<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Astronomi</title>
	<atom:link href="http://duniaastronomi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://duniaastronomi.com</link>
	<description>Situs Astronomi Populer Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 May 2012 08:18:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Transit Venus 6 Juni 2012</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2012/03/transit-venus-06062012/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2012/03/transit-venus-06062012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 13:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[filter matahari]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[teleskop]]></category>
		<category><![CDATA[transit]]></category>
		<category><![CDATA[venus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=918</guid>
		<description><![CDATA[<p>Satu fenomena astronomi yang cukup langka akan terjadi di tahun 2012 ini. Fenomena tersebut adalah transit planet Venus pada tanggal 6 Juni 2012 waktu Indonesia. Terakhir kali peristiwa transit salah satu planet dalam ini terjadi adalah pada tahun 8 Juni 2004 lalu. Dan berikutnya baru akan terjadi lagi pada tahun 2117 dan 2125. Lalu apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu fenomena astronomi yang cukup langka akan terjadi di tahun 2012 ini. Fenomena tersebut adalah transit planet Venus pada tanggal 6 Juni 2012 waktu Indonesia. Terakhir kali peristiwa transit salah satu planet dalam ini terjadi adalah pada tahun 8 Juni 2004 lalu. Dan berikutnya baru akan terjadi lagi pada tahun 2117 dan 2125. Lalu apa yang dimaksud dengan transit dan mengapa kejadiannya begitu langka?<span id="more-918"></span></p>
<p>Transit adalah melintasnya planet di depan piringan Matahari karena saat itu Matahari, planet, dan Bumi terletak segaris (konjungsi inferior) dan sekaligus sebidang. Peristiwa ini mirip seperti terjadinya gerhana Matahari. Perbedaannya adalah benda yang berada di antara Matahari dan Bumi bukan Bulan melainkan planet dalam (Merkurius atau Venus). Karena diameter sudut planet jauh lebih kecil daripada diameter sudut Matahari (hanya 1/30 kalinya), maka piringan Matahari tidak akan tertutupi banyak oleh piringan Venus. Dari Bumi, kita hanya akan melihat adanya bintik hitam yang melintasi Matahari. Bintik hitam itulah planet yang sedang transit.</p>
<div id="attachment_940" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2012/03/200px-Venustransit_2004-06-08_07-49.jpg"><img class="size-full wp-image-940 " title="Transit Venus 8 Juni 2004 (Sumber: Wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2012/03/200px-Venustransit_2004-06-08_07-49.jpg" alt="Transit Venus 8 Juni 2004 (Sumber: Wikipedia)" width="200" height="205" /></a><p class="wp-caption-text">Transit Venus 8 Juni 2004 (Sumber: Wikipedia)</p></div>
<p>Peristiwa transit Venus ini terjadi dalam rentang waktu berpola 121,5 tahun, 8 tahun, 105,5 tahun, dan 8 tahun. Jadi selalu ada sepasang transit yang terjadi berdekatan sebelum yang berikutnya terjadi dalam rentang waktu yang lama. Sejak penemuan teleskop, tercatat ada 7 kali transit Venus yang teramati. Pengamatan yang pertama dilakukan oleh Jeremiah Horrocks dan William Crabtree, keduanya astronom asal Inggris, pada tahun 1639. Sebenarnya transit tersebut didahului dengan transit pada tahun 1631, namun saat itu tidak ada yang melakukan pengamatan. Peristiwa transit berikutnya yang pernah diamati adalah pada tahun 1761 &amp; 1769, 1874 &amp; 1882, serta 2004 (dan 2012 nanti).</p>
<p>Transit Venus menjadi peristiwa yang langka karena orbit Venus dan Bumi dalam mengelilingi Matahari tidak sebidang. Orbit keduanya bersilangan (disebut juga inklinasi) sebesar 3,4 derajat. Akibatnya peristiwa transit hanya akan terjadi apabila saat di posisi konjungsi inferior, Venus berada di sekitar titik potong orbit Venus dan Bumi. Pola waktu terjadinya transit di atas berulang setiap 243 tahun, karena 243 tahun Bumi (88757,3 hari) hampir sama dengan 395 tahun Venus (88756,9 hari Bumi) atau sama dengan 152 periode sinodis Venus.</p>
<div id="attachment_938" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2012/03/250px-Transit_diagram_angles.png"><img class="size-full wp-image-938" title="Diagram orbit Venus dan Bumi, tampak keduanya tidak sebidang (Sumber: Wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2012/03/250px-Transit_diagram_angles.png" alt="Diagram orbit Venus dan Bumi, tampak keduanya tidak sebidang (Sumber: Wikipedia)" width="250" height="167" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram orbit Venus dan Bumi, tampak keduanya tidak sebidang (Sumber: Wikipedia)</p></div>
<p>Transit Venus nanti akan dimulai pada pukul 05.09 WIB, yaitu ketika tepi piringan Venus bersentuhan dengan tepi piringan Matahari. Fase selanjutnya adalah ketika seluruh piringan Venus telah masuk ke piringan Matahari pada pukul 05.27 WIB. Puncak dari peristiwa ini terjadi pada pukul 08.29 WIB ketika Venus dan pusat Matahari hanya terpisah sejauh 554,4&#8243;. Lalu Venus menyentuh tepi piringan Matahari pada pukul 11.31 WIB dan peristiwa ini berakhir pada pukul 11.49 WIB ketika Venus sudah keluar dari piringan Matahari. Namun ada satu hal yang harus diingat. Akibat paralaks, waktu-waktu tersebut akan jadi berbeda untuk lokasi pengamatan yang berbeda.</p>
<div id="attachment_942" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2012/03/TOV2012-Fig01.png"><img class="size-medium wp-image-942" title="Diagram kenampakan transit Venus 6 Juni 2012 (Sumber: eclipse.gsfc.nasa.gov)." src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2012/03/TOV2012-Fig01-300x173.png" alt="Diagram kenampakan transit Venus 6 Juni 2012 (Sumber: eclipse.gsfc.nasa.gov)." width="300" height="173" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram kenampakan transit Venus 6 Juni 2012 (Sumber: eclipse.gsfc.nasa.gov).</p></div>
