<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Astronomi</title>
	<atom:link href="http://duniaastronomi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://duniaastronomi.com</link>
	<description>Situs Astronomi Populer Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Feb 2010 02:03:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kalender Astronomi 2010</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/02/kalender-astronomi-2010/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/02/kalender-astronomi-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 02:03:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Instrumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kalender astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Ingin tahu ada peristiwa astronomi apa yang terjadi setiap hari sepanjang tahun 2010? Seperti kapan puncak hujan meteor Orionid, kapan oposisi Jupiter, atau kapan gerhana Bulan akan terjadi. Atau ingin menikmati foto-foto astronomi spektakuler yang direkam tanpa teleskop?
Untuk menjawabnya, Anda memerlukan Kalender Astronomi 2010. Kalender meja ini dilengkapi dengan tanggal dan jam terjadinya peristiwa astronomi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ingin tahu ada peristiwa astronomi apa yang terjadi setiap hari sepanjang tahun 2010? Seperti kapan puncak hujan meteor Orionid, kapan oposisi Jupiter, atau kapan gerhana Bulan akan terjadi. Atau ingin menikmati foto-foto astronomi spektakuler yang direkam tanpa teleskop?</p>
<p>Untuk menjawabnya, Anda memerlukan Kalender Astronomi 2010. Kalender meja ini dilengkapi dengan tanggal dan jam terjadinya peristiwa astronomi yang menarik untuk diamati dengan teleskop atau dengan mata telanjang sekalipun. Dan di setiap bulannya kami juga tampilkan koleksi foto dari Dunia Astronomi.</p>
<div class="mceIEcenter">
<dl id="attachment_6" class="aligncenter">
<dt><img title="1931_edit" src="http://produk.duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/01/1931_edit-300x225.jpg" alt="Kalender Astronomi" width="300" height="225" /></dt>
<dd>Kalender Astronomi</dd>
</dl>
</div>
<p>Kalender Astronomi 2010 ini bisa Anda dapatkan dengan harga Rp. 30.000,00 per buah, sudah termasuk bonus sticker <em>reflective</em>. Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim dari Bandung dengan jasa kurir Tiki (Anda juga bisa menggunakan jasa kurir pilihan Anda sendiri asalkan jasa tersebut punya kantor di Bandung). Pembelian lebih banyak akan kami berikan harga yang lebih murah. Kami juga melayani pembelian langsung di tempat (Bandung), dengan membuat janji terlebih dahulu.</p>
<div class="mceIEcenter">
<dl id="attachment_8" class="aligncenter">
<dt><a href="http://produk.duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/01/1915_crop.jpg"><img title="1915_crop" src="http://produk.duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/01/1915_crop-300x229.jpg" alt="Agustus di Kalender Astronomi" width="300" height="229" /></a></dt>
<dd>Agustus di Kalender Astronomi</dd>
</dl>
</div>
<p>Cara pemesanannya lihat di halaman <a title="Produk Dunia Astronomi" href="http://produk.duniaastronomi.com/2010/01/kalender-astronomi-2010/">Produk Dunia Astronomi</a></p>
<p>Stok kami terbatas, jadi jangan sampai kehabisan. Semoga kalender ini dapat memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan, demi astronomi Indonesia yang lebih baik.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F02%2Fkalender-astronomi-2010%2F&amp;linkname=Kalender%20Astronomi%202010"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/02/kalender-astronomi-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Matahari dengan Aman</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/01/menikmati-matahari-dengan-aman/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/01/menikmati-matahari-dengan-aman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 05:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>FDRahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Matahari sebagai bintang terdekat dari bumi tentunya bisa kita amati dan abadikan keindahannya dengan menggunakan alat-alat optik. Seperti teleskop, binokular, dan kamera digital. Pancaran matahari yang memasuki bumi dan kemudian difokuskan oleh alat optik akan mengakibatkan kerusakan pada retina mata apabila intensitasnya tidak dikurangi. Hal ini bisa dibuktikan apabila kita meletakkan kertas di bawah kaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matahari sebagai bintang terdekat dari bumi tentunya bisa kita amati dan abadikan keindahannya dengan menggunakan alat-alat optik. Seperti teleskop, binokular, dan kamera digital. Pancaran matahari yang memasuki bumi dan kemudian difokuskan oleh alat optik akan mengakibatkan kerusakan pada retina mata apabila intensitasnya tidak dikurangi. Hal ini bisa dibuktikan apabila kita meletakkan kertas di bawah kaca pembesar dan diarahkan ke matahari, seketika kertas akan terbakar. Sehingga untuk mengurangi intensitas cahayanya yang terlalu besar mutlak diperlukan filter matahari.<span id="more-339"></span></p>
<p>Filter matahari biasanya terbuat dari bahan kaca yang dilapisi campuran nikel dan kromium atau terbuat dari milar yang dilapisi dengan logam. Filter jenis ini bisa didapatkan di vendor-vendor penyedia filter matahari sebagai berikut,</p>
<p><a href="www.astro-physics.com">www.astro-physics.com</a></p>
<p><a href="www.baader-planetarium.com">www.baader-planetarium.com</a></p>
<p><a href="www.coronadofilters.com">www.coronadofilters.com</a></p>
<p><a href="www.kendrick-ai.com">www.kendrick-ai.com</a></p>
<p><a href="www.OrionTelescopes.com">www.OrionTelescopes.com</a></p>
<p><a href="www.rainbowsymphony.com">www.rainbowsymphony.com</a></p>
<p><a href="www.SeymourSolar.com">www.SeymourSolar.com</a></p>
<p><a href="www.thousandoaksoptical.com">www.thousandoaksoptical.com</a></p>
<p>Untuk pengamatan matahari secara langsung dapat digunakan filter dari bahan yang sederhana. Filter matahari aman digunakan apabila kerapatan optiknya 5 atau lebih. Filter dapat dikatakan aman apabila memiliki kekedapan yang baik terhadap sinar UV dan Inframerah.</p>
<p>Bahan sederhana yang aman digunakan untuk fiter matahari film hitam putih (Kodak TMAX 100 atau Kodak PlusX sudah diuji dan aman untuk pengamatan matahari ataupun gerhana matahari secara langsung). Bahan jenis ini aman karena memiliki lapisan perak setelah film dicuci. Bagaimana cara membuat filter matahari ini? Sediakan satu rol film hitam-putih dan 2 lembar kertas karton (ukuran dapat disesuaikan dengan besarnya potongan film). Pertama, buka semua rol film dan paparkan di cahaya matahari selama 60 detik. Setelah film terbakar, cuci film ini seperti biasanya. Apabila kita akan memprosesnya di Foto Studio, sertakan catatan bahwa film ini memang sudah terbakar dan minta untuk jangan memotong negative film ini. Setelah itu, potong negative film ini dengan ukuran sekitar 5 x 5 cm (tergantung kebutuhan). Agar filter jenis ini aman digunakan, tempelkan 2 potongan negative film ini. Dan tempelkan ke kartas karton yang sebelumnya telah kita beri lubang. Filter ini pun siap digunakan untuk pengamatan matahari secara langsung. Sebagai catatan jangan gunakan hanya satu lapis negative film hitam putih ataupun negative film warna. Film warna tidak memiliki lapisan perak yang dapat melindungi retina mata. Selain itu film warna tidak memiliki kekedapan yang cukup pada pancaran gelombang infra merah. Hampir 50 % radiasi infra merah diteruskan dengan filter film warna.</p>
<p>Sedangkan untuk Floppy disk dan CD tidak begitu aman sebagai bahan filter matahari. Hal ini disebabkan oleh tidak seragamnya kualitas produk ini. Terdapat beberapa produk CD hanya dilapisi film aluminium yang tipis. Mengenai keamanan berbagai bahan filter pernah dilakukan pengetesan oleh Ralph Chou dan inilah hasil yang diperolehnya,</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-342" title="filter" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/01/filter.jpg" alt="filter" width="509" height="672" /></p>
<p>Sumbu y menggambarkan tingkat kekedapan filter, semakin besar bilangannya berarti semakin aman filter tersebut. Sedangkan sumbu y adalah radiasi dalam pancaran ultraviolet dan infra merah.</p>
<p>Selamat menikmati indahnya matahari. Have a clear skies!!</p>
<p>sumber utama : www.mreclipse.com</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F01%2Fmenikmati-matahari-dengan-aman%2F&amp;linkname=Menikmati%20Matahari%20dengan%20Aman"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/01/menikmati-matahari-dengan-aman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan Sebagian dan Gerhana Matahari Cincin Di Awal Tahun 2010</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/01/gbs-dan-gmc-di-awal-tahun-2010/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/01/gbs-dan-gmc-di-awal-tahun-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 07:52:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana bulan sebagian]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana matahari cincin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Selamat tahun baru semuanya! Ya, tahun 2009 sudah diganti dengan tahun 2010. Walaupun Tahun Astronomi Internasional sudah berakhir, janganlah bersedih terlalu lama karena di awal tahun 2010 ini ada dua peristiwa astronomi yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Yang satu sudah terlewati, yang satu lagi belum. Mari kita bersiap untuk mengamatinya.
Peristiwa spektakuler pertama di tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat tahun baru semuanya! Ya, tahun 2009 sudah diganti dengan tahun 2010. Walaupun Tahun Astronomi Internasional sudah berakhir, janganlah bersedih terlalu lama karena di awal tahun 2010 ini ada dua peristiwa astronomi yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Yang satu sudah terlewati, yang satu lagi belum. Mari kita bersiap untuk mengamatinya.<span id="more-282"></span></p>
<p>Peristiwa spektakuler pertama di tahun 2010 ini adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS), yang terjadi kurang dari 30 menit setelah pergantian tahun. Proses gerhana itu dimulai dengan masuknya Bulan ke penumbra Bumi pada pukul 00.17 WIB. Namun dengan mata telanjang, kita akan kesulitan melihat perbedaan kenampakan Bulan saat ini dengan sebelum gerhana terjadi. Kita baru bisa melihat pemandangan yang membuat kita menahan nafas ketika waktu menunjukkan pukul 01.53 WIB, yaitu saat Bulan mulai memasuki umbra Bumi. Bagian tepi Bulan akan perlahan menghitam sedikit demi sedikit hingga mencapai puncaknya pada pukul 02.24 WIB dan kembali seperti semula pada pukul 02.53 WIB. Proses GBS ini berakhir seluruhnya pada pukul 04.28 WIB. Kami berhasil melakukan pengamatan dan pemotretan saat itu dan di bawah ini adalah hasilnya.</p>
<div id="attachment_308" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/01/gbs20100101b.png"><img class="size-medium wp-image-308" title="GBS 20100101" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/01/gbs20100101b-300x152.png" alt="Gerhana Bulan Sebagian 1 Januari 2010" width="300" height="152" /></a><p class="wp-caption-text">Gerhana Bulan Sebagian 1 Januari 2010</p></div>
<p>Apabila saat itu Anda tidak sempat menyaksikan GBS, peristiwa gerhana berikut mungkin bisa Anda masukkan dalam jadwal sebagai salah satu peristiwa yang kami rekomendasikan untuk diamati. Peristiwa yang kami maksud adalah Gerhana Matahari Cincin (GMC) pada tanggal 15 Januari 2010. Namun dari Indonesia, yang bisa kita amati hanyalah Gerhana Matahari Sebagian (GMS) saja, karena tidak ada daerah di Indonesia yang dilalui oleh jalur totalitasnya, tidak seperti <a href="http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/">GMC 26 Januari 2009</a> yang lalu.</p>
<p>Daerah di Indonesia yang dapat menyaksikan gerhana nanti adalah seluruh Sumatra dan Kalimantan, bagian barat pulau Jawa, dan bagian utara pulau Sulawesi. Meskipun begitu, proses GMS akan bisa kita saksikan lebih baik apabila kita berada di wilayah barat Indonesia. Di sana gerhana akan berlangsung lebih lama dan piringan Matahari yang tertutup oleh Bulan juga lebih banyak dibandingkan dengan pengamatan di daerah timur.</p>
<div id="attachment_310" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/01/ats_0132010.gif"><img class="size-full wp-image-310" title="Animasi GMC" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/01/ats_0132010.gif" alt="Animasi GMC 15 Jan 2010" width="250" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">Animasi GMC 15 Jan 2010. Sumber: eclipse.org.uk</p></div>
<p>Untuk pengamat yang berada di Banda Aceh, gerhana dimulai pada sekitar pukul 13.40 WIB dan berakhir pada pukul 16.40 WIB. Luas daerah piringan Matahari yang tertutupi Bulan mencapai 46% pada saat maksimumnya, yaitu pada sekitar pukul 15.20 WIB. Jumlah tersebut jauh lebih besar daripada hasil pengamatan di Manado yang hanya menutupi 0,3% daerah piringan Matahari saja. Di bawah ini adalah animasi kenampakan gerhana Matahari dari 4 kota di Indonesia, yaitu Banda Aceh, Jakarta, Semarang, dan Manado (semuanya berumber dari <a title="Eclipses Online" href="http://eclipse.org.uk">eclipse.org.uk</a>). Untuk melihat animasi kenampakan gerhana dari daerah lainnya, silakan kunjungi <a title="Eclipses Online" href="http://www.eclipse.org.uk/">situs tersebut</a>.</p>
<p><code>
<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-2-282">


	<!-- Piclense link -->
	<div class="piclenselink">
		<a class="piclenselink" href="javascript:PicLensLite.start({feedUrl:'http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/nextgen-gallery/xml/media-rss.php?gid=2&amp;mode=gallery'});">
			[View with PicLens]		</a>
	</div>
	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-3" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/gallery/gmc20100115/banda_aceh_indonesia_2010jan15_anim.gif" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="banda_aceh_indonesia_2010jan15_anim" alt="banda_aceh_indonesia_2010jan15_anim" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/gallery/gmc20100115/thumbs/thumbs_banda_aceh_indonesia_2010jan15_anim.gif"  />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-4" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/gallery/gmc20100115/jakarta_indonesia_2010jan15_anim.gif" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="jakarta_indonesia_2010jan15_anim" alt="jakarta_indonesia_2010jan15_anim" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/gallery/gmc20100115/thumbs/thumbs_jakarta_indonesia_2010jan15_anim.gif"  />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-5" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/gallery/gmc20100115/manado_indonesia_2010jan15_anim.gif" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="manado_indonesia_2010jan15_anim" alt="manado_indonesia_2010jan15_anim" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/gallery/gmc20100115/thumbs/thumbs_manado_indonesia_2010jan15_anim.gif"  />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-6" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/gallery/gmc20100115/semarang_indonesia_2010jan15_anim.gif" title=" " class="shutterset_set_2" >
								<img title="semarang_indonesia_2010jan15_anim" alt="semarang_indonesia_2010jan15_anim" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/gallery/gmc20100115/thumbs/thumbs_semarang_indonesia_2010jan15_anim.gif"  />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>

</code></p>
<p>PERINGATAN. Satu hal penting yang HARUS DIPERHATIKAN ketika mengamati Matahari adalah kita tidak boleh melihatnya secara langsung baik dengan mata telanjang ataupun dengan alat optik seperti kamera, binokular, ataupun teleskop. Melakukan hal tersebut dapat mengakibatkan KERUSAKAN MATA sementara ataupun permanen (KEBUTAAN). Amati Matahari dengan menggunakan filter yang aman, dan jangan melihatnya secara terus menerus. Amati paling lama 2 menit, kemudian berhenti dan baru amati lagi setelah 3 menit. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kerusakan pada mata seandainya ada cacat pada filter yang kita gunakan. Baca juga <a href="http://bibirsumur.wordpress.com/2009/01/08/menikmati-matahari-dengan-aman/">halaman ini</a>. Selamat melakukan pengamatan.</p>
