bersama-sama bumi dan tata surya)

39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267].
40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

(semua bahasa khiasan. justru ayat ke 40 terakhir berbunyi &quot;Dan masing-masing beredar pada garis edarnya&quot; (termasuk bumi).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mas mamets<br />
ayat yang mana yang menunjukkan bumi diam dan semua mengelilingi bumi ?<br />
37. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.<br />
38. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.</p>
<p>(matahari dalam skala yang lebih besar juga beredar bersama-sama bumi dan tata surya)</p>
<p>39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267].<br />
40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.</p>
<p>(semua bahasa khiasan. justru ayat ke 40 terakhir berbunyi &#8220;Dan masing-masing beredar pada garis edarnya&#8221; (termasuk bumi).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hanief</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/comment-page-1/#comment-268</link>
		<dc:creator>hanief</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 13:53:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199#comment-268</guid>
		<description>saya muslim kok, dan saya percaya bahwa bumi berotasi dan berevolusi.

saya sedang membuat artikel tentang rotasi dan revolusi bumi, semoga nanti dapat mencerahkan :-)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya muslim kok, dan saya percaya bahwa bumi berotasi dan berevolusi.</p>
<p>saya sedang membuat artikel tentang rotasi dan revolusi bumi, semoga nanti dapat mencerahkan <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