<p>Tentu saja peristiwa ini tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Kita harus menggunakan alat bantu optik seperti binokular atau teleskop. Dan sama ketika mengamati gerhana Matahari, untuk mengamati transit Venus ini kita harus melengkapi peralatan kita dengan filter/penapis cahaya Matahari. Tanpa filter Matahari, mata kita akan terbakar, rusak, dan akhirnya membuat kita buta.</p>
<p>Untuk itu, siapkanlah pengamatannya sebaik mungkin. Apabila tidak memiliki teleskop, Anda bisa mendatangi komunitas/institusi yang mengadakan kegiatan pengamatan transit Venus ini. Silakan ikuti terus tulisan ini, kami akan perbaharui setiap ada kegiatan pengamatan dan lokasi yang dijadwalkan. Siapa tahu lokasi tersebut dekat dengan tempat Anda tinggal.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2012%2F03%2Ftransit-venus-06062012%2F&amp;title=Transit%20Venus%206%20Juni%202012" id="wpa2a_4"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2012/03/transit-venus-06062012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalender Astronomi 2012</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/12/kalender-astronomi-2012/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/12/kalender-astronomi-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 06:07:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ada begitu banyak peristiwa astronomi yang terjadi setiap bulannya. Namun tidak semua orang tahu atau punya akses yang mudah untuk mengetahuinya. Tetapi tidak perlu khawatir, karena kini di DADC telah tersedia Kalender Astronomi 2012! Kalender meja ini adalah jawaban yang tepat agar kita tahu ada fenomena astronomi apa saja yang sedang ataupun akan terjadi. Hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://duniaastronomi.com/etalase/wp-content/uploads/2011/12/cover-kalender-300x274.jpg"><img title="Kalender Astronomi 2012" src="http://duniaastronomi.com/etalase/wp-content/uploads/2011/12/cover-kalender-300x274.jpg" alt="Kalender Astronomi 2012" height="50" /></a>Ada begitu banyak peristiwa astronomi yang terjadi setiap bulannya. Namun tidak semua orang tahu atau punya akses yang mudah untuk mengetahuinya. Tetapi tidak perlu khawatir, karena kini di DADC telah tersedia Kalender Astronomi 2012! Kalender meja ini adalah jawaban yang tepat agar kita tahu ada fenomena astronomi apa saja yang sedang ataupun akan terjadi. Hari dan waktu terjadinya fenomena tersebut tertulis jelas di kalender ini, begitu juga hari-hari bersejarah penjelajahan Tata Surya. Selain itu, nikmati juga keindahan foto-foto astronomi berkualitas dari Hubble Space Telescope dan European Southern Observatory. <strong><a href="http://duniaastronomi.com/etalase/?p=78">Selengkapnya »</a></strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F12%2Fkalender-astronomi-2012%2F&amp;title=Kalender%20Astronomi%202012" id="wpa2a_8"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/12/kalender-astronomi-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan Total 10 Desember 2011</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/11/gbt20111210/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/11/gbt20111210/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 12:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[penumbra]]></category>
		<category><![CDATA[planetarium]]></category>
		<category><![CDATA[tenggarong]]></category>
		<category><![CDATA[umbra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=882</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#160;</p> <p>Bersiaplah untuk gerhana yang terakhir di tahun ini, yaitu Gerhana Bulan Total yang akan terjadi pada tanggal 10 Desember 2011. Beruntunglah kita yang ada di seluruh wilayah Indonesia karena dapat mengamati peristiwa spektakuler ini sejak awal hingga akhir.</p> <p>Masih ingat dengan Gerhana Bulan Total di bulan Juni lalu? Apabila gerhana tersebut dimulai pada pukul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Bersiaplah untuk gerhana yang terakhir di tahun ini, yaitu Gerhana Bulan Total yang akan terjadi pada tanggal 10 Desember 2011. Beruntunglah kita yang ada di seluruh wilayah Indonesia karena dapat mengamati peristiwa spektakuler ini sejak awal hingga akhir.<span id="more-882"></span></p>
<p>Masih ingat dengan <a title="GBT 16 Juni 2011" href="duniaastronomi.com/2011/06/gbt20110616/">Gerhana Bulan Total di bulan Juni</a> lalu? Apabila gerhana tersebut dimulai pada pukul 01.23 WITA, gerhana nanti akan dimulai lebih awal yaitu pada pukul 19.33 WITA (WIB = WITA &#8211; 1 jam, WIT = WITA + 1 jam), sehingga lebih bersahabat dibandingkan jika terjadi pada dinihari. Apalagi terjadinya di malam Minggu, tentunya tidak akan terlalu mengganggu proses belajar para siswa. Perbedaan lainnya adalah gerhana nanti akan terjadi lebih singkat dibandingkan gerhana Juni lalu. Kali ini totalitas gerhana hanya akan berlangsung selama 50 menit saja, bandingkan dengan gerhana yang terjadi pada Juni lalu yang mencapai 100 menit.</p>
<div id="attachment_889" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-889" title="Gerhana Bulan 10 Desember 2011" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/11/L2011Dec10-300x450.png" alt="Gerhana Bulan 10 Desember 2011 (Sumber: astro.ukho.gov.uk/eclipse/)" width="300" height="450" /><p class="wp-caption-text">Gerhana Bulan 10 Desember 2011 (Sumber: astro.ukho.gov.uk/eclipse/)</p></div>
<p>Tahapan yang paling menarik pada gerhana Bulan akan terjadi ketika Bulan mulai masuk ke umbra Bumi pada pukul 20.45 WITA. Sedikit demi sedikit Bulan purnama itu akan berubah menjadi Bulan sabit karena sebagian permukaannya menjadi gelap. Lalu sabitnya pun semakin lama semakin kecil/tipis. Dan ketika bayangan gelap umbra sudah mendominasi permukaan Bulan, kita akan melihat bayangan gelap tersebut berganti warna menjadi merah. Akhirnya saat tahapan totalnya terjadi, seluruh permukaan Bulan juga menjadi merah gelap. Tahapan totalitas tersebut akan dimulai pada pukul 22.06 WITA dan berakhir pada pukul 22.57 WITA. Setelah itu warna putih di Bulan akan kembali muncul perlahan hingga akhirnya Bulan menjadi purnama kembali setelah pukul 01.30 WITA.</p>