<p><em>Tulisan ini juga dapat dibaca di <a href="http://langitselatan.com/2010/01/04/gerhana-bulan-sebagian-dan-gerhana-matahari-cincin-di-awal-tahun-2010/">halaman ini</a></em></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F01%2Fgbs-dan-gmc-di-awal-tahun-2010%2F&amp;linkname=Gerhana%20Bulan%20Sebagian%20dan%20Gerhana%20Matahari%20Cincin%20Di%20Awal%20Tahun%202010"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/01/gbs-dan-gmc-di-awal-tahun-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Bulan Lebih Dekat</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/08/mengenal-bulan-lebih-dekat/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/08/mengenal-bulan-lebih-dekat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 08:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah pembentukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Bulan (Moon dalam bahasa Inggris, Luna dalam bahasa Romawi, Artemis dalam bahasa Yunani) adalah satu-satunya satelit alami yang Bumi miliki. Jika dilihat dari posisinya, Bulan adalah benda angkasa yang paling dekat dari Bumi. Bulan juga menjadi benda kedua yang paling terang di langit setelah Matahari (magnitudo Bulan -12,7, Matahari -26,4) dan satu-satunya benda langit yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan (Moon dalam bahasa Inggris, Luna dalam bahasa Romawi, Artemis dalam bahasa Yunani) adalah satu-satunya satelit alami yang Bumi miliki. Jika dilihat dari posisinya, Bulan adalah benda angkasa yang paling dekat dari Bumi. Bulan juga menjadi benda kedua yang paling terang di langit setelah Matahari (magnitudo Bulan -12,7, Matahari -26,4) dan satu-satunya benda langit yang permukaannya dapat diamati dengan mudah.<span id="more-251"></span></p>
<p>Permukaan Bulan<br />
Dari Bumi, kita bisa melihat Bulan dengan cukup jelas tanpa menggunakan alat bantu optik seperti teleskop dan binokular. Tampaklah bahwa Bulan memiliki permukaan yang kecerahannya tidak seragam, ada bagian yang terang dan ada yang gelap. Dan secara sekilas, Bulan tampak memiliki permukaan yang datar/halus. Begitulah anggapan masyarakat di jaman dahulu. Pandangan tersebut baru berubah ketika Galileo menggunakan teleskopnya untuk mengamati Bulan 400 tahun yang lalu (inilah latar belakang pencanangan tahun 2009 ini sebagai Tahun Astronomi Internasional atau IYA 2009). Galileo mendapati bahwa permukaan Bulan tidaklah rata, tetapi berbukit-bukit dan memiliki banyak kawah. Dan karakteristik permukaan Bulan itu juga berhubungan dengan kecerahannya. Daerah yang tampak terang memiliki permukaan yang berbukit-bukit dan penuh kawah, sedangkan daerah yang tampak lebih gelap adalah permukaan yang memiliki sedikit kawah. Mereka pun kemudian memberikan nama dataran tinggi untuk bagian yang terang dan penuh dengan kawah, serta &#8220;mare&#8221; (berarti laut dalam bahasa Latin) untuk bagian yang gelap dan sedikit kawah. Penamaan lautan ini, sebenarnya adalah sebuah salah kaprah karena di Bulan tidak ada laut, dilakukan karena dataran gelap tersebut tampak seperti lautan.</p>
<p>Perbedaan kecerahan di permukaan Bulan itu ternyata disebabkan oleh perbedaan material batuan yang terkandung di kedua kawasan itu. Batuan yang berada di bagian dataran tinggi adalah anorthosit yang mengandung banyak kalsium dan aluminum silikat. Sedangkan batuan yang menyusun mare adalah basalt, suatu lava beku yang banyak mengandung besi, magnesium, dan titanium silikat. Pengetahuan ini sudah dikonfirmasi dengan contoh batuan yang diambil dari Bulan, yang berjumlah tidak kurang dari 382 kg.</p>
<p>Berbeda dengan Bumi, Bulan tidaklah memiliki atmosfer. Ada dua alasan yang menyebabkannya. Alasan yang pertama adalah karena bagian dalam Bulan terlalu dingin untuk hadirnya aktivitas vulkanik. Di Bumi, aktivitas vulkanik termasuk salah satu penghasil gas dan pembentuk atmosfer di masa awal pembentukannya. Sementara alasan kedua memegang peranan yang lebih penting lagi, yaitu karena massa Bulan terlalu kecil sehingga gaya gravitasi yang dihasilkan tidak cukup untuk menahan gas-gas yang terbentuk. Kecepatan lepas di Bulan hanyalah 2,4 km/detik, bandingkan dengan kecepatan lepas di Bumi yang sebesar 11,2 km/detik. Dengan kecepatan lepas sekecil itu, gas yang ada di Bulan dapat bergerak lepas dari pengaruh gravitasi Bulan, sehingga tidak ada udara di permukaannya.</p>
<p>Ketiadaan atmosfer di Bulan menyebabkan banyaknya kawah di permukaannya. Benda-benda yang mengarah ke Bulan, yang berukuran besar ataupun kecil, dapat langsung menumbuk permukaannya tanpa ada penghambat. Berbeda dengan Bumi karena atmosfernya menyebabkan benda-benda asing yang mengarah ke Bumi akan mengalami gesekan hingga berpijar, terkikis, dan berkurang ukurannya. Peristiwa berpijarnya benda asing yang masuk ke atmosfer Bumi ini kita lihat sebagai meteor. Akibatnya, benda-benda yang kecil akan habis terbakar dan hanya benda-benda yang cukup besar saja yang akan menumbuk permukaan sehingga kawah yang ditemukan di permukaan Bumi tidaklah sebanyak di Bulan.</p>
<p>Dari usia batuan di daerah dataran tingginya, tumbukan-tumbukan benda asing yang menghasilkan kawah di permukaan Bulan diperkirakan terjadi tidak lama setelah Bulan terbentuk, yaitu pada sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Dan di masa-masa awal setelah Bulan terbentuk itu, material yang berada di bagian permukaan sudah mulai mengeras sementara di dalamnya masih berada dalam bentuk lelehan. Sebelum bagian keraknya menebal, sebuah benda asing yang cukup besar menumbuk Bulan hingga material lava di dalamnya mengalir keluar dan mengisi kawah yang terbentuk. Peristiwa inilah yang menghasilkan mare di Bulan. Setelah mare terbentuk, hanya sedikit benda asing yang menumbuknya sehingga bagian mare hanya memiliki sedikit kawah seperti yang sekarang kita amati.</p>
<p>Fase Bulan<br />
Sebagai satelit Bumi, Bulan bergerak mengelilingi Bumi dengan periode 27,3 hari (periode revolusi). Uniknya, periode revolusi Bulan itu sama dengan periode rotasinya (berputar pada porosnya), sehingga wajah Bulan yang terlihat dari Bumi akan selalu tetap dan kita tidak akan pernah dapat melihat wajah Bulan yang membelakangi Bumi. Lintasan orbit Bulan tidaklah berhimpit dengan orbit revolusi Bumi (ekliptika), melainkan menyilang sebesar 5,2 derajat, sehingga kita dapat melihat fase Bulan purnama atau gerhana Bulan secara bergantian. Karena apabila lintasan orbitnya berhimpit dengan ekliptika, kita tidak akan pernah dapat mengamati Bulan purnama melainkan hanya gerhana Bulan setiap bulannya.</p>
<p>Dalam perjalanannya mengelilingi Bumi, posisi Bulan berubah-ubah relatif terhadap Matahari dan Bumi sehingga bagian terang di Bulan yang terlihat dari Bumi berbeda-beda dari waktu ke waktu secara periodik. Perubahan ini disebut dengan  perubahan fase, yang membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dari periode rotasinya, yaitu 29,5 hari (disebut dengan periode sinodis). Dan dalam rentang waktu tersebut, Bulan juga akan terbit pada waktu yang berbeda setiap harinya.</p>
<p>Apabila Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, bagian Bulan yang terkena cahaya Matahari tidak dapat dilihat dari Bumi sehingga Bulan tidak akan dapat diamati juga. Saat ini, Bulan yang berada pada fase mati (atau disebut juga Bulan baru) akan terbit bersamaan dengan Matahari. Setelah fase ini bagian terang di Bulan yang terlihat dari Bumi bertambah sehingga Bulan tampak berbentuk sabit (fase sabit awal) dan waktu terbitnya menjadi semakin siang. Kemudian di hari-hari berikutnya, bentuk sabitnya akan semakin membesar hingga akhirnya setengah bagian Bulan yang menghadap Bumi menjadi terang, yang berarti Bulan berada pada fase setengah awal atau kuartir awal. Jarak sudut antara Bulan dan Matahari saat ini adalah 90 derajat dan Bulan yang berumur sekitar 7 hari ini akan terbit 6 jam setelah Matahari.</p>
<p>Dari fase setengah awal, bagian yang terang di wajah Bulan akan terus bertambah hingga tampak benjol dan akhirnya mencapai bulat penuh (fase purnama) pada umur antara 14 &#8211; 15 hari. Pada fase purnama ini, Bulan akan terbit bersamaan dengan terbenamnya Matahari. Setelah itu, wajah Bulan yang terang akan berkurang hingga setengah (fase setengah akhir, terbit 18 jam setelah Matahari tenggelam) pada umur 21 hari, kemudian berbentuk sabit (fase sabit akhir, terbit 3 jam sebelum Matahari terbit) dan akhirnya kembali menjadi fase Bulan baru/mati.</p>
<p>Karena dapat diamati dengan jelas, penduduk Bumi pun memanfaatkan fase Bulan sebagai penanda waktu/sistem kalender. Ada banyak sistem kalender yang didasarkan pada Bulan, dua diantaranya adalah sistem kalender Islam dan Jawa. Jumlah hari dalam satu bulan di kedua sistem itu ditentukan dari periode sinodis Bulan. Dalam kedua sistem kalender tersebut terdapat 12 bulan dalam setahun yang masing-masing bulannya terdiri dari 29 atau 30 hari. Di kalender Jawa, bulan pertama memiliki 30 hari dan bulan berikutnya memiliki 29 hari, begitu seterusnya secara bergantian hingga bulan ke-12. Sedangkan di kalender Islam yang banyak digunakan saat ini, jumlah hari dalam sebulan ditentukan dari perhitungan usia Bulan sehingga bisa saja terdapat dua bulan yang berurutan memiliki jumlah hari yang sama.</p>
<p>Ciri Fisik<br />
Bulan adalah satelit kelima terbesar di Tata Surya kita setelah Ganymede, Titan, Callisto, dan Io. Diameternya adalah sebesar 3.476 km, sepertiga dari diameter Bumi. Sedangkan massanya adalah sebesar 7,35 x 10^22 kg. Dengan ukuran dan massa sebesar itu, gaya tarik gravitasi di Bulan lebih kecil daripada di Bumi, yaitu hanya sebesar 16,5% dari gravitasi di Bumi (1,62 m/s^2 berbanding 9,8 m/s^2).</p>
<p><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/12/plntmoon.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-268" title="Perbandingan ukuran satelit di tata surya" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/12/plntmoon-300x196.jpg" alt="Perbandingan ukuran satelit di tata surya" width="300" height="196" /></a></p>
<p>Jarak rata-rata Bulan dari Bumi adalah sejauh 384.403 km. Pada jarak ini, Bulan akan tampak seukuran dengan Matahari yang jaraknya 400 kali lebih jauh dan ukurannya 400 kali lebih besar daripada Bulan. Karena ukuran Bulan dan Matahari di langit setara inilah penduduk Bumi dapat mengalami gerhana Matahari, yaitu ketika terhalangnya cahaya Matahari yang seharusnya sampai ke permukaan Bumi karena Bulan berada di antara Bumi dan Matahari.</p>
<p>Bulan memiliki interior yang cukup unik. Bagian kerak Bulan diketahui lebih tebal di permukaan yang membelakangi Bumi dibandingkan dengan permukaan yang menghadap Bumi. Hal ini menjelaskan mengapa di permukaan Bulan yang menghadap Bumi terdapat banyak mare, yaitu karena tipisnya bagian kerak sehingga tumbukan benda yang cukup besar dapat menghancurkan kerak dan membuat material cair mengalir keluar ke permukaan. Keunikan lainnya adalah posisi bagian inti Bulan yang tidak berada tepat di tengah, melainkan sedikit bergeser ke arah Bumi. Penyebabnya diperkirakan karena saat pembentukannya dahulu, gaya tarik Bumi sedemikian kuatnya sehingga dapat menggeser bagian inti Bulan tersebut. Dan akibat pergeseran ini, bagian interior Bulan di bawah permukaan yang menghadap Bumi mendingin lebih lama daripada bagian interior yang membelakangi Bumi. Sehingga terjadilah perbedaan ketebalan kerak di kedua bagian permukaan tersebut.</p>
<p>Kerapatan Bulan yang hanya sebesar 3,3 g/cm^3 menunjukkan sedikitnya kandungan besi dalam interior Bulan. Bagian inti Bulan yang berupa material padat dan berukuran kecil, serta lambatnya rotasi Bulan membuat astronom berkesimpulan bahwa bagian inti Bulan tidak dapat membangkitkan medan magnet sehingga tidak ada gunanya kita membawa kompas ke sana. Hal ini sudah dikonfirmasi oleh para astronot yang mendarat di Bulan. Namun penelitian juga menunjukkan adanya jejak magnetisme pada batuan Bulan. Artinya, dahulu Bulan pernah memiliki medan magnet, yaitu ketika bagian intinya masih berupa material lelehan.</p>
<p>Bulan kini diperkirakan berusia lebih dari 4,5 miliar tahun. Asal-usulnya belum diketahui secara pasti, namun setidaknya ada empat teori yang mencoba menjelaskan asal-usul Bulan. Pertama, Bulan terbentuk bersamaan dengan Bumi. Kedua, Bulan terbentuk ketika Bumi berputar begitu cepat sehingga sebagian materialnya terlontar dan memadat menjadi Bulan. Ketiga, Bulan adalah benda angkasa yang ditangkap oleh gaya gravitasi Bumi. Ketiga teori ini sudah ada sejak sebelum contoh batuan Bulan diambil oleh astronot Apollo. Masing-masing teori tersebut akan menghasilkan tiga variasi komposisi material Bulan yang berbeda-beda. Untuk membuktikan teori mana yang cocok, dibutuhkan contoh batuan Bulan agar dapat diteliti komposisinya.</p>
<p>Menurut teori pertama, komposisi material penyusun Bulan akan sama dengan Bumi karena keduanya terbentuk dari material yang sama. Sedangkan menurut teori kedua, akan ada kemiripan dalam komposisi batuan keduanya namun tidak akan sama secara keseluruhan karena material pembentuk Bulan berasal dari sebagian material Bumi, yaitu hanya dari bagian kerak Bumi saja. Dan menurut teori ketiga, material Bumi dan Bulan akan sama sekali berbeda. Setelah contoh batuan Bulan diambil dan diteliti, ternyata ketiga teori tersebut tidak dapat menjelaskan hasil penelitian yang diperoleh karena ada material yang komposisinya sama dan ada juga material yang komposisinya berbeda dengan yang ada di Bumi.</p>
<p>Dari hasil penelitian tersebut muncul teori keempat yang menyebutkan bahwa Bulan terbentuk setelah terjadi suatu tumbukan hebat antara benda angkasa sebesar Mars dengan Bumi muda. Akibat dari tumbukan tersebut, sebagian material Bumi dan benda asing itu terlontar dan sembari mengelilingi Bumi, material campuran tersebut kemudian memadat. Dan kini campuran antara material penyusun Bumi dan benda asing itu kita lihat sebagai Bulan. Teori ini juga dapat menjelaskan penyebab kemiringan sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat. Dengan begitu, teori ini pun menjadi teori yang diterima oleh banyak pihak hingga saat ini.</p>
<p>Interaksi Bulan dan Bumi<br />
Sebagaimana dinyatakan dalam Hukum Newton bahwa benda bermassa akan menghasilkan pengaruh gravitasi bagi benda-benda lain, Bumi dan Bulan juga berinteraksi secara gravitasi. Pengaruh gravitasi Bumi menyebabkan Bulan bergerak mengelilingi Bumi dan posisi bagian inti Bulan tidak tepat berada di pusatnya. Sedangkan pengaruh gravitasi Bulan menyebabkan semua materi yang ada di Bumi seperti daratan, atmosfer, dan air mengalami gaya tarik ke arah Bulan. Namun karena daratan terdiri atas materi yang tidak dapat bergerak bebas dan kita tidak dapat mengamati atmosfer dengan mudah, maka pengaruh gravitasi Bulan pada air laut sangat mudah untuk kita amati.</p>
<p>Gaya tarik Bulan mengakibatkan ketinggian permukaan air laut berubah secara periodik. Perubahan tersebut biasa disebut dengan pasang naik (ketinggian air laut bertambah) dan pasang surut (ketinggiannya berkurang). Secara umum bagi pengamat di ekuator Bumi, pasang naik akan terjadi apabila Bulan berada di meridian (saat kulminasi atas) dan ketika Bulan kulminasi bawah. Sedangkan pasang surut akan terjadi ketika Bulan berada di horison (saat terbit dan terbenam). Jadi setiap lokasi di Bumi akan mengalami pasang naik dan surut secara bergantian setiap sekitar 6 jam sekali.</p>