<p>Warna merah yang terlihat di bagian gelap Bulan tersebut berasal dari sebagian cahaya Matahari yang masih dapat menembus atmosfer Bumi. Kita tahu bahwa cahaya Matahari terdiri dari berbagai warna yang bisa dilihat di sebuah pelangi (terdiri dari mejikuhibiniu). Oleh atmosfer Bumi, seluruh cahaya tersebut tidak ada yang diteruskan kecuali warna merahnya saja dan sedikit dibelokkan sehingga mengenai permukaan Bulan. Penyebabnya adalah karena warna merah memiliki panjang gelombang yang paling panjang.</p>
<div id="attachment_890" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-890" title="GBT 16 juni 2011 (Sumber: Planetarium Tenggarong)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/11/gbt-16-juni-2011-planetarium-300x315.jpg" alt="GBT 16 juni 2011 (Sumber: Planetarium Tenggarong)" width="300" height="315" /><p class="wp-caption-text">GBT 16 juni 2011 (Sumber: Planetarium Tenggarong)</p></div>
<p>Kini, mari kita persiapkan pengamatannya dari sekarang. Kita harus cari tempat yang memiliki langit timur yang bebas dari halangan pepohonan, rumah, ataupun gedung. Karena saat terjadinya gerhana Bulan akan berada di langit sebelah timur setelah terbit sekitar pukul 18.00 waktu lokal. Fenomena ini tentunya dapat diamati dengan mata telanjang, tetapi wajib hukumnya menggunakan alat bantu seperti binokuler, kamera, atau teleskop jika tersedia di rumah. Terakhir, jangan lupa berharap bahwa cuaca akan cerah sepanjang malam. Selamat melakukan pengamatan! <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>TAMBAHAN:</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa lokasi pengamatan gerhana Bulan Sabtu nanti:</p>
<ul>
<li>Jakarta: Planetarium</li>
<li>Tenggarong: Planetarium</li>
<li>Yogyakarta: Masjid Gedhe Kauman</li>
<li>Solo: Ponpes Assalaam</li>
<li>Semarang: Masjid Agung Jawa Tengah</li>
</ul>
<div id="attachment_900" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/11/gbt-sjs.jpg"><img class="size-medium wp-image-900 " title="Poster Pengamatan Gerhana Bulan Total (Sumber: Facebook)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/11/gbt-sjs-300x147.jpg" alt="Poster Pengamatan Gerhana Bulan Total (Sumber: Facebook)" width="300" height="147" /></a><p class="wp-caption-text">Poster Pengamatan Gerhana Bulan Total (Sumber: Facebook)</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berikut lokasi-lokasi pengamatan Gerhana Bulan Total yang akan disiarkan melalui streaming:</p>
<p>1. Observatorium Bosscha &#8211; Lembang, Bandung<br />
2. LAPAN, Yogyakarta<br />
3. BMKG Kemayoran, Jakarta<br />
4. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung<br />
5. Universitas Mataram, NTB<br />
6. RHI Yogyakarta<br />
7. Univ. Islam Sultan Syarif Kasim, Riau<br />
Sumber: <a href="http://hilal.kominfo.go.id/?q=node%2F179">Kominfo</a><a href="http://hilal.kominfo.go.id/?q=node%2F179"><br />
</a></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F11%2Fgbt20111210%2F&amp;title=Gerhana%20Bulan%20Total%2010%20Desember%202011" id="wpa2a_12"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/11/gbt20111210/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>80</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Lebaran 1432 H/2011 M?</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/08/kapan-lebaran-1432-h-2011-m/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/08/kapan-lebaran-1432-h-2011-m/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 00:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[hisab]]></category>
		<category><![CDATA[rukyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[<p>Di hari ke-29 puasa ini sudah banyak orang yang mengatakan bahwa hari ini adalah puasa terakhir. Salah satu penyebabnya adalah kalender yang banyak beredar di masyarakat menuliskan tanggal 30 Agustus 2011 adalah hari raya Idul Fitri. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa lebaran masih tanggal 31 Agsutus nanti. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di hari ke-29 puasa ini sudah banyak orang yang mengatakan bahwa hari ini adalah puasa terakhir. Salah satu penyebabnya adalah kalender yang banyak beredar di masyarakat menuliskan tanggal 30 Agustus 2011 adalah hari raya Idul Fitri. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa lebaran masih tanggal 31 Agsutus nanti. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ada 2 versi yang berbeda?</p>
<p>Secara astronomis, Bulan sudah memasuki fase baru setelah mengalami konjungsi dengan Matahari pada tanggal 29 Agustus 2011 pukul 03 UT atau 10 WIB. Konjungsi itu sendiri berarti Bumi, Bulan, dan Matahari membentuk satu garis lurus. Saat Matahari terbenam sorenya, Bulan masih berada di atas horison. Inilah tanda masuknya bulan baru pada penanggalan Hijriah. Makanya di kalender sudah ditandai bahwa tanggal 30 Agustus adalah Lebaran. Keputusan ini adalah hasil dari perhitungan yang dilakukan antara lain oleh Muhammadiyah.</p>
<p>Sementara itu, ada versi lain yang mengatakan Lebaran jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Itu adalah hasil dari perhitungan probabilitas kenampakan dan pengamatan/rukyat Bulan/hilal. Sore ini ketinggian Bulan tidak lebih dari 2 derajat, sehingga akan sangat sulit diamati karena sabitnya masih begitu tipis sehingga akan kalah terang dengan langit saat itu. Bulan baru dapat kita amati tanggal 30 sore setelah Matahari terbenam. Saat itu ketinggiannya sudah sekitar 14 derajat dan sabitnya sudah lebih tebal sehingga lebih mudah diamati ketika langit semakin gelap.</p>
<p>Lalu mana yang akan kita ikuti? Keputusan akhir tetap ada di masing-masing pembaca. Kami hanya bisa menyarankan untuk menunggu keputusan Pemerintah yang hasilnya baru akan diketahui setelah sidang Isbat tanggal 29 malam. Biasanya sidang tersebut ditayangkan di televisi secara langsung, jadi tunggu saja sekitar pukul 18.00 WIB.</p>