<p>Pasang naik maksimum akan terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus, yaitu pada saat terjadinya Bulan mati atau purnama. Saat itu, air laut mengalami gaya tarik oleh gravitasi Bulan dan Matahari sekaligus (gravitasi Matahari tidak sebesar gravitasi Bulan). Sedangkan saat Bulan berada pada fase setengah awal dan akhir, pasang naik akan menjadi minimum karena posisi Bulan dan Matahari yang terpisah 90 derajat menyebabkan gaya gravitasi Bulan dan Matahari saling meniadakan.</p>
<p>Gravitasi Bulan juga memberi pengaruh positif terhadap iklim di Bumi, yang dipengaruhi oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi. Dengan adanya Bulan, kemiringan sumbu rotasi Bumi relatif tetap sepanjang masa, sehingga iklim di Bumi juga relatif stabil. Apabila Bulan tidak ada, diperkirakan kemiringan sumbu rotasi Bumi akan mengalami perubahan yang sangat ekstrim sehingga iklim di Bumi akan berubah secara ekstrim juga.</p>
<p>Interaksi Bumi dan Bulan juga mengakibatkan terjadinya pengereman rotasi Bumi dan bertambahnya jarak Bumi-Bulan. Penyebabnya adalah gesekan yang terjadi antara air laut dengan daratan pada peristiwa pasang naik air laut. Menurut perhitungan, rotasi Bumi mengalami perlambatan sebesar 1,5 milidetik setiap abadnya dan akibatnya Bulan bergerak menjauhi Bumi sebesar lebih dari 3 cm setiap tahunnya. Dengan demikian, jutaan tahun dari sekarang periode rotasi Bumi akan sama dengan periode rotasi dan revolusi Bulan sehingga wajah yang sama dari Bulan dan Bumi akan selalu berhadapan. Saat itu, melihat Bulan adalah suatu hal yang tidak mungkin bagi penduduk di separuh belahan Bumi, karena posisi Bulan di langit akan selalu tetap. Kemudian karena jarak Bumi &#8211; Bulan membesar, ukuran sudut Bulan akan berkurang sehingga kita tidak akan dapat menyaksikan piringan Bulan yang menutupi seluruh piringan Matahari saat terjadinya gerhana Matahari total.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F08%2Fmengenal-bulan-lebih-dekat%2F&amp;linkname=Mengenal%20Bulan%20Lebih%20Dekat"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/08/mengenal-bulan-lebih-dekat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/07/gerhana-matahari-total-22-juli-2009/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/07/gerhana-matahari-total-22-juli-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 07:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana Matahari Total]]></category>
		<category><![CDATA[GMT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Bersiaplah untuk kembali mengalami sebuah fenomena astronomi yang spektakuler. Fenomena yang dimaksud adalah Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2009. Jika Anda tidak sempat menyaksikan terjadinya Gerhana Matahari Cincin pada tanggal 26 Januari 2009 yang lalu, mungkin Anda bisa meluangkan waktu untuk melakukan ekspedisi dan petualangan agar dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bersiaplah untuk kembali mengalami sebuah fenomena astronomi yang spektakuler. Fenomena yang dimaksud adalah Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2009. Jika Anda tidak sempat menyaksikan terjadinya Gerhana Matahari Cincin pada tanggal 26 Januari 2009 yang lalu, mungkin Anda bisa meluangkan waktu untuk melakukan ekspedisi dan petualangan agar dapat menyaksikan GMT nanti.<span id="more-235"></span></p>
<p>Jalur totalitas pada gerhana kali ini akan melewati India, Nepal, Bangladesh, dan Cina. Walaupun tidak melalui wilayah Indonesia, tetapi masih ada sebagian wilayah di Indonesia yang dapat menyaksikan fase gerhana Matahari sebagian, yaitu sebagian daerah di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan seluruh bagian Papua (Lihat gambar di bawah ini).</p>
<p style="text-align: left;">
<div id="attachment_237" class="wp-caption aligncenter" style="width: 250px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/07/se2009jul22t1.gif"><img class="size-medium wp-image-237" title="GMT 22 Juli 2009. Sumber: NASA Eclipse " src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/07/se2009jul22t1-300x388.gif" alt="Sumber: NASA Eclipse" width="240" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">GMT 22 Juli 2009. Sumber: NASA Eclipse </p></div>
<p>Menurut data yang disebutkan oleh situs NASA Eclipse, gerhana nanti akan dimulai saat bayangan penumbra Bulan untuk pertama kalinya sampai ke permukaan Bumi (kontak pertama penumbra) pada pukul 23.58 GMT atau 06.58 WIB, dan berakhir saat terakhir kali penumbra Bulan &#8220;menyentuh&#8221; bagian terluar piringan Bumi (kontak keempat penumbra) pada pukul 05.12 GMT atau 12.12 WIB. Sementara fase total gerhana akan dimulai pada pukul 00.51 GMT atau 07.51 WIB dan berakhir pukul 04.19 GMT atau 11.19 WIB. Fase total terlama pada gerhana kali ini (selama 6 menit 38,8 detik) akan terjadi di posisi 24° 12,6&#8242; LU dan 144° 6,4&#8242; BT, yang sayangnya berada di tengah-tengah laut.</p>
<p>Fase gerhana matahari sebagian di Indonesia akan berlangsung pada waktu yang berbeda-beda. Berikut ini adalah simulasi pengamatan gerhana matahari yang diamati dari pulau Sumatra (Aceh), Sulawesi (Manado), dan Papua (Jayapura), yang dibuat dengan program Cartes du Ciel.</p>
<div id="attachment_245" class="wp-caption aligncenter" style="width: 250px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/07/gerhana-matahari-20090722-di-aceh-700-922wib.gif"><img class="size-medium wp-image-245" title="GMS 20090722 7.00-9.22 WIB" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/07/gerhana-matahari-20090722-di-aceh-700-922wib-300x231.gif" alt="gerhana-matahari-20090722-di-aceh-700-922wib" width="240" height="185" /></a><p class="wp-caption-text">GMS 20090722 7.00-9.22 WIB</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p>Di Aceh, fase gerhana matahari sebagian akan dimulai sekitar pukul 07.13 WIB dan berakhir pukul 8.47 WIB.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_246" class="wp-caption aligncenter" style="width: 250px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/07/gerhana-matahari-20090722-di-manado-800-1020wita.gif"><img class="size-medium wp-image-246" title="gerhana-matahari-20090722-di-manado-800-1020wita" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/07/gerhana-matahari-20090722-di-manado-800-1020wita-300x231.gif" alt="Gerhana Matahari 20090722 Manado 8.00-10.20 WITA" width="240" height="185" /></a><p class="wp-caption-text">Gerhana Matahari 20090722 Manado 8.00-10.20 WITA</p></div>
<p>Di Manado dimulai pukul 8.30 WITA dan selesai pukul 9.50 WITA.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_247" class="wp-caption aligncenter" style="width: 250px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/07/gerhana-matahari-20090722-di-jayapura-845-1121wit.gif"><img class="size-medium wp-image-247" title="gerhana-matahari-20090722-di-jayapura-845-1121wit" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/07/gerhana-matahari-20090722-di-jayapura-845-1121wit-300x231.gif" alt="Gerhana Matahari 20090722 Jayapura 6.45-11.21 WIT" width="240" height="185" /></a><p class="wp-caption-text">Gerhana Matahari 20090722 Jayapura 8.45-11.21 WIT</p></div>
<p>Di Jayapura, gerhana akan dimulai sekitar pukul 9.12 WIT dan berakhir pada pukul 11.05 WIT.</p>
<p>Apabila Anda berencana untuk melakukan pengamatan GMT ini, silakan lihat beberapa gambar yang ada di <a title="GMT 20090722" href="http://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEmono/TSE2009/TSE2009.html">halaman ini</a>. Pilih daerah yang akan Anda kunjungi dengan melihat gambaran yang lebih mendetil tentang daerah yang dilewati jalur totalitas. Selamat melakukan pengamatan!</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F07%2Fgerhana-matahari-total-22-juli-2009%2F&amp;linkname=Gerhana%20Matahari%20Total%2022%20Juli%202009"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/07/gerhana-matahari-total-22-juli-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengukur Jarak Bintang Dengan Paralaks</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 14:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[Bessel]]></category>
		<category><![CDATA[Geosentris]]></category>
		<category><![CDATA[Heliosentris]]></category>
		<category><![CDATA[Hipparcos]]></category>
		<category><![CDATA[Paralaks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Paralaks adalah perbedaan latar belakang yang tampak ketika sebuah benda yang diam dilihat dari dua tempat yang berbeda. Kita bisa mengamati bagaimana paralaks terjadi dengan cara yang sederhana. Acungkan jari telunjuk pada jarak tertentu (misal 30 cm) di depan mata kita. Kemudian amati jari tersebut dengan satu mata saja secara bergantian antara mata kanan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Paralaks adalah perbedaan latar belakang yang tampak ketika sebuah benda yang diam dilihat dari dua tempat yang berbeda. Kita bisa mengamati bagaimana paralaks terjadi dengan cara yang sederhana. Acungkan jari telunjuk pada jarak tertentu (misal 30 cm) di depan mata kita. Kemudian amati jari tersebut dengan satu mata saja secara bergantian antara mata kanan dan mata kiri. Jari kita yang diam akan tampak berpindah tempat karena arah pandang dari mata kanan berbeda dengan mata kiri sehingga terjadi perubahan pemandangan latar belakangnya. &#8220;Perpindahan&#8221; itulah yang menunjukkan adanya paralaks. <span id="more-199"></span></p>
<p>Paralaks juga terjadi pada bintang, setidaknya begitulah yang diharapkan oleh pemerhati dunia astronomi ketika model heliosentris dikemukakan pertama kali oleh Aristarchus (310-230 SM). Dalam model heliosentris itu, Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam orbit yang berbentuk lingkaran. Akibatnya, sebuah bintang akan diamati dari tempat-tempat yang berbeda selama Bumi mengorbit. Dan paralaks akan mencapai nilai maksimum apabila kita mengamati bintang pada dua waktu yang berselang 6 bulan (setengah periode revolusi Bumi). Namun saat itu tidak ada satu orangpun yang dapat mendeteksinya sehingga Bumi dianggap tidak bergerak (karena paralaks dianggap tidak ada). Model heliosentris kemudian ditinggalkan orang dan model geosentrislah yang lebih banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku alam semesta.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>Paralaks pada bintang baru bisa diamati untuk pertama kalinya pada tahun 1837 oleh Friedrich Bessel, seiring dengan teknologi teleskop untuk astronomi yang berkembang pesat (sejak Galileo menggunakan teleskopnya untuk mengamati benda langit pada tahun 1609). Bintang yang ia amati adalah 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang memiliki paralaks 0,29&#8243;. Ternyata paralaks pada bintang memang ada, namun dengan nilai yang sangat kecil. Hanya keterbatasan instrumenlah yang membuat orang-orang sebelum Bessel tidak mampu mengamatinya. Karena paralaks adalah salah satu bukti untuk model alam semesta heliosentris (yang dipopulerkan kembali oleh Copernicus pada tahun 1543), maka penemuan paralaks ini menjadikan model tersebut semakin kuat kedudukannya dibandingkan dengan model geosentris Ptolemy yang banyak dipakai masyarakat sejak tahun 100 SM.</p>
<p>Setelah paralaks bintang ditemukan, penghitungan jarak bintang pun dimulai. Lihat ilustrasi di bawah ini untuk memberikan gambaran bagaimana paralaks bintang terjadi. Di posisi A, kita melihat bintang X memiliki latar belakang XA. Sedangkan 6 bulan kemudian, yaitu ketika Bumi berada di posisi B, kita melihat bintang X memiliki latar belakang XB. Setengah dari jarak sudut kedua posisi bintang X itulah yang disebut dengan sudut paralaks. Dari sudut inilah kita bisa hitung jarak bintang asalkan kita mengetahui jarak Bumi-Matahari.</p>
<div id="attachment_200" class="wp-caption aligncenter" style="width: 501px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/05/par_orb.png"><img class="size-full wp-image-200" title="par_orb" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/05/par_orb.png" alt="Paralaks Dari Orbit" width="491" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Paralaks Bintang Dilihat Dari Orbit</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p>Dari geometri segitiga kita ketahui adanya hubungan antara sebuah sudut dan dua buah sisi. Inilah landasan kita dalam menghitung jarak bintang dari sudut paralaks (lihat gambar di bawah). Apabila jarak bintang adalah d, sudut paralaks adalah p, dan jarak Bumi-Matahari adalah 1 SA (Satuan Astronomi = 150 juta kilometer), maka kita dapatkan persamaan sederhana</p>
<p>tan p = 1/d</p>
<p>atau  d = 1/p, karena p adalah sudut yang sangat kecil sehingga tan p ~ p.</p>
<div id="attachment_201" class="wp-caption aligncenter" style="width: 440px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/05/par_rum.png"><img class="size-full wp-image-201" title="par_rum" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/05/par_rum.png" alt="Paralaks Bintang" width="430" height="183" /></a><p class="wp-caption-text">Paralaks Bintang</p></div>
<p>Jarak d dihitung dalam SA dan sudut p dihitung dalam radian. Apabila kita gunakan detik busur sebagai satuan dari sudut paralaks (p), maka kita akan peroleh d adalah 206265 SA atau 3,09 x 10^13 km. Jarak sebesar ini kemudian didefinisikan sebagai 1 pc (parsec, parsek), yaitu jarak bintang yang mempunyai paralaks 1 detik busur. Pada kenyataannya, paralaks bintang yang paling besar adalah 0,76&#8243; yang dimiliki oleh bintang terdekat dari tata surya, yaitu bintang Proxima Centauri di rasi Centaurus yang berjarak 1,31 pc. Sudut sebesar ini akan sama dengan sebuah tongkat sepanjang 1 meter yang diamati dari jarak 270 kilometer. Sementara bintang 61 Cygni memiliki paralaks 0,29&#8243; dan jarak 1,36 tahun cahaya (1 tahun cahaya = jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu satu tahun = 9,5 trilyun kilometer) atau sama dengan 3,45 pc.</p>
<p>Hingga tahun 1980-an, paralaks hanya bisa dideteksi dengan ketelitian 0,01&#8243; atau setara dengan jarak maksimum 100 parsek. Jumlah bintangnya pun hanya ratusan buah. Peluncuran satelit Hipparcos pada tahun 1989 kemudian membawa perubahan. Satelit tersebut mampu mengukur paralaks hingga ketelitian 0,001&#8243;, yang berarti mengukur jarak 100.000 bintang hingga 1000 parsek. Sebuah katalog dibuat untuk mengumpulkan data bintang yang diamati oleh satelit Hipparcos ini. Katalog Hipparcos yang diterbitkan di akhir 1997 itu tentunya membawa pengaruh yang sangat besar terhadap semua bidang astronomi yang bergantung pada ketelitian jarak.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F05%2Fmengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks%2F&amp;linkname=Mengukur%20Jarak%20Bintang%20Dengan%20Paralaks"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>100 Hours of Astronomy</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/04/100-hours-of-astronomy/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/04/100-hours-of-astronomy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 07:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[semarang]]></category>
		<category><![CDATA[star party]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 2 &#8211; 5 April 2009 adalah tanggal yang cukup istimewa di dunia astronomi. Dalam 4 hari ini IYA2009 mencanangkan sebuah &#8220;Cornerstone Project&#8221; yang dinamakan 100 Hours of Astronomy. Program ini pada intinya mengajak semua kota di penjuru dunia untuk mengadakan kegiatan astronomi, apapun bentuknya. Mulai dari pengajaran di dalam kelas, menyaksikan film astronomi bersama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 2 &#8211; 5 April 2009 adalah tanggal yang cukup istimewa di dunia astronomi. Dalam 4 hari ini <a href="http://www.astronomy2009.org/">IYA2009</a> mencanangkan sebuah &#8220;Cornerstone Project&#8221; yang dinamakan <a title="100HA" href="http://www2.100hoursofastronomy.org">100 Hours of Astronomy</a>. Program ini pada intinya mengajak semua kota di penjuru dunia untuk mengadakan kegiatan astronomi, apapun bentuknya. Mulai dari pengajaran di dalam kelas, menyaksikan film astronomi bersama, hingga pengamatan Matahari ataupun langit malam, dengan atau tanpa teleskop. Dengan slogan utama &#8220;The Universe, Yours To Discover,&#8221; IYA2009 memang mencoba mengajak semua orang, terutama generasi muda, untuk mengenal lebih banyak tentang alam semesta. Karena alam semesta adalah milik semua orang di dunia.<span id="more-187"></span></p>