<p>Untuk menambah pengetahuan tentang pengamatan hilal, silakan kunjungi situs <a href="http://bosscha.itb.ac.id/hilal">http://bosscha.itb.ac.id/hilal</a> dan <a href="http://hilal.kominfo.go.id">http://hilal.kominfo.go.id</a> yang akan memuat tayangan langsung/streaming pengamatan hilal dari 14 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Pengamatan akan dilakukan pada pukul 16.00 waktu lokal pengamat, atau mulai pukul 14.00 WIB.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F08%2Fkapan-lebaran-1432-h-2011-m%2F&amp;title=Kapan%20Lebaran%201432%20H%2F2011%20M%3F" id="wpa2a_16"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/08/kapan-lebaran-1432-h-2011-m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengamati Hujan Meteor Perseids Sembari Sahur</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/08/mengamati-hujan-meteor-perseids-sembari-sahur/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/08/mengamati-hujan-meteor-perseids-sembari-sahur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 20:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[agustus]]></category>
		<category><![CDATA[hujan meteor]]></category>
		<category><![CDATA[komet]]></category>
		<category><![CDATA[meteor]]></category>
		<category><![CDATA[perseus]]></category>
		<category><![CDATA[rasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=864</guid>
		<description><![CDATA[<p></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">Langit malam yang bertabur bintang ternyata masih menyimpan banyak keindahan. Berbagai fenomena astronomi terkadang muncul di sela-sela dingin dan gelapnya malam. Setelah Gerhana Bulan Total yang terjadi pada tanggal 16 Juni 2011 lalu, kita akan dapat menyaksikan satu lagi fenomena astronomi yang sangat menarik di bulan Agustus ini. Yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">Langit malam yang bertabur bintang ternyata masih menyimpan banyak keindahan. Berbagai fenomena astronomi terkadang muncul di sela-sela dingin dan gelapnya malam. Setelah Gerhana Bulan Total yang terjadi pada tanggal 16 Juni 2011 lalu, kita akan dapat menyaksikan satu lagi fenomena astronomi yang sangat menarik di bulan Agustus ini. Yaitu hujan meteor Perseids, yang puncaknya akan terjadi pada tanggal 13 Agustus 2011 dinihari nanti. Namun kita masih dapat mengamatinya hingga 3 hari sebelum atau sesudah tanggal tersebut.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT"><span id="more-864"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">Hujan meteor adalah munculnya banyak meteor di langit dalam rentang waktu tertentu sehingga terlihat seperti hujan cahaya. Berkas cahaya tersebut diakibatkan oleh masuknya benda angkasa ke atmosfer Bumi. Akibat gesekan dan tekanan di atmosfer, batuan tersebut memanas, berpijar, dan terbakar di atmosfer. Karena kecepatannya, masing-masing meteor akan terlihat seperti benang cahaya yang muncul hanya sekedipan mata saja. Dan karena itu, meteor hanya bisa dinikmati dengan mata telanjang alias tanpa peralatan khusus seperti binokuler atau teleskop.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">
<div id="attachment_865" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/08/800px-The_2010_Perseids_over_the_VLT.jpg"><img class="size-medium wp-image-865" title="Sebuah meteor terekam dalam foto di depan teleskop VLT di observatorium Paranal, Chili. Sumber: eso.org" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/08/800px-The_2010_Perseids_over_the_VLT-300x199.jpg" alt="Sebuah meteor terekam dalam foto di depan teleskop VLT di observatorium Paranal, Chili. Sumber: eso.org" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Sebuah meteor terekam dalam foto di depan teleskop VLT di observatorium Paranal, Chili. Sumber: eso.org</p></div>
<p><!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">Saat hujan meteor Perseids terjadi, kita dapat lihat hingga puluhan meteor setiap jamnya. Mungkin Anda bertanya-tanya dari manakah asal batu angkasa sebanyak itu. Suatu hujan meteor terjadi jika dalam orbitnya mengelilingi Matahari, Bumi memasuki area yang penuh dengan batu dan debu angkasa. Serpihan batu dan debu itu sebenarnya berasal dari komet yang pernah melintas sebelumnya. Begitu juga dengan hujan meteor Perseids ini. Meteor-meteornya berasal dari serpihan komet Swift-Tuttle, yang ditemukan pertama kali pada tahun 1862 dan terakhir kali terlihat dari Bumi pada tahun 1992. Karena posisi serpihan batu dan debu ini tetap di angkasa, maka peristiwa hujan meteor juga akan terjadi rutin setiap tahun di sekitar tanggal yang sama.</p>
<p><!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">Dalam sebuah peristiwa hujan meteor, meteor dapat muncul di area langit mana saja. Tetapi apabila kita tarik garis lurus dari setiap meteor tersebut, semuanya akan tampak seolah-olah berasal dari satu titik. Titik asal ini disebut dengan titik radian. Titik radian ini pasti berada di salah satu rasi dari 88 rasi di langit. Nama genitif dari rasi tersebutlah yang kemudian dijadikan nama hujan meteornya. Begitu juga dengan nama Perseids untuk peristiwa hujan meteor yang terjadi kali ini. Asalnya adalah dari nama rasi Perseus. Rasi ini terletak di belahan langit utara dan baru terbit pada pukul 00 waktu lokal.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">
<div id="attachment_866" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/08/perseidradiantnortheast1.jpg"><img class="size-medium wp-image-866" title="Rasi Perseus di arah timur laut. Semua meteor akan tampak seolah-olah berasal dari rasi ini. Sumber: iya2009.com" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/08/perseidradiantnortheast1-300x334.jpg" alt="Rasi Perseus di arah timur laut. Semua meteor akan tampak seolah-olah berasal dari rasi ini. Sumber: iya2009.com" width="300" height="334" /></a><p class="wp-caption-text">Rasi Perseus di arah timur laut. Semua meteor akan tampak seolah-olah berasal dari rasi ini. Sumber: iya2009.com</p></div>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">Lantas bagaimana cara mengamati hujan meteor ini dan kapan waktu terbaik untuk mengamatinya? Caranya adalah dengan mencari tempat yang memiliki area langit seluas mungkin, yang tidak terhalang bangunan atau pepohonan. Dan akan lebih nyaman lagi jika kita bisa melihat langit sembari berbaring dengan beralaskan tikar atau karpet atau koran bekas. Waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor adalah setelah tengah malam hingga langit terang pertanda matahari segera terbit.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%" align="LEFT">Syarat lainnya adalah tempat pengamatan tidak boleh terlalu terang. Karena beberapa meteor mungkin akan tampak redup. Sayangnya, tanggal 13 nanti Bulan akan berada pada fase menjelang purnama, sehingga cahayanya akan cukup mengganggu pengamatan kita. Tetapi, tentu tidak ada salahnya mencoba. Maka dari itu, sembari menunggu waktu sahur, mari kita keluar rumah dan menghitung jumlah meteor yang melintas di langit.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F08%2Fmengamati-hujan-meteor-perseids-sembari-sahur%2F&amp;title=Mengamati%20Hujan%20Meteor%20Perseids%20Sembari%20Sahur" id="wpa2a_20"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/08/mengamati-hujan-meteor-perseids-sembari-sahur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/06/gbt20110616/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/06/gbt20110616/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 09:53:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[bosscha]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana bulan total]]></category>
		<category><![CDATA[observatorium lhoknga]]></category>
		<category><![CDATA[planetarium tenggarong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[<p>Gerhana Bulan tahun ini akan terjadi 2 kali, yaitu pada tanggal 16 Juni dan tanggal 10 Desember nanti. Keduanya sama-sama bisa dilihat dari Indonesia. Jadi, mari persiapkan pengamatannya dengan baik </p> <p>Gerhana 16 Juni nanti akan dimulai pada pukul 01.23 WITA yang ditandai dengan masuknya Bulan ke bayangan penumbra Bumi. Perubahan yang terjadi adalah berkurangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gerhana Bulan tahun ini akan terjadi 2 kali, yaitu pada tanggal 16 Juni dan tanggal 10 Desember nanti. Keduanya sama-sama bisa dilihat dari Indonesia. Jadi, mari persiapkan pengamatannya dengan baik <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <span id="more-840"></span></p>
<p>Gerhana 16 Juni nanti akan dimulai pada pukul 01.23 WITA yang ditandai dengan masuknya Bulan ke bayangan penumbra Bumi. Perubahan yang terjadi adalah berkurangnya kecerlangan Bulan, namun kita tidak akan dapat membedakannya secara kasat mata. Lalu pada pukul 02.22 WITA Bulan akan masuk ke umbra Bumi. Inilah saat terbaik mengamati gerhana, yaitu ketika Bulan purnama mulai berubah bentuk. Perlahan-lahan tepian Bulan menjadi gelap, seperti bakpao yang digigit bagian tepinya.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 419px"><a href="http://astro.ukho.gov.uk/eclipse/1312011/L2011Jun15.png"><img title="Kenampakan GBT20110616 (Sumber: astro.ukho.gov.uk)" src="http://astro.ukho.gov.uk/eclipse/1312011/L2011Jun15.png" alt="Kenampakan GBT20110616 (Sumber: astro.ukho.gov.uk)" width="409" height="614" /></a><p class="wp-caption-text">Kenampakan GBT20110616 (Sumber: astro.ukho.gov.uk)</p></div>
<p>Ketika cahaya Bulan yang terlihat semakin sedikit, akan tampak warna kemerahan di bagian gelapnya. Puncaknya adalah ketika Bulan sudah masuk sepenuhnya ke dalam umbra, yaitu pada pukul 03.22 WITA. Puncak gerhana ini akan terjadi pada pukul 04.12 WITA. Bulan berada di dalam bayangan umbra selama hampir 2 jam hingga pukul 05.03 WITA. Saat itu seluruh Bulan tampak merah. Warna merah ini berasal dari sebagian cahaya Matahari yang masih diteruskan atmosfer Bumi. Dan proses gerhana akan benar-benar berakhir pada pukul 07.02 WITA, saat Bulan keluar sepenuhnya dari bayangan penumbra Bumi.</p>
<p>Dilihat dari waktunya, hanya Indonesia bagian tengah dan barat saja yang bisa melihat gerhana ini dari awal hingga akhir. Sementara bagian timur Indonesia tidak dapat mengamatinya hingga selesai karena Bulan akan terbenam dahulu. Tetapi untungnya bagian paling menarik dari gerhana ini, yaitu ketika Bulan berada di dalam bayangan umbra Bumi, dapat dilihat utuh dari awal hingga akhir dari seluruh Indonesia.</p>
<div id="attachment_845" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/06/600px-Near_Greatest_Eclipse_20101221_0011-crop.jpg"><img class="size-medium wp-image-845" title="Merahnya Bulan saat gerhana total (sumber: wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/06/600px-Near_Greatest_Eclipse_20101221_0011-crop-300x300.jpg" alt="Merahnya Bulan saat gerhana total (sumber: wikipedia)" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Merahnya Bulan saat gerhana total (sumber: wikipedia)</p></div>
<p>Bagaimana cara mengamati gerhana ini? Dengan mata telanjang bisa, binokular, teleskop, kamera, ataupun pengamatan melalui internet (streaming) juga bisa karena rencananya akan ada penayangannya di situs web Observatorium Bosscha dan Kemenkominfo. Beberapa lokasi yang akan menayangkan pengamatan gerhana Bulan nanti adalah Observatorium Bosscha, Observatorium Lhoknga, dan Planetarium Tenggarong. Untuk yang di Semarang, akan ada acara pengamatan yang diselenggarakan di Kampus IAIN Walisongo Jrakah, info lebih lengkap bisa lihat di <a href="http://www.facebook.com/event.php?eid=116333985120398">event facebook</a>. Silakan tandai kalender agar fenomena ini tidak terlewatkan begitu saja <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F06%2Fgbt20110616%2F&amp;title=Gerhana%20Bulan%20Total%2016%20Juni%202011" id="wpa2a_24"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/06/gbt20110616/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Planetarium Jagad Raya Tenggarong</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/05/planetarium-jagad-raya-tenggarong/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/05/planetarium-jagad-raya-tenggarong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 21:59:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[planetarium]]></category>