<p>Sebagian pecinta astronomi di kota Semarang akan mencoba untuk ikut berpartisipasi dalam 100 Hours of Astronomy. Kegiatan yang akan dilakukan adalah pengamatan langit malam pada hari Minggu, 5 April 2009 pukul 20.00 hingga 21.00 WIB di kampus III IAIN Walisongo, Ngaliyan, Semarang. Kegiatan ini direncanakan oleh pengelola situs ini bersama mahasiswa Konsentrasi Ilmu Falak IAIN Walisongo. Walaupun persiapan yang dilakukan sangat mendadak, semoga kelancaran berlangsungnya acara nanti tidak terganggu. Siapapun yang tertarik untuk mengikuti kegiatan itu dapat menghubungi kami melalui web ini.</p>
<p>Kegiatan ini sudah didaftarkan ke web 100 Hours of Astronomy di <a title="Semarang di 100HA" href="http://www2.100hoursofastronomy.org/component/eventlist/details/2338-sunday-star-party?cid=4%3Aother">halaman ini</a>. Total terdapat 7 kota di Indonesia yang berpartisipasi dalam program ini. Tujuh kota tersebut adalah Banda Aceh, Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Jogja, dan Surakarta. Daftar lokasi masing-masing kegiatan dapat dilihat di <a title="100HA" href="http://www2.100hoursofastronomy.org/index.php?option=com_eventlist&amp;view=countryevents&amp;filter_country=ID">halaman ini</a>.</p>
<p>Hanya tersisa waktu kurang dari 34 jam lagi dari 100 jam yang tersedia dalam program ini. Segera rencanakan kegiatan astroomi Anda dan daftarkan di situs resmi 100 Hours of Astronomy. Mari berpartisipasi dan kenali dunia astronomi lebih dalam lagi.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F04%2F100-hours-of-astronomy%2F&amp;linkname=100%20Hours%20of%20Astronomy"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/04/100-hours-of-astronomy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galaksi Bimasakti</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/03/galaksi-bimasakti/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/03/galaksi-bimasakti/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 16:14:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Galaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Andromeda]]></category>
		<category><![CDATA[Bimasakti]]></category>
		<category><![CDATA[Grup Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat banyak bintang, nebula, dan gugus bintang yang bisa diamati di langit setiap malamnya. Semua objek tersebut berada di dalam galaksi kita. Di beberapa bagian bintang nampak padat sehingga ketika langit cerah, bersih dari awan, dan kondisi sekitar yang gelap, kita bisa melihat pita berwarna putih yang memanjang dan melintasi beberapa rasi seperti Sagittarius (arah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terdapat banyak bintang, nebula, dan gugus bintang yang bisa diamati di langit setiap malamnya. Semua objek tersebut berada di dalam galaksi kita. Di beberapa bagian bintang nampak padat sehingga ketika langit cerah, bersih dari awan, dan kondisi sekitar yang gelap, kita bisa melihat pita berwarna putih yang memanjang dan melintasi beberapa rasi seperti Sagittarius (arah pusat Galaksi), Scorpius, Ophiucus, Aquila, Cassiopeia, Auriga, Crux, dan Centaurus. Sementara di bagian yang lain tampak celah-celah gelap yang menunjukkan adanya materi antar bintang yang tebal. Itulah (bidang) galaksi yang kita tinggali. <span id="more-156"></span>Bentuknya yang seperti itu kemudian menginspirasi orang untuk menamakannya dengan sebutan Milky Way. Kata galaksi dan milky way itu sendiri diadaptasi dari bahasa Yunani &#8220;galaxias&#8221; dan Latin &#8220;via lactea&#8221; dengan kata dasar lactea yang berarti susu. Sedangkan menurut orang Indonesia, galaksi kita diberi nama Bimasakti. Menurut salah satu sumber dari Observatorium Bosscha, sejarah penamaan ini berasal ketika Presiden RI pertama, Soekarno, ditunjukkan citra galaksi oleh salah seorang astronom Indonesia. Ternyata, Soekarno melihat salah satu bagian gelap di foto tersebut menyerupai tokoh Bima Sakti. Namun tidak diketahui bagian gelap mana yang dimaksud.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_158" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/03/mwpan_aitoff_s.jpg"><img class="size-large wp-image-158" title="Galaksi Bimasakti di malam hari" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/03/mwpan_aitoff_s-300x200.jpg" alt="Galaksi Bimasakti di panjang gelombang visual" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Galaksi Bimasakti di malam hari. Sumber: Axel Mellinger</p></div>
<p>Galaksi adalah tempat berkumpulnya bintang-bintang di alam semesta. Hampir tidak ditemukan adanya bintang yang berkelana sendiri di ruang antar galaksi. Dan Matahari termasuk di antara 200 milyar bintang di Galaksi Bimasakti (disingkat dengan Galaksi). Dengan asumsi bahwa rata-rata massa bintang di Galaksi adalah sebesar massa Matahari, maka massa Galaksi dapat mencapai 2 x 10^11 massa Matahari (massa Matahari adalah 2 x 10^30 kg).</p>
<p>Bentuk galaksi Bimasakti seperti dua buah piring cekung yang ditangkupkan, bagian tengahnya tebal dan semakin pipih ke arah tepi, dan terdapat lengan-lengan spiral di dalamnya. Oleh karena itu Galaksi kita digolongkan ke dalam galaksi spiral. Berdasarkan klasifikasi galaksi Hubble, galaksi Bimasakti termasuk dalam kelas SBbc. Artinya, Galaksi kita adalah galaksi spiral yang memiliki &#8220;bar&#8221; atau palang di bagian pusatnya, dengan kecerlangan bagian pusat yang relatif sama dengan bagian piringan, dan memiliki struktur lengan spiral yang agak renggang di bagian piringannya.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_170" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/03/236088main_milkyway516.jpg"><img class="size-medium wp-image-170" title="Gambaran Galaksi Bimasakti terbaru" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/03/236088main_milkyway516-300x300.jpg" alt="Gambaran Galaksi Bimasakti Terbaru" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Gambaran Galaksi Bimasakti terbaru. Sumber: NASA/JPL-Caltech</p></div>
<p>Galaksi spiral tersusun atas 3 bagian utama, yaitu bagian bulge, halo, dan piringan. Ketiganya memiliki bentuk, ukuran, dan objek penyusun yang berbeda-beda. Bahkan, bagian bulge dan piringan menjadi penentu dalam klasifikasi galaksi yang dibuat oleh Hubble (diagram garpu tala).</p>
<p>Bagian bulge adalah daerah di galaksi yang kepadatan bintangnya paling tinggi. Bintang-bintang tua lebih banyak ditemukan daripada bintang muda, karena sangat sedikit materi pembentuk bintang yang terdapat di sini. Bulge ini berbentuk elipsoid seperti bola rugby. Bintang-bintang di dalamnya bergerak dengan kecepatan tinggi dan orbit yang acak, tidak sebidang dengan bidang galaksi. Dari perhitungan kecepatan orbit bintang-bintang di dalamnya, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat sebuah benda bermassa sangat besar yang berada di pusat Galaksi yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Benda tersebut diyakini adalah sebuah lubang hitam supermasif, yang diperkirakan terdapat di bagian pusat semua galaksi spiral. Termasuk juga di galaksi Andromeda, galaksi spiral terdekat dari Galaksi kita.</p>
<p>Komponen kedua adalah halo. Berbentuk bola, ukuran komponen ini sangat besar hingga jauh membentang melingkupi bulge dan piringan, bahkan mungkin lebih jauh daripada batas terluar piringan galaksi yang bisa kita amati. Objek yang menjadi penyusun halo dibagi menjadi dua kelompok, yaitu stellar halo dan dark halo. Yang dimaksud dengan stellar halo adalah bintang-bintang yang berada di bagian halo. Namun hanya sedikit ditemukan bintang individu di bagian ini. Yang lebih dominan adalah kelompok bintang-bintang tua yang jumlah bintang anggotanya mencapai jutaan buah, yang disebut dengan gugus bola (globular cluster).</p>
<p>Di bagian piringan terdapat bintang-bintang muda serta gas dan debu antar bintang yang terletak di lengan spiral. Banyak ditemukannya bintang muda dan gas antar bintang sangat berkaitan erat, karena gas adalah materi utama pembentuk bintang. Di beberapa lokasi bahkan ditemukan bintang-bintang muda yang masih diselimuti gas, yang menandakan bahwa bintang-bintang tersebut baru terbentuk. Sedangkan banyaknya debu di piringan membuat pengamat di Bumi kesulitan untuk melakukan pengamatan visual di sekitar bidang Galaksi, terutama ke arah pusat Galaksi (lihat gambar di atas). Karenanya, pengamatan di sekitar bidang Galaksi akan memberikan hasil yang lebih baik jika dilakukan di daerah panjang gelombang radio dan infra merah yang tidak terpengaruh oleh debu antar bintang (lihat gambar di bawah).</p>
<div id="attachment_157" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/03/cobeslide10.jpg"><img class="size-large wp-image-157" title="Galaksi Bimasakti dalam panjang gelombang infra merah dekat" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/03/cobeslide10-300x199.jpg" alt="Bimasakti dalam infra merah dekat" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Galaksi Bimasakti dalam panjang gelombang infra merah dekat. Sumber: NASA-LAMBDA</p></div>
<p>Seberapa besar Galaksi kita? Di bagian pusat Galaksi, bulge hanya memiliki diameter 6 kpc dan tebal 4 kpc (kpc = kiloparsek, 1 parsek = 3,26 tahun cahaya = 206265 SA = 3,086 x 10^13 km). Jarak dari pusat hingga ke bagian tepi Galaksi (jari-jari) adalah 15 kpc dengan ketebalan rata-rata sebesar 300 pc. Sedangkan Matahari berada pada jarak 8 kpc dari pusat. Di posisi itu, Matahari sedang bergerak mengelilingi pusat Galaksi dengan bentuk orbit yang hampir melingkar. Laju orbitnya adalah sekitar 250 km/detik sehingga matahari memerlukan waktu 220 juta tahun untuk berkeliling satu kali. Jika umur matahari adalah 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita sudah mengorbit pusat Galaksi sebanyak 20 kali.</p>
<p>Galaksi kita sebenarnya berada pada sebuah kelompok galaksi yang disebut dengan Grup Lokal, yang ukurannya mencapai 1 MPc dan beranggotakan lebih dari 30 galaksi. Galaksi spiral yang ada di kelompok ini hanya tiga, yaitu Bimasakti, Andromeda, dan Triangulum. Sisanya adalah galaksi yang lebih kecil dengan bentuk elips atau tak beraturan. Grup Lokal ini termasuk kelompok galaksi yang dinamis. Maksudnya adalah bahwa galaksi-galaksi di kelompok ini mengalami interaksi gravitasi, termasuk Galaksi kita dengan galaksi Andromeda. Interaksi tersebut diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya tabrakan antara Galaksi kita dengan Andromeda dan kemudian membentuk galaksi elips. Namun jangan terlalu khawatir karena peristiwa tersebut tidak akan terjadi hingga 2 milyar tahun lagi.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F03%2Fgalaksi-bimasakti%2F&amp;linkname=Galaksi%20Bimasakti"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/03/galaksi-bimasakti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan Penumbra 9 Februari 2009</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-penumbra-9-februari-2009/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-penumbra-9-februari-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 19:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[Langit Malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja kita menikmati fenomena Gerhana Matahari Cincin pada tanggal 26 Januari lalu. Mungkin Anda berhasil melakukan pengamatan cincin matahari atau hanya sekedar sabit matahari. Sekarang saatnya bersiap untuk menyaksikan fenomena gerhana lainnya, yaitu Gerhana Bulan Penumbra (GBP) yang akan terjadi pada hari Senin tanggal 9 Februari 2009.

Gerhana yang akan terjadi nanti dapat diamati dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Baru saja kita menikmati fenomena <a title="GMC 20090126" href="http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/">Gerhana Matahari Cincin</a> pada tanggal 26 Januari lalu. Mungkin Anda berhasil melakukan pengamatan cincin matahari atau hanya sekedar sabit matahari. Sekarang saatnya bersiap untuk menyaksikan fenomena gerhana lainnya, yaitu Gerhana Bulan Penumbra (GBP) yang akan terjadi pada hari Senin tanggal 9 Februari 2009.<br />
<span id="more-89"></span><br />
Gerhana yang akan terjadi nanti dapat diamati dari seluruh daerah di Indonesia. Bulan berada di langit sebelah timur pada saat dimulainya gerhana pukul 12.36 UT atau 19.36 WIB. Gerhana ini mencapai fase puncaknya pada pukul 14.38 UT atau 21.38 WIB dan berakhir pada pukul 16.39 UT atau 23.39 WIB.</p>
<div id="attachment_152" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/02/le2009feb09n.gif"><img class="size-medium wp-image-152" title="GBP 9 Februari 2009" src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/02/le2009feb09n.gif?w=225" alt="GBP 9 Februari 2009" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Peta kenampakan GBP 9 Februari 2009 di dunia. Sumber NASA Eclipse</p></div>
<div id="attachment_151" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/02/gbp.gif"><img class="size-medium wp-image-151" title="Animasi GBP 20090209" src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/02/gbp.gif?w=300" alt="Animasi GBP. Hanya bayangan penumbra Bumi yang menutupi permukaan Bulan." width="300" height="193" /></a><p class="wp-caption-text">Animasi GBP. Hanya bayangan penumbra Bumi yang menutupi permukaan Bulan.</p></div>
<p>Pada gerhana Bulan penumbra, sesuai dengan namanya, hanya bayangan penumbra Bumi saja yang jatuh di permukaan Bulan. Akibatnya, Bulan bukannya mengalami perubahan bentuk sebagaimana yang terjadi pada gerhana Bulan total ataupun gerhana Bulan sebagian, melainkan hanya akan mengalami perubahan kecerlangan. Perubahan kecerlangan Bulan ini akan sulit kita deteksi dengan mata telanjang kecuali ketika memasuki puncak gerhana, walaupun pada saat itu tidak seluruh permukaan Bulan tertutupi penumbra.</p>
<div id="attachment_153" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/02/nle2002-3w.jpg"><img class="size-medium wp-image-153" title="GBP 20 November 2002" src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/02/nle2002-3w.jpg?w=300" alt="MrEclipse.com" width="300" height="173" /></a><p class="wp-caption-text">Kenampakan GBP tahun 2002. Perhatikan perbedaan kecerlangan yang terjadi pada saat puncak gerhana. Sumber: MrEclipse.com</p></div>
<p>Mungkin gerhana ini tidak semenarik gerhana bulan total atau sebagian seperti yang pernah saya bahas pada <a title="GBT 20070828" href="http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-28-agustus-2007/">Agustus 2007</a> dan <a title="GBS 20080817" href="http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-sebagian-17-agustus-2008/">Agustus 2008</a> lalu. Namun tetap saja yang namanya fenomena gerhana sangat pantas untuk ditunggu dan disaksikan karena jarang terjadi. Jadi, nantikan juga gerhana-gerhana selanjutnya di tahun 2009 ini, yaitu Gerhana Bulan Penumbra 7 Juli 2009, Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009, Gerhana Bulan Penumbra 6 Agustus 2009, dan Gerhana Bulan Sebagian 31 Desember 2009, yang sekaligus akan menandai pergantian tahun.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fgerhana-bulan-penumbra-9-februari-2009%2F&amp;linkname=Gerhana%20Bulan%20Penumbra%209%20Februari%202009"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-penumbra-9-februari-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 19:52:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[Matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Dua peristiwa gerhana Bulan sudah pernah saya bahas, yaitu gerhana Bulan total pada Agustus 2007 dan gerhana Bulan sebagian pada Agustus 2008. Kali ini saya akan membahas gerhana Matahari yang akan terjadi dalam waktu dekat ini, yaitu Gerhana Matahari Cincin (GMC) tanggal 26 Januari 2009.