		<category><![CDATA[tenggarong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tenggarong menjadi kota ke-3 di Indonesia yang memiliki planetarium setelah Jakarta dan Surabaya. Planetarium yang diberi nama Planetarium Jagad Raya itu didirikan pada tahun 2002 oleh Bupati Kutai Kartanegara dan diresmikan pada tahun 2003 oleh Hamzah Haz.</p> <p>Tenggarong adalah sebuah kota yang berada sekitar 25 km di sebelah barat Samarinda, ibukota propinsi Kalimantan Timur. Untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tenggarong menjadi kota ke-3 di Indonesia yang memiliki planetarium setelah Jakarta dan Surabaya. Planetarium yang diberi nama Planetarium Jagad Raya itu didirikan pada tahun 2002 oleh Bupati Kutai Kartanegara dan diresmikan pada tahun 2003 oleh Hamzah Haz.</p>
<p>Tenggarong adalah sebuah kota yang berada sekitar 25 km di sebelah barat Samarinda, ibukota propinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapainya dari luar Kalimantan dengan pesawat terbang, kita bisa mendarat di Balikpapan atau Samarinda dan kemudian melakukan perjalanan darat selama 3 atau 1 jam.<span id="more-831"></span></p>
<p>Planetarium ini terletak di tepi sungai Mahakam dan berjarak sekitar 4 km di sebelah utara jembatan Kutai Kartanegara. Lokasi Planetarium cukup strategis karena berdekatan dengan museum Tenggarong dan dermaga penyeberangan ke Pulau Kumala (pulau di tengah sungai Mahakam). Wisatawan yang datang ke Tenggarong biasanya akan mengunjungi ketiga tempat wisata tersebut sekaligus.</p>
<div id="attachment_832" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/05/DSC_0225.jpg"><img class="size-medium wp-image-832" title="Ruang Pertunjukan (Sumber: Planetarium Tenggarong)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/05/DSC_0225-300x199.jpg" alt="Ruang Pertunjukan (Sumber: Planetarium Tenggarong)" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Ruang pertunjukan (Sumber: Planetarium Tenggarong)</p></div>
<p>Planetarium buka setiap hari selain hari Jumat, mulai pukul 08.00 hingga  pukul 14.00 WITA. Di hari libur nasional pun Planetarium tetap buka  kecuali hari libur yang jatuh di hari Jumat dan hari pertama Idul Fitri.  Harga tiket masuknya adalah Rp 7.500 untuk kategori dewasa dan Rp 5.000  untuk kategori anak-anak di bawah 12 tahun.</p>
<p>Agar dapat menikmati pertunjukan, jumlah minimal pengunjung adalah 30  orang (kategori umum) atau 40 orang kategori rombongan. Untuk kategori  rombongan ada diskon khusus karena harga tiket dibuat sama rata, yaitu  Rp 5.000 per orang. Apabila di bawah jumlah tersebut, pertunjukan juga  bisa dimulai asalkan pengunjung membayar Rp 200.000, berapapun  pengunjungnya.</p>
<div id="attachment_833" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/05/DSC_0097edit.jpg"><img class="size-medium wp-image-833" title="Pengamatan langit malam dalam rangka GAM2011 (sumber: Planetarium Tenggarong)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/05/DSC_0097edit-300x199.jpg" alt="Pengamatan langit malam dalam rangka GAM2011 (sumber: Planetarium Tenggarong)" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Pengamatan langit malam dalam rangka GAM2011 (Sumber: Planetarium Tenggarong)</p></div>
<p>Kapasitas ruang pertunjukan di Planetarium Jagad Raya adalah 92 kursi  dengan kubah bergaris tengah 11 meter. Proyektornya ada 10 buah, terdiri  dari 1 buah proyektor utama, 8 buah proyektor slide (6 untuk allsky  projection), dan 1 proyektor meteor. Proyektor utama planetarium adalah  Skymaster ZKP 3 buatan Carl-Zeiss, Jerman. Proyektor ini masih dalam  kondisi yang baik walaupun belum pernah diganti sejak berdirinya.</p>
<p>Selain pertunjukan simulasi langit, Planetarium juga memiliki ruang pameran yang berisikan 52 buah poster tentang objek-objek di tata surya, galaksi, dan alam semesta. Ada pula perpustakaan dengan ruang baca lesehan, serta 2 buah teleskop yang sering digunakan ketika ada acara pengamatan benda langit.</p>
<div id="attachment_836" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/05/DSC_0153e2.JPG"><img class="size-medium wp-image-836" title="Pengamatan Matahari dalam rangka SUNday GAM2011 (Sumber: Planetarium Tenggarong)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/05/DSC_0153e2-300x199.jpg" alt="Pengamatan Matahari dalam rangka SUNday GAM2011 (Sumber: Planetarium Tenggarong)" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Pengamatan Matahari dalam rangka SUNday GAM2011 (Sumber: Planetarium Tenggarong)</p></div>
<p>Kegiatan lain yang dilakukan Planetarium adalah kerja sama pengamatan hilal bulan Ramadhan dan Syawal bersama Observatorium Bosscha dan Kemenkominfo, pengamatan langit malam dalam rangka Global Astronomy Month April 2011, pengamatan Matahari, serta astrofotografi. Beberapa kegiatan ditujukan untuk umum secara gratis, sedangkan lainnya dilakukan tertutup bagi umum.</p>
<p>Untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang Planetarium, silakan hubungi:<br />
Planetarium Jagat Raya<br />
Jl. Diponegoro Tenggarong<br />
Kutai Kartanegara<br />
Kalimantan Timur 75514<br />
0541-661045, 661335</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F05%2Fplanetarium-jagad-raya-tenggarong%2F&amp;title=Planetarium%20Jagad%20Raya%20Tenggarong" id="wpa2a_28"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/05/planetarium-jagad-raya-tenggarong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan Meteor Eta Aquarids</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/04/hujan-meteor-eta-aquarids/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/04/hujan-meteor-eta-aquarids/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Apr 2011 04:44:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[aquarius]]></category>
		<category><![CDATA[halley]]></category>
		<category><![CDATA[hujan meteor]]></category>
		<category><![CDATA[komet]]></category>
		<category><![CDATA[meteor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hujan meteor Lyrids sudah berlalu, kini saatnya kita bersiap untuk yang berikutnya yang bernama Eta Aquarids. Hujan meteor ini berlangsung sejak tanggal 19 April hingga 28 Mei dengan puncaknya adalah pada tanggal 8 mei pukul 1.31 GMT. Karenanya, pengamatan bisa dilakukan 3 hari sebelum dan sesudah masa puncaknya karena jumlah meteornya cuku banyak di sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan meteor Lyrids sudah berlalu, kini saatnya kita bersiap untuk yang berikutnya yang bernama Eta Aquarids. Hujan meteor ini berlangsung sejak tanggal 19 April hingga 28 Mei dengan puncaknya adalah pada tanggal 8 mei pukul 1.31 GMT. Karenanya, pengamatan bisa dilakukan 3 hari sebelum dan sesudah masa puncaknya karena jumlah meteornya cuku banyak di sekitar masa puncak itu.<span id="more-818"></span><br />
Hujan meteor ini disebut dengan nama Eta Aquarids karena titik radiannya ada di sekitar bintang Eta Aquarid di rasi Aquarius. Rasi ini sendiri baru terbit sekitar pukul 1 dinihari. Salah satu hal yang membedakannya dengan hujan meteor Lyrids adalah kali ini jumlah meteornya berada di kisaran 60 buah per jam atau 1 per menit.</p>
<div id="attachment_819" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/04/stellarium-009.png"><img class="size-medium wp-image-819" title="Rasi Aquarius tgl 8 Mei pk 3 dinihari" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/04/stellarium-009-300x168.png" alt="Rasi Aquarius tgl 8 Mei pk 3 dinihari" width="300" height="168" /></a><p class="wp-caption-text">Rasi Aquarius tgl 8 Mei pk 3 dinihari</p></div>
<p>Hujan meteor ini berasal dari komet Halley, sebuah komet terkenal yang memiliki periode 76 tahun dan terakhir terlihat dari Bumi pada tahun 1986. Selain menghasilkan hujan meteor ini, komet Halley juga menghasilkan hujan meteor Orionids di bulan Oktober.</p>
<p>Bagaimana cara menikmati hujan meteor ini? Persiapannya adalah kita harus cari tempat dengan pemandangan langit yang tak terhalang. Lalu tikar/alas untuk berbaring, baju hangat, serta makanan ringan dan minuman hangat juga kalau perlu. Tidak perlu teleskop atau binokular. Hujan meteor adalah fenomena mata telanjang. Memakai alat bantu justru tidak dianjurkan karena meteor adalah objek yang bergerak cepat, kita tidak bisa melihatnya melalui piranti tersebut.</p>
<p>Saat berbaring, kita sebaiknya tidak berkonsentrasi ke arah radiannya saja. Karena meteor justru akan berada di segala arah. Apabila kita hanya memperhatikan radiannya saja, kita mungkin akan kehilangan kesempatan melihat meteor di  arah lain. Inilah mengapa kita harus mencari area dengan pemandangan langit yang seluas-luasnya.</p>
<p>Berbeda dengan hujan meteor Lyrid, kali ini Bulan berada pada fase baru dan tidak akan terlihat di dini hari. Jadi kita tidak akan terganggu polusi cahaya Bulan. Meteor-meteor redup akan lebih mudah dilihat, jumlah keseluruhannya pun jadi lebih banyak pula. Maka, kami ucapkan selamat melakukan pengamatan <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F04%2Fhujan-meteor-eta-aquarids%2F&amp;title=Hujan%20Meteor%20Eta%20Aquarids" id="wpa2a_32"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/04/hujan-meteor-eta-aquarids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Global Astronomy Month April 2011</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/04/gam-april-2011/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/04/gam-april-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Apr 2011 10:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[globe at night]]></category>
		<category><![CDATA[HAAJ]]></category>
		<category><![CDATA[iya 2009]]></category>
		<category><![CDATA[JAC]]></category>
		<category><![CDATA[Langit Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[meteor]]></category>
		<category><![CDATA[planetarium tenggarong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: left;">Bulan April 2011 telah dicanangkan sebagai Bulan Astronomi Internasional (Global Astronomi Month, GAM)oleh komunitas astronomi internasional yang bernama Astronomy Without Borders (AWB). Latar belakangnya adalah kesuksesan IYA 2009 dan 100 Hours of Astronomy yang diselenggarakan bulan April 2009. Respon yang tinggi terhadap kegiatan itu kemudian membuat AWB mencanangkan Bulan Astronomi Internasional di bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Bulan April 2011 telah dicanangkan sebagai Bulan Astronomi Internasional (<a href="http://www.astronomerswithoutborders.org/global-astronomy-month-2011.html">Global Astronomi Month, GAM</a>)oleh komunitas astronomi internasional yang bernama <a href="http://www.astronomerswithoutborders.org/">Astronomy Without Borders (AWB)</a>.   Latar belakangnya adalah kesuksesan IYA 2009 dan 100 Hours of  Astronomy  yang diselenggarakan bulan April 2009. Respon yang tinggi  terhadap  kegiatan itu kemudian membuat AWB mencanangkan Bulan Astronomi   Internasional di bulan April 2010 dan kemudian 2011.<span id="more-811"></span></p>
<div id="attachment_815" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/04/gam2011_vertical.jpg"><img class="size-full wp-image-815 " title="GAM April 2011 (Sumber: gam-awb.org)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/04/gam2011_vertical.jpg" alt="GAM April 2011 (Sumber: gam-awb.org)" width="200" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">GAM April 2011 (Sumber: gam-awb.org)</p></div>
<p>Dalam kegiatannya, AWB menginginkan agar warga dunia sadar atas posisinya di alam semesta dengan menikmati langit. Slogan mereka, One People One Sky, menunjukkan bahwa langit adalah milik semua orang. Bukan milik para astronom yang meneropongnya dengan berbagai piranti canggih atau berhitung untuk memecah kerumitan dan kegelapan masa lalu alam semesta kita. Langit adalah milik dokter, guru, sastrawan, pelajar, tukang bangunan, politisi, siapapun, semuanya.</p>
<p>Di bulan April ini, banyak sekali tema kegiatan yang telah diprogram. Ada Globe At Night (24 Maret &#8211; 4 April), International Dark Skies Week (1 &#8211; 8 April), 30 Nights of StarPeace (1 &#8211; 30 April), Global Star Party (9 April), Lunar Week (10 &#8211; 16 April), Yuri&#8217;s Night (12 April), SunDay (17 April), Meteors Without Borders (21 &#8211; 22 April), International Earth and Sky Photo Contest, dan banyak lagi. Banyak kontributor yang menyelenggarakan kegiatan berkaitan dengan tema tersebut di banyak negara, termasuk Indonesia.</p>