Secara umum, gerhana Matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua peristiwa gerhana Bulan sudah pernah saya bahas, yaitu gerhana Bulan total pada <a title="GBT 28082007" href="http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-28-agustus-2007/">Agustus 2007</a> dan gerhana Bulan sebagian pada <a title="GBS 17082008" href="http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-sebagian-17-agustus-2008/">Agustus 2008</a>. Kali ini saya akan membahas gerhana Matahari yang akan terjadi dalam waktu dekat ini, yaitu Gerhana Matahari Cincin (GMC) tanggal 26 Januari 2009.<span id="more-87"></span></p>
<p>Secara umum, gerhana Matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, sedemikian sehingga cahaya Matahari yang biasanya mengenai permukaan Bumi akan terhalang oleh Bulan (lihat gambar di bawah). Apabila seluruh piringan Matahari tertutup sempurna oleh Bulan, kita di Bumi akan menyaksikan terjadinya gerhana Matahari total (A). Sedangkan bila bagian tengah Matahari gelap tertutup Bulan namun bagian tepi piringannya masih dapat terlihat dari Bumi, berarti yang sedang terjadi adalah gerhana Matahari cincin (B).</p>
<p style="text-align:center;">
<div id="attachment_136" class="wp-caption aligncenter" style="width: 85px"><img class="size-medium wp-image-136" title="Gerhana Matahari" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2009/02/eclipses_solaresen-75x100.png" alt="Gerhana Matahari" width="75" height="100" /><p class="wp-caption-text">Gerhana Matahari</p></div>
<p>Namun tidak semua orang di Bumi dapat melihat fase total atau cincin setiap kali gerhana Matahari total atau cincin itu terjadi. Hanya sebagian kecil penduduk Bumi yang dapat melihatnya. Sementara kebanyakan orang hanya dapat melihat gerhana Matahari sebagian saja (C).</p>
<p>Lintasan Gerhana<br />
Hari Senin tanggal 26 Januari 2009 nanti, kita yang berada di Indonesia beruntung karena mendapat kesempatan untuk menyaksikan peristiwa gerhana Matahari. Beberapa wilayah Indonesia bahkan dilewati oleh jalur gerhana Matahari cincin (lihat gambar di bawah). Jalur tersebut diketahui akan melintasi bagian selatan pulau Sumatera (Lampung dan sekitarnya), bagian barat pulau Jawa (Cilegon, Serang, Anyer, dan sekitarnya) dan bagian tengah pulau Kalimantan. Sedangkan pengamat di wilayah Indonesia lainnya hanya bisa menyaksikan gerhana Matahari sebagian. Jadi jika Anda ingin menyaksikan GMC, silakan datang ke tempat-tempat tersebut.</p>
<p style="text-align:center;">
<div id="attachment_133" class="wp-caption aligncenter" style="width: 241px"><a href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/01/se2009jan26a.gif?w=231"><img class="size-medium wp-image-133" title="se2009jan26a" src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/01/se2009jan26a.gif?w=231" alt="NASA Eclipse Web Site" width="231" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sumber:NASA Eclipse</p></div>
<p>Lalu kapan tepatnya peristiwa GMC itu berlangsung? Proses GMC itu akan diawali dengan tertutupnya piringan Matahari oleh Bulan pada pukul 15.21 WIB. Kemudian Matahari akan berubah menjadi bentuk sabit hingga akhirnya seluruh piringan Bulan sudah berada di dalam piringan Matahari. Inilah yang disebut dengan puncak GMC, yang akan terjadi pada pukul 16.40 WIB. Kita akan melihat Matahari berbentuk cincin selama sekitar 6 menit. Setelah itu Bulan mulai keluar dari piringan Matahari hingga pada pukul 17.52 WIB Bulan sudah benar-benar meninggalkan piringan Matahari sebagai tanda bahwa peristiwa GMC ini sudah berakhir. Jadi dari perhitungan di atas, berarti waktu yang kita miliki untuk melihat Bulan menutupi Matahari adalah sekitar 90 menit.</p>
<p>Simulasi di atas berlaku untuk pengamat yang berada di bagian selatan pulau Sumatera. Untuk di kota Semarang, Gerhana Matahari Sebagian akan mulai sekitar pukul 15.23 dan berakhir pada pukul 17.48 WIB. Animasi kenampakan kedua gerhana tersebut saya sertakan di bawah. Animasi ini dibuat dengan program Cartes du Ciel 2.76.</p>
<div id="attachment_131" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/01/gmc-lampung.gif"><img class="size-medium wp-image-131" title="GMC dari bagian selatan pulau Sumatera" src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/01/gmc-lampung.gif?w=300" alt="Ilustrasi GMC dari bagian selatan pulau Sumatera" width="300" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi GMC dari bagian selatan pulau Sumatera</p></div>
<div id="attachment_134" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hanieftrihantoro.files.wordpress.com/2009/01/gmc-semarang.gif"><img class="size-medium wp-image-134" title="gmc-semarang" src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2009/01/gmc-semarang.gif?w=300" alt="Ilustrasi GMC dari Semarang" width="300" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi GMC dari Semarang</p></div>
<p>Bagaimana dengan kenampakan dan waktu gerhana untuk daerah lain? Silakan lihat datanya di <a title="Data GMC 26012009" href="http://www.eclipse.org.uk/eclipse/0132009/">halaman ini</a>. Data gerhana untuk beberapa daerah di Indonesia dan daerah-daerah di seluruh dunia ada di sini, lengkap dengan animasi dan ilustrasi kenampakan gerhananya.</p>
<p>Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk melakukan pengamatan gerhana ini? Untuk itu, Anda harus mempersiapkannya dengan baik. Berikut saya jelaskan 3 hal penting yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan pengamatan.</p>
<p>1. Cara pengamatan.<br />
Anda harus tahu cara yang aman dalam melakukan pengamatan Matahari. Pengamatan Matahari (gerhana atau tidak) tidak bisa dilakukan sembarangan. Karena energi yang dipancarkan Matahari begitu besar, mata kita dapat menjadi rusak (temporer atau bahkan kebutaan permanen) jika kita melihat Matahari secara langsung (mata telanjang) ataupun dengan alat bantu optik (teleskop, binokular, atau kamera). Ada setidaknya empat cara aman untuk mengamati Matahari, baik dalam keadaan gerhana atupun tidak. Silakan tentukan cara mana yang menurut Anda bisa Anda lakukan.</p>
<p>Pertama, melihat citra Matahari yang diproyeksikan ke kertas dari kamera lubang jarum (pinhole camera). Kamera ini bisa dibuat sendiri dengan mudah dan murah karena kita bisa buat sendiri dari benda-benda di sekitar kita (contohnya dapat <a title="Gambar Kamera Lubang Jarum" href="http://www.skyandtelescope.com/observing/objects/eclipses/3306081.html?page=1&amp;c=y">dilihat di sini</a>).</p>
<p>Kedua, melihat citra Matahari yang diproyeksikan dari teleskop atau binokular. Cara ini juga murah dan sederhana untuk dilakukan jika kita mempunyai dan ingin menggunakan alat bantu optik (misalnya teleskop) untuk mengamati Matahari. Lihat <a href="/HMW%20Documents/ht/New%20Folder/Gerhana%20Matahari%20Cincin%20%C2%AB%20Pak%20AR%20guru%20Fisika_files/iya2009_jac_pakarfisika.jpg">gambar berikut</a> sebagai ilustrasinya.</p>
<p>Ketiga, melakukan pengamatan dengan teleskop atau binokular yang dillengkapi dengan filter Matahari khusus yang berguna untuk mengurangi intensitas cahaya Matahari yang masuk ke teleskop atau binokular. Filter ini tersedia di toko-toko penjual peralatan astronomi yang sudah ada beberapa di Indonesia seperti <a title="Toko Teleskop" href="http://www.tokoteleskop.com/index.php">toko teleskop</a>. Silakan hubungi mereka untuk informasi lebih lengkapnya.</p>
<p>Keempat, kita bisa membuat filter Matahari sederhana (lihat <a href="http://bibirsumur.wordpress.com/2009/01/08/menikmati-matahari-dengan-aman/">halaman ini </a>untuk melihat cara pembuatannya). Tapi, filter tersebut bukan untuk pengamatan dengan alat bantu optik seperti teleskop, binokular, atau kamera foto. Hanya untuk pengamatan dengan mata telanjang saja.</p>
<p>2. Lokasi pengamatan<br />
Jika Anda sudah siap dengan peralatannya, tentukan lokasi yang akan Anda datangi untuk melakukan pengamatan. Jika Anda ingin mengamati GMC namun Anda tidak tinggal di daerah yang dapat melihatnya, tentunya Anda harus menyiapkan akomodasinya (transportasi dan penginapan) seawal mungkin. Ingat, GMC ini mungkin akan mengundang perhatian banyak orang dari seluruh dunia karena Indonesia adalah lokasi yang strategis. Ketidaknyamanan akibat kurang siapnya akomodasi sebaiknya tidak terjadi agar tidak menghambat Anda dalam melakukan pengamatan GMC.</p>
<p>Hal penting lainnya yang masih berkaitan dengan lokasi untuk melakukan pengamatan adalah lokasi tersebut haruslah memiliki langit sebelah barat yang bebas halangan (dari gedung, pohon, pegunungan, atau lainnya), karena gerhana nanti akan berlangsung di langit sebelah barat. Jika bisa, survey lokasi pengamatan sebelum hari-H akan memudahkan Anda dalam melakukan pengamatan nantinya.</p>
<p>3. Cuaca<br />
Satu hal yang terpenting untuk diperhatikan di hari-H adalah masalah cuaca. Keberhasilan pengamatan gerhana nanti memang sangat bergantung pada cuaca lokasi. Namun kita tidak bisa berharap bahwa cuaca akan baik pada saat gerhana berlangsung. Jadi yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu saat turun hujan deras. Peralatan yang kita bawa harus bebas dari resiko basah terkena hujan. Lengkapi bawaan kita dengan sejumlah tas plastik besar (trash bag) sebagai antisipasi darurat kala hujan turun tiba-tiba.</p>
<p>Itu tadi langkah-langkah persiapan untuk Anda. Semoga rencana Anda bisa berjalan lancar dengan melakukan persiapan yang saya berikan itu. Bagaimana dengan rencana pengamatan saya? Saya kemungkinan besar akan melakukan pengamatan gerhana ini di Semarang. Namun belum ada kepastian masalah lokasinya, karena saya masih menunggu jawaban dari beberapa pihak yang memiliki teleskop di Semarang. Apabila Anda ingin melakukan pengamatan bersama dengan saya, silakan hubungi saya melalui email hanief[dot]trihantoro[at]yahoo[dot]com, atau silakan lihat diskusinya di mailing list <a href="http://tech.groups.yahoo.com/group/astronomi_semarang/">astronomi_semarang di yahoogroups</a> .</p>
<p>Terakhir, sekali lagi saya ingatkan: JANGAN SEKALIPUN MENGAMATI MATAHARI TANPA FILTER PENAPIS CAHAYA MATAHARI, BAIK MEMAKAI MATA TELANJANG, TELESKOP, ATAU ALAT BANTU OPTIK LAINNYA, KARENA AKAN MERUSAK DAN BAHKAN MEMBUTAKAN MATA ANDA.</p>
<p>Selamat melakukan pengamatan!</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fgerhana-matahari-cincin-26-januari-2009%2F&amp;linkname=Gerhana%20Matahari%20Cincin%2026%20Januari%202009"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IYA2009, Tahun 2009 Sebagai Tahun Astronomi Internasional</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/iya2009-tahun-2009-sebagai-tahun-astronomi-internasional/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/iya2009-tahun-2009-sebagai-tahun-astronomi-internasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 19:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[IYA 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Selamat datang tahun 2009, tahun yang dinanti oleh masyarakat astronomi dunia. Mengapa? Karena tahun 2009 dinyatakan sebagai The International Year of Astronomy (IYA2009) atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Tahun Astronomi Internasional. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan IYA2009 itu? Dan mengapa tahun 2009 yang dipilih?

IYA2009 adalah sebuah perayaan selama setahun penuh tentang astronomi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat datang tahun 2009, tahun yang dinanti oleh masyarakat astronomi dunia. Mengapa? Karena tahun 2009 dinyatakan sebagai <a title="IYA2009" href="http://www.astronomy2009.org/">The International Year of Astronomy (IYA2009</a>) atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Tahun Astronomi Internasional. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan IYA2009 itu? Dan mengapa tahun 2009 yang dipilih?<br />
<span id="more-85"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://www.astronomy2009.org"><img title="Logo IYA2009" src="http://www.astronomy2009.org/static/images/iya_logo.jpg" alt="Logo IYA2009" width="150" height="284" /></a><p class="wp-caption-text">Logo IYA2009</p></div>
<p>IYA2009 adalah sebuah perayaan selama setahun penuh tentang astronomi dan peran sertanya pada kebudayaan dan kehidupan masyarakat dunia. Usulan awal perayaan ini dicetuskan pada tahun 2006 oleh badan astronomi internasional yang bernama <a title="IAU" href="http://www.iau.org/">International Astronomical Union (IAU)</a> kepada <a title="PBB" href="http://www.un.org/">PBB</a>. Latar belakangnya adalah sebuah peristiwa yang sangat bersejarah bagi ilmu astronomi dunia. Peristiwa tersebut terjadi tepat 400 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1609, ketika Galileo (1564 &#8211; 1642) menjadi orang pertama yang melakukan pengamatan langit dengan menggunakan teleskop (yang ia buat sendiri). Kemudian PBB melalui <a title="UNESCO" href="http://www.unesco.org/">UNESCO</a>, salah satu badan PBB yang menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, mendukung ide tersebut dan pada 20 Desember 2007 menetapkan tahun 2009 sebagai Tahun Astronomi Internasional.</p>
<p>Tema peringatan IYA2009 ini adalah &#8220;The Universe, Yours To Discover&#8221;. Tema ini bermakna bahwa sebenarnya alam semesta (astronomi) adalah milik semua orang, bukan hanya milik astronom saja. Jadi siapapun dapat menikmati astronomi dan berperan serta dalam pengembangannya. Dan tujuan dari perayaan ini juga sangat berkaitan erat dengan itu, yaitu untuk membangun kesadaran masyarakat, terutama kaum muda, terhadap peran astronomi dan ilmu pengetahuan dalam kehidupan dan kebudayaan manusia. Karena menurut pandangan IYA2009, semua orang harus menyadari pengaruh besar yang diberikan ilmu astronomi dan ilmu alam (sains) lainnya terhadap kehidupan sehari-hari, sehingga kini dan di masa mendatang umat manusia dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Jadi, diharapkan kegiatan astronomi sepanjang tahun 2009 akan mengubah pandangan masyarakat sehingga apresiasi terhadap aspek inspiratif astronomi menjadi lebih besar.</p>
<p>Dalam IYA2009, IAU didukung oleh lebih dari 100 negara di dunia. Masing-masing negara tersebut memiliki koordinator yang akan merencanakan dan mengatur kegiatan astronomi yang akan diadakan. Kegiatan ini akan membutuhkan kerja sama antara astronom profesional dan amatir, dengan institusi ilmu pengetahuan yang peduli seperti observatorium, planetarium, universitas, sekolah, dan lembaga-lembaga lainnya.</p>
<p>Di Indonesia, koordinasi kegiatan IYA2009 berada di tangan Dr. Taufik Hidayat yang bekerja sebagai dosen di Program Studi Astronomi ITB dan peneliti di Observatorium Bosscha, Lembang. Dalam tim yang dipimpinnya, orang-orang dari <a title="Planetarium Jakarta" href="http://planetarium.jakarta.go.id/">Planetarium Jakarta</a> dan <a title="langitselatan" href="http://langitselatan.com/">langitselatan</a> juga ikut ambil bagian untuk mengurusi kegiatan astronomi amatir dan sosial. Informasi lebih lengkap mengenai IYA2009 di Indonesia bisa kita temukan di situs <a title="IYA2009 Di Indonesia" href="http://bosscha.itb.ac.id/iya2009/">http://bosscha.itb.ac.id/iya2009</a>.</p>
<p>Kegiatan pertama IYA2009 yang dilakukan serentak di seluruh dunia adalah pengamatan matahari pada tanggal 1 Januari 2009 ini. Kemudian peristiwa Gerhana Matahari Cincin yang akan terjadi pada tanggal 26 Januari 2009 menjadi fenomena astronomi terbesar pertama di tahun ini yang sayang untuk dilewatkan, terutama karena peristiwa ini dapat kita saksikan di Indonesia. Jadi, tunggu apa lagi? Segera hubungi insan/lembaga astronomi dan pengetahuan di Indonesia untuk mencari tahu bagaimana cara untuk berpartisipasi dalam kegiatan astronomi setahun penuh di tahun 2009 ini dalam program Tahun Astronomi Internasional.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fiya2009-tahun-2009-sebagai-tahun-astronomi-internasional%2F&amp;linkname=IYA2009%2C%20Tahun%202009%20Sebagai%20Tahun%20Astronomi%20Internasional"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/iya2009-tahun-2009-sebagai-tahun-astronomi-internasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan Sebagian 17 Agustus 2008</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-sebagian-17-agustus-2008/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-sebagian-17-agustus-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 19:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[Penumbra]]></category>
		<category><![CDATA[Umbra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat tulisan saya tentang gerhana di bulan Agustus tahun lalu? Saat itu gerhana yang terjadi adalah gerhana bulan total yang kebetulan dapat diamati di Indonesia. Apakah ada yang terlewat dan tidak sempat mengamatinya? Jangan khawatir, karena dalam waktu dekat kita akan dapat mengamati gerhana kembali yang dapat diamati di semua bagian Indonesia. Bedanya kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingat tulisan saya tentang <a title="Gerhana Bulan 28 Agustus 2007" href="http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-28-agustus-2007/">gerhana di bulan Agustus tahun lalu</a>? Saat itu gerhana yang terjadi adalah gerhana bulan total yang kebetulan dapat diamati di Indonesia. Apakah ada yang terlewat dan tidak sempat mengamatinya? Jangan khawatir, karena dalam waktu dekat kita akan dapat mengamati gerhana kembali yang dapat diamati di semua bagian Indonesia. Bedanya kali ini yang terjadi adalah gerhana bulan sebagian. Dan gerhana ini akan menjadi kado spesial untuk Indonesia karena terjadi bersamaan dengan perayaan hari kemerdekaan kita, yaitu pada tanggal 17 Agustus 2008 dini hari.<br />
<span id="more-83"></span><br />
Proses gerhana ini diawali dengan masuknya bulan ke penumbra bumi pada pukul 18.23 UT atau 01.23 WIB, dengan ketinggian bulan saat itu adalah sekitar 60 derajat dari titik barat. Kemudian puncak rangkaian gerhana ini adalah masuknya sebagian bulan ke dalam umbra bumi yang dimulai pada pukul 02.35 WIB dan berakhir 05.44 WIB. Kemungkinan kita tidak dapat menyaksikan bagian akhir dari gerhana kali ini karena langit sudah mulai terang pada saat kontak umbra terakhir pada pukul 05.44 WIB, dan bahkan matahari sudah terbit saat kontak penumbra terakhir pada pukul 06.57 WIB.</p>
<p>Jika tahun lalu saya menyarankan lokasi yang terletak lebih ke timur untuk mengamati gerhana lebih lama, kali ini lokasi yang terletak lebih ke barat akan memberikan kesempatan yang lebih lama bagi kita untuk mengamati gerhana ini. Karena gerhana kali ini terjadi saat bulan berada di barat. Jadi para pengamat di pulau Sumatera akan dapat mengamati gerhana lebih lama dari pada pengamat di daerah Papua.</p>
<p>Informasi lebih lengkap mengenai gerhana bulan sebagian 17 Agustus 2008 ini dan peta kenampakan gerhana di dunia dapat dilihat di halaman <a title="Gerhana Bulan Sebagian 17 Agustus 2008" href="http://eclipse.gsfc.nasa.gov/OH/OH2008.html#2008Aug16P">ini</a> dan <a title="Peta Kenampakan GBS 17 Agustus 2008" href="http://eclipse.gsfc.nasa.gov/LEplot/LEplot2001/LE2008Aug16P.GIF">ini</a> dari <a title="NASA Eclipse Web Site" href="http://eclipse.gsfc.nasa.gov/eclipse.html">NASA Eclipse Web Site</a>.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fgerhana-bulan-sebagian-17-agustus-2008%2F&amp;linkname=Gerhana%20Bulan%20Sebagian%2017%20Agustus%202008"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-sebagian-17-agustus-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengamati Planet Di Malam Hari</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/mengamati-planet-di-malam-hari/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/mengamati-planet-di-malam-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 19:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang Berkedip]]></category>
		<category><![CDATA[Langit Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Planet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Dapatkah kita mengamati planet yang ada di tata surya kita? Mungkin di antara kita ada yang bertanya seperti itu. Jawabannya adalah bisa, tetapi tidak semuanya. Lalu, planet mana saja yang bisa kita amati? 
Dari 7 planet (tidak termasuk Bumi), 2 planet akan sulit diamati dengan mata telanjang (Uranus dan Neptunus) karena terlalu redup, 2 planet [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dapatkah kita mengamati planet yang ada di tata surya kita? Mungkin di antara kita ada yang bertanya seperti itu. Jawabannya adalah bisa, tetapi tidak semuanya. Lalu, planet mana saja yang bisa kita amati? <span id="more-81"></span></p>
<p>Dari 7 planet (tidak termasuk Bumi), 2 planet akan sulit diamati dengan mata telanjang (Uranus dan Neptunus) karena terlalu redup, 2 planet akan hanya dapat diamati di sekitar waktu matahari terbit atau tenggelam (Merkurius dan Venus) karena kedua planet tersebut mengorbit matahari pada jarak yang lebih dekat daripada bumi, dan 3 planet akan relatif lebih mudah diamati sepanjang malam (Mars, Jupiter, dan Saturnus), walaupun belum tentu sepanjang tahun kita bisa mengamatinya. Di antara kelima planet yang dapat diamati tersebut, kesempatan kita untuk mengamati Merkurius paling kecil karena kita hanya dapat mengamatinya sebelum matahari terbit atau sesudah matahari tenggelam dengan durasi tidak lebih dari 1,5 jam.</p>
<p>Setelah mengetahui besarnya peluang kita untuk dapat mengamati planet, tentunya sekarang kita ingin tahu bagaimana menikmati keberadaan planet di antara banyaknya bintang pada suatu malam dengan langit yang cerah. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sebuah titik terang tertentu di langit adalah planet? Cara untuk membedakannya relatif mudah setelah latihan yang cukup, yaitu bintang akan tampak berkedip sementara planet tidak.</p>
<p>Sebagai contoh dan latihan, cobalah mengamati planet Jupiter yang akan tampak sebagai bintang terang di sekitar rasi Sagittarius di beberapa malam ini. Dan karena Jupiter sangat terang (magnitudo -2.7), Anda tidak perlu takut mengalami kesulitan dalam mencari objek ini. Planet ini relatif mudah dikenali. Dan saya lampirkan peta langit untuk tanggal 16 Agustus 2008 pukul 19.30 WIB dengan lokasi di Semarang.</p>
<div id="attachment_71" class="wp-caption alignleft" style="width: 138px"><a href="http://hanieftrihantoro.files.wordpress.com/2008/08/20080816-1930-smg.png"><img class="size-thumbnail wp-image-71" src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2008/08/20080816-1930-smg.png?w=128" alt="Semarang, 16 Agustus 2008 19.30 WIB" width="128" height="96" /></a><p class="wp-caption-text">Semarang, 16 Agustus 2008 19.30 WIB</p></div>
<p>Setelah matahari tenggelam pandanglah arah timur, kemudian dengan ketinggian sekitar 40 derajat dari horison Anda akan menemukan bintang yang sangat terang. Itulah Jupiter. Untuk memastikan bahwa yang Anda lihat adalah Jupiter, coba bandingkan &#8220;bintang&#8221; terang tersebut dengan beberapa bintang lainnya. Misalnya di sebelah barat laut ada bintang merah Arcturus (magnitudo -0.04), di sebelah timur laut ada Vega (0.03), di sebelah selatan ada 4 bintang yang membentuk rasi Salib Selatan/Layang-Layang dan dua bintang yang menunjuk ke arahnya, yaitu Alfa dan Beta Centauri. Jika sudah menemukan bintang-bintang tersebut, buktikan apa yang sudah saya tulis di atas. Bintang-bintang akan nampak berkedip, sedangkan Jupiter tidak. Bagaimana?</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fmengamati-planet-di-malam-hari%2F&amp;linkname=Mengamati%20Planet%20Di%20Malam%20Hari"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/mengamati-planet-di-malam-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Bintang Tampak Berkedip?</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/mengapa-bintang-tampak-berkedip/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/mengapa-bintang-tampak-berkedip/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 19:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Atmosfer]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/2009/02/mengapa-bintang-tampak-berkedip/</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda perhatikan dengan seksama, bahwa bintang yang kita amati di malam hari tampak berkedip? Cahayanya berubah-ubah seperti lampu kelap-kelip, dan terkadang warnanya pun berubah-ubah dari putih ke biru atau merah dan sebaliknya. Sebenarnya bintang memancarkan energinya relatif konstan/stabil setiap saat. Jadi perubahan yang terjadi tidak berasal dari bintangnya. Ada hal lain yang menyebabkan bintang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah Anda perhatikan dengan seksama, bahwa bintang yang kita amati di malam hari tampak berkedip? Cahayanya berubah-ubah seperti lampu kelap-kelip, dan terkadang warnanya pun berubah-ubah dari putih ke biru atau merah dan sebaliknya. Sebenarnya bintang memancarkan energinya relatif konstan/stabil setiap saat. Jadi perubahan yang terjadi tidak berasal dari bintangnya. Ada hal lain yang menyebabkan bintang tampak berkedip. Apakah itu? <span id="more-79"></span></p>
<p>Penyebab utamanya adalah karena bumi memiliki atmosfer. Banyaknya lapisan udara dengan temperatur yang berbeda-beda di atmosfer menyebabkan lapisan-lapisan udara tersebut bergerak-gerak sehingga menimbulkan turbulensi. Turbulensi ini bentuknya sama seperti ombak atau gelombang di laut dan kolam renang. Jadi untuk mendapatkan gambaran seperti apa yang terjadi di atmosfer, bayangkan sebuah kolam renang yang permukaannya tidak tenang.</p>
<p>Sebuah koin yang terletak diam di dasar kolam renang akan tampak bergerak-gerak jika kita lihat dari atas permukaan air. Gerak semu ini terjadi karena adanya refraksi/pembiasan. Menurut ilmu fisika, ketika berkas cahaya melewati dua medium yang indeks biasnya berbeda, cahaya tersebut akan dibiaskan/dibelokkan. Untuk kasus koin di kolam renang, cahaya yang dipantulkan koin melewati dua medium yang indeks biasnya berbeda, yaitu air dan udara, sebelum jatuh di mata. Dan karena permukaan air yang tidak tenang, posisi koin yang sebenarnya tetap pun akan tampak berpindah-pindah.</p>
<p>Hal yang sama terjadi pada cahaya bintang yang melewati atmosfer bumi. Ketika memasuki atmosfer bumi, cahaya bintang akan dibelokkan oleh lapisan udara yang bergerak-gerak. Akibatnya posisi bintang akan berpindah-pindah. Tetapi karena perubahan posisinya sangat kecil untuk dideteksi mata, maka kita akan melihatnya sebagai kedipan.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan planet, mengapa planet tidak tampak berkedip? Bintang, sebesar apapun ukurannya dan sedekat apapun jaraknya, akan tampak sebagai sebuah titik cahaya jika diamati dari bumi, bahkan dengan teleskop terbaik yang dimiliki manusia. Sedangkan planet yang memiliki ukuran yang jauh lebih kecil daripada bintang akan tampak lebih besar dari bumi karena jaraknya yang jauh lebih dekat. Dengan teleskop kecil saja kita akan dapat melihat planet sebagai sebuah piringan, bukan sebagai sebuah titik cahaya. Ukuran piringan ini cukup besar sehingga turbulensi atmosfer tidak memberikan pengaruh yang nyata pada berkas cahaya planet. Dilihat dari permukaan bumi, planet pun akan tampak tidak berkedip. Kecuali pada kondisi atmosfer yang turbulensinya sangat kuat, atau saat planet berada di dekat horison, planet akan tampak berkedip juga. Karena pada saat planet berada di dekat horison (sesaat setelah terbit atau sebelum tenggelam), berkas cahayanya harus melewati atmosfer yang lebih tebal.</p>
<p>Setelah kita tahu bahwa penyebab bintang tampak berkedip adalah atmosfer bumi, kita bisa sesuaikan dengan kebutuhan kita dalam melakukan pengamatan. Jika kita ingin mengamati bintang dengan gangguan atmosfer paling sedikit, kita bisa tunggu hingga bintang tersebut berada dekat meridian. Atau jika kita ingin melihat bintang tidak berkedip sama sekali, kita bisa pergi ke luar angkasa, atau bulan, atau planet yang tidak memiliki atmosfer (ingat, bulan tidak memiliki atmosfer). Ada yang ingin membuktikan sendiri?</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fmengapa-bintang-tampak-berkedip%2F&amp;linkname=Mengapa%20Bintang%20Tampak%20Berkedip%3F"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/mengapa-bintang-tampak-berkedip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Magnitudo</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/sistem-magnitudo/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/sistem-magnitudo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 19:43:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pogson]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem Magnitudo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita melihat langit malam, akan kita dapati bermacam benda langit yang terangnya berbeda-beda. Bagaimana caranya agar kita dapat mengetahui perbandingan terang antara objek yang satu dengan yang lain? Di astronomi, kecerlangan benda langit dinyatakan dengan skala magnitudo. Dengan sistem ini juga, kita dapat menghitung perbandingan kecerlangan dua benda langit yang berbeda. Lalu bagaimana sistem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika kita melihat langit malam, akan kita dapati bermacam benda langit yang terangnya berbeda-beda. Bagaimana caranya agar kita dapat mengetahui perbandingan terang antara objek yang satu dengan yang lain? Di astronomi, kecerlangan benda langit dinyatakan dengan skala magnitudo. Dengan sistem ini juga, kita dapat menghitung perbandingan kecerlangan dua benda langit yang berbeda. Lalu bagaimana sistem magnitudo ini bekerja?</p>
<p><span id="more-76"></span></p>
<p>Jaman dahulu ketika belum ada listrik dan lampu, penduduk/perumahan belum banyak, lingkungan sekitar tidaklah seterang sekarang. Malam hari menjadi sangat gelap sehingga langit malam tampak lebih indah karena tidak ada polusi cahaya. Ketika cuaca cerah, orang dapat menikmati hiburan yang menakjubkan di layar lebar langit malam. Ribuan bintang, nebula dan gugus bintang yang terlihat sebagai awan kabut kecil, dan pita putih Bima Sakti, menghiasi angkasa. Sejarah ditemukannya sistem magnitudo untuk menentukan kecerlangan bintang dimulai dari kondisi seperti itu. Banyak yang bisa dilakukan dengan langit pada saat itu.</p>
<p>Sekitar tahun 150 SM, seorang astronom Yunani bernama Hipparchus membuat sistem klasifikasi kecerlangan bintang yang pertama. Saat itu, ia mengelompokkan kecerlangan bintang menjadi enam kategori dalam bentuk yang kurang lebih seperti ini: paling terang, terang, tidak begitu terang, tidak begitu redup, redup dan paling redup. Hal tersebut dilakukannya dengan membuat katalog bintang yang pertama. Sistem tersebut kemudian berkembang dengan penambahan skala sebagai penentu kecerlangan. Yang paling terang memiliki skala 1, berikutnya 2, 3, hingga yang paling redup berskala 6. Klasifikasi inilah yang kemudian dikenal sebagai sistem magnitudo. Skala dalam sistem magnitudo ini terbalik sejak pertama kali dibuat. Semakin terang sebuah bintang, magnitudonya semakin kecil. Dan sebaliknya semakin redup bintang, magnitudonya semakin besar.</p>
<p>Sistem tersebut kemudian semakin berkembang setelah Galileo dengan teleskopnya menemukan bahwa ternyata terdapat lebih banyak bintang lagi yang lebih redup daripada yang bermagnitudo 6. Skalanya pun berubah hingga muncul magnitudo 7, 8 dan seterusnya. Apalagi sekarang teknologi teleskop sudah semakin maju sehingga bintang paling redup yang masih dapat diamati oleh Hubble Space Telescope adalah bintang dengan magnitudo 31! Walaupun magnitudo 6 sudah bukan lagi nilai terbesar, tetapi magnitudo 6 ini tetap penting hingga kini karena inilah batas magnitudo bintang yang paling redup yang dapat diamati dengan mata telanjang.</p>
<p>Sama seperti perkembangan yang terjadi pada magnitudo besar, magnitudo kecil juga mengalami ekspansi seiring dengan semakin majunya teknologi detektor. Dalam kelompok magnitudo 1 kemudian diketahui terdapat beberapa bintang tampak lebih terang dari yang lainnya sehingga muncullah magnitudo 0. Bahkan magnitudo negatif juga diperlukan untuk objek langit yang lebih terang lagi. Contoh beberapa bintang/objek terang dapat dilihat di <a href="http://seds.org/Maps/Stars_en/">halaman ini</a>.</p>
<p>Pada tahun 1800-an berkembanglah perhitungan matematis untuk sistem magnitudo. Pogson memberikan rumusan berbentuk logaritmis yang masih digunakan hingga sekarang dengan aturan seperti berikut. Secara umum, perbedaan sebesar 5 magnitudo menunjukkan perbandingan kecerlangan sebesar 100 kali. Jadi, bintang dengan magnitudo 1 lebih terang 100 kali daripada bintang dengan magnitudo 6, dan lebih terang 10000 kali daripada bintang bermagnitudo 11, begitu seterusnya. Dengan rumusan Pogson ini, perhitungan magnitudo bintang pun menjadi lebih teliti dan lebih dapat dipercaya.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fsistem-magnitudo%2F&amp;linkname=Sistem%20Magnitudo"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/sistem-magnitudo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koordinat Horison (Alt-Azimuth)</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/koordinat-horison-alt-azimuth/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/koordinat-horison-alt-azimuth/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 19:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Altitud]]></category>
		<category><![CDATA[Azimuth]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Koordinat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Pada tulisan sebelumnya, kita sudah membahas koordinat langit ekuatorial. Sekarang, giliran koordinat horison (alt-azimuth) yang dibahas. Seperti apa sebenarnya koordinat ini, dan apa bedanya dengan koordinat ekuatorial? Berikut pembahasannya.
Koordinat alt-azimuth adalah menentukan posisi benda langit yang hanya berlaku secara lokal di sekitar pengamat saja. Nama koordinat ini ditentukan dari dua kata yang didefinisikan sebagai penentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tulisan <a title="Koord ekuatorial" href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/2007/06/14/koordinat-langit-ekuatorial/">sebelumnya</a>, kita sudah membahas koordinat langit ekuatorial. Sekarang, giliran koordinat horison (alt-azimuth) yang dibahas. Seperti apa sebenarnya koordinat ini, dan apa bedanya dengan koordinat ekuatorial? Berikut pembahasannya.</p>
<p>Koordinat alt-azimuth adalah menentukan posisi benda langit yang hanya berlaku secara lokal di sekitar pengamat saja. Nama koordinat ini ditentukan dari dua kata yang didefinisikan sebagai penentu posisi benda, yaitu altitud (disingkat alt) dan azimuth. Istilah-istilah penting lainnya yang digunakan dalam koordinat ini adalah horison, zenith, dan nadir.</p>
<p><span id="more-73"></span></p>
<p>Horison adalah bidang datar yang menjadi pijakan pengamat, yang menjadi batas antara belahan langit yang dapat diamati dengan yang tidak dapat diamati. Apabila kita berada di tengah-tengah laut, kita akan melihat horison ini sebagai pertemuan antara langit dengan permukaan laut. Kemudian zenith adalah sebuah titik khayal di langit yang berada tepat di atas pengamat. Sedangkan nadir adalah kebalikan dari zenith, yaitu sebuah titik yang berada di bawah pengamat. Kedua titik ini terletak tegak lurus terhadap horison.</p>
<p>Bagaimana menentukan posisi sebuah bintang menurut koordinat alt-azimuth ini? Altitud (a) menunjukkan ketinggian bintang dari horison. Apabila sebuah bintang baru terbit atau tenggelam, ketinggiannya dari horison adalah 0 derajat. Dan bintang yang berada di zenith memiliki altitud 90 derajat. Azimuth (A) menyatakan sudut yang dibentuk antara bintang dengan titik utara atau selatan. Pengamat yang berada di belahan bumi utara menghitung azimuth bintang dari titik utara ke arah timur (searah putaran jarum jam). Sedangkan pengamat yang berada di belahan bumi selatan menghitung azimuth bintang dari titik selatan ke arah timur (berlawanan arah putaran jarum jam). Besarnya azimuth adalah dari 0 derajat hingga 360 derajat.</p>
<p>Sebagai contoh, untuk pengamat yang berada di Semarang (selatan khatulistiwa), sebuah bintang yang berada 45 derajat di atas titik utara memiliki azimuth 180 derajat. Sedangkan bagi pengamat yang ada di Aceh misalnya, bintang yang berada 45 derajat di atas titik utara memiliki azimuth 0 derajat (Lihat juga gambar di bawah).</p>
<p><a href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2008/06/bolalangit-altaz.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-44" style="float:left;" src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2008/06/bolalangit-altaz.png?w=93" alt="" width="120" /></a>Lalu apa kelebihan dan kekurangan sistem koordinat ini jika dibandingkan dengan sistem koordinat ekuatorial? Penentuan nilai altitud dan azimuth dari sebuah objek yang relatif mudah menjadi kelebihan sistem koordinat ini. Untuk menentukan altitud, kita bisa gunakan sextant, sedangkan untuk menentukan azimuth kita dapat gunakan kompas. Titik acuan koordinatnya (horison dan titik utara atau selatan) pun jelas dan dapat kita tentukan dengan mudah. Hal ini jauh lebih mudah Jika dibandingkan dengan menentukan titik gamma, ekuator langit, asensiorekta dan deklinasi pada sistem koordinat ekuatorial.</p>
<p>Sementara kekurangan sistem koordinat ini adalah bahwa, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, koordinat alt-azimuth hanya berlaku lokal (di sekitar pengamat) saja. Ketinggian dan azimuth sebuah bintang pada saat yang sama akan memiliki nilai yang berbeda jika dilihat dari tempat yang jauh. Misalkan seorang pengamat di Semarang ingin memberitahukan sebuah objek yang ditemukannya kepada pengamat lain di Bandung dengan memberikan koordinat alt-azimuth objek tersebut, maka pengamat di Bandung akan kesulitan menemukan objek yang dimaksud.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fkoordinat-horison-alt-azimuth%2F&amp;linkname=Koordinat%20Horison%20%28Alt-Azimuth%29"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/koordinat-horison-alt-azimuth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>World Space Week, Memperingati Pekan Antariksa Dunia</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/world-space-week-memperingati-pekan-antariksa-dunia/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/world-space-week-memperingati-pekan-antariksa-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 18:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[pekan antariksa]]></category>
		<category><![CDATA[Space Week]]></category>
		<category><![CDATA[sputnik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar World Space Week, atau yang bisa diterjemahkan menjadi Pekan Antariksa Dunia, tentunya membawa pikiran kita bahwa peristiwa ini adalah peristiwa yang diperingati di seluruh dunia. Tetapi berbeda dengan peringatan-peringatan lainnya, Space Week adalah peristiwa yang diperingati selama seminggu, yaitu dari tanggal 4 hingga 10 Oktober. Lalu apa sebenarnya Space Week itu dan kenapa dipilih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar World Space Week, atau yang bisa diterjemahkan menjadi Pekan Antariksa Dunia, tentunya membawa pikiran kita bahwa peristiwa ini adalah peristiwa yang diperingati di seluruh dunia. Tetapi berbeda dengan peringatan-peringatan lainnya, Space Week adalah peristiwa yang diperingati selama seminggu, yaitu dari tanggal 4 hingga 10 Oktober. Lalu apa sebenarnya Space Week itu dan kenapa dipilih tanggal-tanggal itu?</p>
<p><span id="more-69"></span></p>
<p><a href="http://www.spaceweek.org/WSW-Logo-Color-WSW-Text_Dates_BLK.png"><img class="alignleft" style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" src="http://www.spaceweek.org/WSW-Logo-Color-WSW-Text_Dates_BLK.png" alt="" hspace="0" vspace="0" width="75" align="left" /></a><br />
World Space Week adalah perayaan internasional terhadap kontribusi ilmu pengetahuan alam dan teknologi pada kehidupan manusia. Khususnya adalah ilmu yang berkaitan dengan penerbangan ke luar angkasa dan pemanfaatan ruang angkasa untuk kehidupan. Kemudian tanggal 4 &#8211; 10 Oktober dipilih karena tanggal-tanggal tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat penting.</p>
<p>Pada tanggal 4 Oktober 1957, terjadi peluncuran satelit buatan manusia yang pertama. Satelit itu adalah <a title="Sputnik 1" href="http://www.hq.nasa.gov/office/pao/History/sputnik/index.html">Sputnik 1</a> milik Uni Sovyet [kini Rusia]. Peristiwa ini kemudian mengawali eksplorasi ruang angkasa dari banyak negara. Sedangkan tanggal 10 Oktober 1967 dipilih karena adanya penandatanganan &#8220;Treaty on Principles Governing the Activites of States in the Exploration and Peaceful Uses of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies.&#8221; Inti dari perjanjian ini adalah tentang hukum internasional luar angkasa (isi perjanjian dapat dilihat di <a title="Outer Space Treaty" href="http://www.iafastro.org/index.php?id=508">halaman ini</a>).</p>
<p>Kedua tanggal ini kemudian dipilih oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1999 sebagai peringatan World Space Week yang akan dilakukan setiap tahun. Jadi, dimulailah peringatan Space Week ini pada tahun 2000. Secara umum, Space Week ini memiliki beberapa tujuan yang ditargetkan, yaitu:</p>
<ul>
<li> mendidik masyarakat dunia tentang keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan teknologi ruang angkasa</li>
</ul>
<ul>
<li> memancing lebih banyak penggunaan ruang angkasa yang lebih baik untuk pengembangan ekonomi.</li>
</ul>
<ul>
<li>menunjukkan program-program tentang ruang angkasa yang sedang/telah direncanakan</li>
</ul>
<ul>
<li> memberikan pembelajaran kepada anak-anak tentang masa depan dan ruang angkasa.</li>
</ul>
<ul>
<li> mengajak perusahaan-perusahaan internasional yang berkaitan untuk membuat kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan teknologi ruang angkasa.</li>
</ul>
<p>Peringatan Space Week ini dapat dilakukan oleh organisasi pemerintah, industri, sekolah, atau bahkan secara individu juga bisa. Koordinasinya berada di tangan PBB dengan dukungan World Space Week Association (WSWA) dan koordinator lokal di banyak negara. Semua kegiatan untuk memperingati Space Week yang dilakukan di seluruh dunia akan didata oleh WSWA. Data tersebut, dan banyak informasi lainnya, dapat dilihat ke situs resminya di alamat <a title="Space Week" href="http://www.spaceweek.org">www.spaceweek.org</a>.</p>
<p>Selain tujuan, peringatan Space Week juga memiliki tema yang berbeda di setiap tahunnya. Untuk tahun 2007 ini, tema yang diusung adalah &#8220;50 Years in Space.&#8221; Dalam situs resminya dijelaskan bahwa sejarah penjelajahan ruang angkasa dimulai pada tanggal 4 Oktober 1957 saat peluncuran Sputnik 1. Berarti World Space Week tahun 2007 ini menandai peristiwa yang sudah terjadi 50 tahun yang lalu itu. Tema ini mengajak masyarakat untuk melihat kembali semua yang sudah pernah dilakukan manusia terhadap ruang angkasa, dan juga untuk melihat masa 50 tahun selanjutnya.</p>
<p>Di Indonesia, Space Week sudah mulai dikenal sejak tahun 2003 yang lalu. Saat itu, Himastron (Himpunan Mahasiswa Astronomi) ITB mengadakan serangkaian kegiatan yang bertajuk Space Week 2003 &#8220;October Sky.&#8221; Kegiatan ini kemudian didaftarkan pada WSWA sehingga dalam situs resmi Space Week dapat kita lihat daftar kegiatan yang diselenggarakan waktu itu. Dan di tahun berikutnya, Himastron ITB kembali mengadakan kegiatan yang juga terdaftar di situs resmi Space Week.</p>
<p>Namun tampaknya di tahun-tahun berikutnya tidak ada penyelenggaraan peringatan Space Week di Indonesia yang didaftarkan ke WSWA. Padahal nama Indonesia dapat terangkat di seluruh dunia dengan terdaftarnya kegiatan Space Week yang diselenggarakan. Jadi, demi kemajuan ilmu astronomi di Indonesia, alangkah baiknya jika peringatan Space Week selanjutnya dapat dikoordinasikan dengan WSWA dan kemudian dapat dilakukan secara rutin di setiap tahunnya.</p>
<p><em>Tulisan ini juga dimuat di <a title="Situs Astronomi Indonesia" href="http://langitselatan.com/2007/10/17/world-space-week-memperingati-pekan-antariksa-dunia/#more-222">http://langitselatan.com</a></em></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fworld-space-week-memperingati-pekan-antariksa-dunia%2F&amp;linkname=World%20Space%20Week%2C%20Memperingati%20Pekan%20Antariksa%20Dunia"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/world-space-week-memperingati-pekan-antariksa-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan 28 Agustus 2007</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-28-agustus-2007/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-28-agustus-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 18:45:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Di bulan Agustus ini, tampaknya Mars masih menyita perhatian masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dari banyaknya orang yang memperoleh berita bohong tersebut. Artikel saya pun menjadi artikel yang paling banyak dibaca dalam weblog ini. Padahal di bulan ini masih ada satu lagi peristiwa astronomi yang sebenarnya sangat menarik. Jadi, mari kita sekarang alihkan perhatian dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di bulan Agustus ini, tampaknya Mars masih menyita perhatian masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dari banyaknya orang yang memperoleh berita bohong tersebut. Artikel saya pun menjadi artikel yang paling banyak dibaca dalam weblog ini. Padahal di bulan ini masih ada satu lagi peristiwa astronomi yang sebenarnya sangat menarik. Jadi, mari kita sekarang alihkan perhatian dari Mars yang sebesar bulan purnama yang tidak akan pernah terjadi.</p>
<p>Pada hari Selasa tanggal 28 Agustus 2007 nanti akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT), yang kebetulan dapat diamati langsung di Indonesia. Proses gerhana tersebut berakhir pukul 13.20 UT (Universal Time = GMT, berbeda 7 jam dengan WIB) atau 20.20 WIB. Padahal di wilayah Indonesia bagian barat bulan baru terbit sekitar pukul 17.30 WIB, yang berarti peristiwa gerhana ini hanya dapat diamati kurang dari 3 jam saja. Proses gerhana itu sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak pukul 07.53 UT (pukul 14.53 WIB). Untuk ulasan lengkap mengenai GBT ini, silakan lihat <a title="Gerhana Bulan Total dari NASA" href="http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/OH/OH2007.html#2007Aug28T">halaman ini</a>, sedangkan <a href="http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/OH/image1/LE2007Aug28-Fig3.GIF">gambar dari NASA ini</a> memberikan ringkasannya.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/OH/image1/LE2007Aug28-Fig3.GIF"><img src="http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/OH/image1/LE2007Aug28-Fig3.GIF" alt="Gerhana Bulan Total 28 Agustus 2007 - NASA" width="250" /></a></p>
<p>Jika di wilayah barat Indonesia hanya memiliki durasi kurang dari 3 jam, tidak demikian halnya di wilayah timur Indonesia [lihat <a href="http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/LEmono/TLE2007Aug28/image/TLE2007Aug28-Map1s.GIF">gambar visibilitas GBT di dunia dari NASA</a>]. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan adanya perbedaan waktu di Indonesia. Sebenarnya, bulan terbit pada waktu yang hampir sama, yaitu antara 17.30 &#8211; 17.50 di setiap waktu lokal (WIB, WITA, WIT), sementara proses gerhana berakhir pada pukul 21.20 WITA atau 22.20 WIT. Berarti gerhana dapat kita amati selama hampir 4 jam untuk daerah WITA dan hampir 5 jam untuk daerah WIT. Di kota, kita mungkin akan kesulitan menyaksikan gerhana bulan yang terjadi pada saat bulan baru terbit, karena pandangan kita ke arah kaki langit (horison) terhalang oleh banyaknya bangunan tinggi. Jadi perhitungan durasi di atas masih belum dikurangi waktu untuk menunggu hingga bulan memiliki cukup ketinggian agar dapat diamati.Agar memperoleh kesempatan lebih besar untuk mengamati GBT ini, ada setidaknya dua pilihan yang dapat dilakukan. Pertama, sebaiknya pilih tempat pengamatan yang memiliki area pandang ke arah timur yang bebas tanpa terhalang bangunan, seperti lapangan, pantai, atau tempat yang tinggi seperti pegunungan atau bukit. Kedua, pilih tempat pengamatan yang memiliki durasi waktu GBT yang lebih lama, yaitu di wilayah timur Indonesia. Semakin timur, waktu pengamatan akan semakin lama.</p>
<p>Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada saat gerhana? Sebenarnya, gerhana itu ada dua, gerhana bulan dan gerhana matahari. Keduanya terjadi karena adanya kombinasi posisi antara tiga benda langit, yaitu matahari, bulan, dan bumi. Gerhana terjadi ketika ketiga benda tersebut berada pada satu garis lurus, dengan bumi berada di antara dua benda yang lain untuk peristiwa gerhana bulan, sedangkan gerhana matahari terjadi ketika bulan berada di antara matahari dan bumi. Untuk lebih jelasnya, <a title="Umbra dan penumbra" href="http://www.mreclipse.com/Special/image/LEDiagram1c.JPG">gambar ini</a> atau <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/01/cakrawala/cakrawala-utama-gerhana.gif">ini</a> akan memberikan ilustrasi tentang bidang orbit bumi dan bulan.</p>
<p>Gerhana bulan sendiri ada dua macam, gerhana bulan total (GBT) dan penumbral. Keduanya bergantung pada bagaimana posisi bulan terhadap bayangan yang terbentuk akibat terhalangnya cahaya matahari oleh bumi. Terdapat dua jenis bayangan bumi, yaitu umbra (bagian tergelap dari bayangan = semua cahaya terhalang sempurna) dan penumbra (sebagian cahaya masih diteruskan). Pada peristiwa GBT bulan memasuki umbra, sedangkan pada gerhana sebagian bulan tidak memasuki umbra, melainkan hanya pada penumbra bumi saja.</p>
<p>Apabila melihat posisi bulan, maka kedua gerhana tersebut selalu terjadi pada fase bulan tertentu. Gerhana matahari selalu terjadi pada fase bulan mati/baru, sedangkan gerhana bulan terjadi pada fase bulan purnama. Mungkin Anda akan bertanya mengapa kedua gerhana tersebut tidak terjadi di setiap bulan. Jawabannya adalah karena bidang orbit bulan membentuk sudut sebesar 5 derajat dengan orbit Bumi. Jadi kesempatan terjadinya gerhana tersebut adalah ketika orbit bulan berpotongan di dua titik dengan orbit bumi, dalam periode satu kali setiap enam (6) bulan. Ketika bulan berada pada titik perpotongan orbit itu, maka peristiwa gerhana sangat mungkin terjadi. <a href="http://www.pfm.howard.edu/astronomy/Chaisson/AT401/IMAGES/AACHCJC0.JPG">Gambar berikut</a> akan memberikan ilustrasi yang cukup jelas.</p>
<p>Mungkin Anda masih ingat peristiwa gerhana bulan yang pernah terjadi dan dapat diamati di Indonesia pada tanggal 4 Maret 2007 dini hari. Jika kita hitung perbedaan waktu dengan tanggal 28 Agustus 2007, selisih kedua tanggal tersebut adalah hampir enam bulan. Kemudian jika kita perhatikan menurut penanggalan Hijriah atau Jawa (dua kalender yang menggunakan Bulan sebagai penanda waktu), tanggal-tanggal dari kalender Masehi tersebut bersesuaian dengan pertengahan bulan (14-15), yang berarti pada tanggal tersebut bulan berada pada fase purnama.</p>
<p><a title="Eclipse di web NASA" href="http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/eclipse.html">Website nasa berikut</a> adalah salah satu web yang menyediakan informasi lebih banyak mengenai gerhana (bulan dan matahari).</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fgerhana-bulan-28-agustus-2007%2F&amp;linkname=Gerhana%20Bulan%2028%20Agustus%202007"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/gerhana-bulan-28-agustus-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koreksi Arah Kiblat dengan Bayangan Matahari</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/koreksi-arah-kiblat-dengan-bayangan-matahari/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/koreksi-arah-kiblat-dengan-bayangan-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 18:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 16 Juli 2007 pukul 16.27 WIB, matahari akan berada tepat di atas Ka&#8217;bah. Peristiwa ini dapat dimanfaatkan untuk mengoreksi arah kiblat, karena bayangan yang dibentuk oleh benda yang berdiri tegak lurus dengan bumi pada waktu tersebut akan menunjukkan arah Ka&#8217;bah.
Caranya, tegakkan sebuah tongkat yang cukup panjang dan letakkan pada tempat yang terkena sinar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 16 Juli 2007 pukul 16.27 WIB, matahari akan berada tepat di atas Ka&#8217;bah. Peristiwa ini dapat dimanfaatkan untuk mengoreksi arah kiblat, karena bayangan yang dibentuk oleh benda yang berdiri tegak lurus dengan bumi pada waktu tersebut akan menunjukkan arah Ka&#8217;bah.</p>
<p>Caranya, tegakkan sebuah tongkat yang cukup panjang dan letakkan pada tempat yang terkena sinar matahari di sore hari. Pada waktu yang disebutkan di atas, tandai garis yang dibentuk oleh bayangan tongkat. Arah kiblat adalah arah yang dituju dari bayangan tongkat bagian ujung ke bayangan bagian pangkal.</p>
<p><span id="more-65"></span></p>
<p style="text-align:center;"><a title="Koreksi Arah Kiblat, 16 Juli 2007" href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2007/07/kiblat_160707.png"><img src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2007/07/kiblat_160707.png" alt="Koreksi Arah Kiblat, 16 Juli 2007" width="150" align="left" /></a></p>
<p>Lalu bagaimana melakukan koreksi untuk tempat lain? Caranya adalah dengan menggunakan kompas. Dari bayangan yang diperoleh, gambarkan garis panjang sesuai jatuhnya bayangan pada selembar kertas. Kemudian pada kertas yang sama, gambarkan arah mata angin yang ditunjukkan oleh kompas. Kertas yang sudah digambari arah kiblat dan arah mata angin dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat di tempat lain, dengan langkah yang berkebalikan. Letakkan kertas di tempat yang diinginkan, kemudian di atasnya diletakkan kompas. Kemudian posisi kertas disesuaikan dengan arah mata angin yang ditunjuk kompas sedemikian sehingga arah mata angin di kertas sama dengan yang di kompas. Arah kiblat di kertas kemudian dapat &#8220;dipindahkan&#8221; ke tempat yang diinginkan tersebut.</p>
<p>Peristiwa ini terjadi sebagai akibat dari gerak semu matahari yang berkelana dari khatulistiwa, kemudian bergerak hingga 23,5 derajat Lintang Utara bumi, kembali lagi ke khatulistiwa, kemudian ke 23,5 derajat Lintang Selatan, dan akhirnya kembali lagi ke khatulistiwa. Ka&#8217;bah terletak pada<span class="plainlinksneverexpand"> <a title="Koordinat Mekah" href="http://www.tageo.com/index-e-sa-v-14-d-m4370064.htm"><span class="plainlinksneverexpand"><span class="external text"><span><span style="white-space:nowrap;">21°25?36?N,</span> <span style="white-space:nowrap;">39°49?34?E</span></span></span></span></a></span>, karenanya matahari akan melintasi titik yang sama itu sebanyak dua kali setahun. Yang pertama adalah 28 Mei pukul 16.18 WIB dan yang kedua adalah 16 Juli pukul 16.27. Toleransi untuk waktu peristiwa ini kira-kira adalah 15 &#8211; 17 Juli 2007 pada pukul 16.22 &#8211; 16.32 WIB.</p>
<p>Untuk artikel lainnya, bisa kunjungi blog Mutoha di <a title="Koreksi Kiblat - Mutoha" href="http://mutoha.blogspot.com/2007/05/hari-meluruskan-arah-kiblat.html">halaman ini</a>.<br />
Jadi manfaatkan kesempatan koreksi kiblat yang terakhir untuk tahun ini.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fkoreksi-arah-kiblat-dengan-bayangan-matahari%2F&amp;linkname=Koreksi%20Arah%20Kiblat%20dengan%20Bayangan%20Matahari"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/koreksi-arah-kiblat-dengan-bayangan-matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Bohong Mars</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2009/02/berita-bohong-mars/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2009/02/berita-bohong-mars/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 18:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanief Trihantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Hoax]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Telanjang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Anda pernah menerima email/kabar seperti berikut ini?
Two moons on 27 August, 2007
27th Aug the Whole World is waiting for&#8230;&#8230;&#8230; &#8230;.
Planet Mars will be the brightest in the night sky starting August.
It will look as large as the full moon to the naked eye. This will cultivate on Aug. 27, 2007, when Mars comes within [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Anda pernah menerima email/kabar seperti berikut ini?</p>
<p><em>Two moons on 27 August, 2007</em></p>
<p><em>27th Aug the Whole World is waiting for&#8230;&#8230;&#8230; &#8230;.</em></p>
<p><em>Planet Mars will be the brightest in the night sky starting August.</em></p>
<p><em>It will look as large as the full moon to the naked eye. This will cultivate on Aug. 27, 2007, when Mars comes within 34.65M miles of earth. Be sure to watch the sky on Aug. 27, 2007 at 12:30 am. It will look like the earth has 2 moons. The next time Mars may come this close is in 2287.</em></p>
<p><em>Share this with your friends as NO ONE ALIVE TODAY will ever see it again.</em></p>
<p>//<br />
Dua buah bulan pada 27 Agustus 2007. Planet Mars akan menjadi objek yang paling terang di langit mulai bulan Agustus. Planet ini jika dilihat dengan mata telanjang akan terlihat sebesar Bulan Purnama. &#8230; .</p>
<p>Hal ini akan menyebabkan Bumi seperti memiliki dua buah bulan. Waktu berikutnya untuk untuk peristiwa ini terjadi lagi adalah tahun 2287. Sebarkan pada teman-teman karena TIDAK ADA YANG DAPAT MELIHATNYA SEBANYAK DUA KALI DALAM HIDUPNYA.<br />
//</p>
<p>Sebenarnya ini adalah berita bohong, mengapa?<span id="more-63"></span>Saya beritahukan di sini bahwa sebenarnya dengan teleskop terbesar/terkuat yang pernah dibuat pun, Mars tidak akan terlihat sebesar bulan purnama yang dilihat dengan mata telanjang. Apalagi kalau melihat Mars tanpa alat bantu optik seperti teleskop (hanya dengan mata telanjang). Berikut ini penjelasan fisikanya.</p>
<p>Mari kita hitung seberapa besar diameter sudut dari Mars, serta Bulan dan Matahari sebagai perbandingan. Mars memiliki diameter 6794 km. Jarak terdekat Mars dari Bumi adalah 55.76 juta km, yang terjadi pada tanggal 27 Agustus 2003 yang lalu. Dan jarak terdekat ini tidak akan terjadi lagi hingga tahun 2287 (coba lihat <a title="Berita Mars Tahun 2003" href="http://live.yurisnight.net/~spider/spider/Mars/mars2003.html">halaman ini</a>). Pada jarak terdekatnya itu, jika Mars diamati dengan mata telanjang maka hanya akan tampak sebagai sebuah bintang, berupa titik yang sangat terang. Diameter sudutnya hanya 25,11&#8243;. Setelah tahun 2003 yang lalu, jarak Mars dari Bumi akan terus membesar, karena sifat orbit yang dimiliki kedua planet ini. Untuk tahun 2007 ini, tentu saja jaraknya lebih jauh dari tahun 2003 lalu (lihat <a title="Berita Mars Tahun 2007" href="http://seds.org/~spider/spider/Mars/mars2007.html">halaman ini</a>).</p>
<p>Sekarang kita hitung diameter sudut Bulan. Diameternya adalah 3476 km, jaraknya dari Bumi adalah 384403 km. Kombinasi jarak dan diameter Bulan ini memberikan penampakan diameter sudut Bulan sebesar sekitar 31 menit busur (1 menit busur = 60 detik busur). Lihat perbandingan gambar Bulan dan Mars yang saya kutip dari <a href="http://mutoha.blogspot.com/">mutoha</a>.</p>
<p style="text-align:center;"><a title="Bulan dan Mars" href="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2007/08/marshoax.jpg"><img src="http://hanieftrihantoro.wordpress.com/files/2007/08/marshoax.jpg" alt="Bulan dan Mars" width="300" align="middle" /></a></p>
<p>Bagaimana dengan Matahari, yang memiliki diameter 0.696 juta km dan jarak rata-rata dari Bumi 150 juta km? Dari Bumi, diameter sudut matahari adalah sebesar hampir 32 menit busur (berbeda sedikit dengan Bulan). Karena besarnya hampir sama, pada suatu saat Bulan dapat saja menutupi Matahari, yang disebut dengan peristiwa Gerhana Matahari Total. Diameter sudut yang hampir sama dengan Bulan ini diperoleh dari diameter yang jauh lebih besar dari Bulan dan jarak yang jauh lebih besar daripada jarak Bumi &#8211; Bulan.</p>
<p>Untuk mendapatkan ukuran sebesar Bulan purnama dari Bumi, Mars harus diperbesar hingga berdiameter 486000 km dengan jarak yang tetap. Diameter ini adalah sekitar 70 kali diameter sebenarnya. Cara lain yang bisa dilakukan untuk membuat Mars terlihat sebesar Bulan purnama adalah dengan memindahkannya pada jarak 778535 km dengan diameter yang tetap. Jarak ini adalah dua kali jarak Bumi ke Bulan.</p>
<p>Jadi sekali lagi saya simpulkan, berita ini BOHONG, karena ada kesalahan di dalamnya. Orang yang menyebarkannya adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Sebenarnya berita ini pernah keluar pada tahun 2003 lalu, dalam rangka kejadian langka tersebut. Tetapi kemudian setiap 2 tahun sekali setelah itu, berita ini keluar terus. Dan masyarakat masih saja menanggapinya dengan terus menyebarkannya ke orang-orang.</p>
<p>Jadi kalau Anda dan teman-teman Anda pernah menerima kabar seperi ini, sebaiknya Anda sebarkan tulisan ini ke teman-teman Anda.</p>
<p>Demi astronomi Indonesia yang lebih baik.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2009%2F02%2Fberita-bohong-mars%2F&amp;linkname=Berita%20Bohong%20Mars"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2009/02/berita-bohong-mars/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