<p>Setidaknya ada 4 kota di Indonesia yang memiliki kegiatan astronomi berkaitan dengan GAM 2011 ini, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Tenggarong. Semua kegiatan di kota-kota tersebut dikoordinasi oleh komunitas astronomi setempat, kecuali di Tenggarong yang diselenggarakan oleh Planetarium Jagad Raya (dan admin DADC). Di Jakarta ada HAAJ, di Bandung ada Langit Selatan, dan di Yogyakarta ada JAC.</p>
<p>Acara di Tenggarong sendiri adalah <a href="http://www.astronomerswithoutborders.org/gam2011/this-weeks-events/icalrepeat.detail/2011/04/02/130/-/pengamatan-saturnus.html"> pengamatan</a> Saturnus, Bulan, dan benda langit lainnya dengan teleskop yang diadakan setiap hari Sabtu selama bulan April 2011. Kegiatan berlangsung dari pukul 19.00 &#8211; 22.00 WITA. Acara yang sudah berlangsung 2 kali ini berjalan dengan baik, ditandai dengan banyaknya orang yang datang. Mereka cukup antusias dengan kegiatan tersebut. Diskusi berlangsung seru dan sepertinya banyak dari mereka yang mendapatkan hal baru tentang astronomi.</p>
<p>Semoga kegiatan ini membuka mata masyarakat terhadap indahnya langit dan mendorong mereka untuk mengurangi polusi cahaya domestik. Karena langit adalah milik semua orang, jangan sampai polusi cahaya yang kita buat menghalangi orang lain menikmati langitnya.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F04%2Fgam-april-2011%2F&amp;title=Global%20Astronomy%20Month%20April%202011" id="wpa2a_36"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/04/gam-april-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan Meteor Lyrids</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/04/hujan-meteor-lyrids/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/04/hujan-meteor-lyrids/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 01:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[hujan meteor]]></category>
		<category><![CDATA[komet]]></category>
		<category><![CDATA[lyra]]></category>
		<category><![CDATA[meteor]]></category>
		<category><![CDATA[meteorit]]></category>
		<category><![CDATA[rasi]]></category>
		<category><![CDATA[vega]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=801</guid>
		<description><![CDATA[<p>Setiap bulan April sekitar tanggal 22, jangan lupa untuk mengamati langit dinihari. Saat itu ada peristiwa astronomi menarik sedang terjadi, yaitu hujan meteor Lyrid. Nama Lyrid berarti arah radian meteor tersebut berasal dari rasi Lyra, sebuah rasi di sebelah utara dengan bintang terangnya yang bernama Vega. Jumlah meteor yang bisa kita lihat saat itu adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap bulan April sekitar tanggal 22, jangan lupa untuk mengamati langit dinihari. Saat itu ada peristiwa astronomi menarik sedang terjadi, yaitu hujan meteor Lyrid. Nama Lyrid berarti arah radian meteor tersebut berasal dari rasi Lyra, sebuah rasi di sebelah utara dengan bintang terangnya yang bernama Vega. Jumlah meteor yang bisa kita lihat saat itu adalah sekitar 15 buah per jam. Namun terkadang bisa mencapai 60 buah per jamnya! <span id="more-801"></span></p>
<p>Meteor adalah peristiwa masuknya batuan ke atmosfer Bumi. Karena bergesekan dengan partikel di atmosfer, batuan tersebut memanas dan terkikis, bahkan memijar. Pijaran inilah yang kita sebut meteor, atau sering disebut dengan bintang jatuh. Kebanyakan meteor dalam sebuah hujan meteor akan terbakar habis di atmosfer karena ukurannya kecil. Tetapi ada juga meteor yang tidak habis di atmosfer melainkan terus turun dan menumbuk permukaan Bumi. Tumbukan ini dapat menghasilkan kawah dan sisa batuan yang ditemukan disebut meteorit. Meteorit ini biasanya bukan berasal dari hujan meteor, tetapi termasuk dalam kelompok meteor sporadis karena ukurannya yang lebih besar.</p>
<div id="attachment_804" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/04/stellarium-004.png"><img class="size-medium wp-image-804" title="Posisi rasi Lyra dan Vega 22 April pk 3 dinihari " src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/04/stellarium-004-300x168.png" alt="Posisi rasi Lyra dan Vega 22 April pk 3 dinihari " width="300" height="168" /></a><p class="wp-caption-text">Posisi rasi Lyra dan Vega 22 April pk 3 dinihari </p></div>
<p>Suatu hujan meteor terjadi jika Bumi memasuki area di orbitnya yang memiliki banyak batuan. Dari manakah asal batuan itu dan kenapa jumlahnya banyak? Kometlah yang meninggalkan batuan tersebut. Komet yang sedang mendekati Matahari akan meninggalkan jejak berupa serpihan batuan di lintasannya. Apabila komet tersebut melintas begitu dekat dengan orbit Bumi (atau bahkan berpotongan dengannya), maka kita akan mengalami hujan meteor jika Bumi melewati wilayah itu. Hujan meteor Lyrid diperkirakan berasal dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/C/1861_G1_(Thatcher)">komet Thatcher</a>, yang ditemukan tahun 1861.</p>
<p>Bagaimana cara menikmati hujan meteor Lyrid ini? Persiapannya adalah kita harus cari tempat datar dengan pemandangan langit yang tak terhalang. Lalu tikar/alas untuk tiduran, baju hangat, serta makanan ringan dan minuman hangat juga kalau perlu. Tidak perlu teleskop atau binokular. Hujan meteor adalah fenomena mata telanjang. Memakai alat bantu justru tidak dianjurkan karena meteor adalah objek yang bergerak cepat, kita tidak bisa melihatnya melalui piranti tersebut.</p>
<p>Untuk melihat sebuah hujan meteor, kita tidak perlu berkonsentrasi ke arah radiannya saja. Karena meteor justru akan tersebar di segala arah. Oleh karena itu, apabila kita hanya memperhatikan rasi Lyra saja, kita mungkin akan kehilangan kesempatan melihat meteor di sebelah selatan atau arah lain. Inilah mengapa kita harus mencari area dengan pemandangan langit yang seluas-luasnya.</p>
<p>Sayangnya, hujan meteor Lyra kali ini berlangsung ketika Bulan sedang dalam fase cembung akhir. Artinya, cahaya Bulan akan sangat mengganggu kenampakan meteor yang redup. Sehingga jumlah meteor yang terlihat jadi lebih sedikit. Walaupun begitu, fenomena ini tetap menarik untuk diamati. Jadi, selamat melakukan pengamatan <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F04%2Fhujan-meteor-lyrids%2F&amp;title=Hujan%20Meteor%20Lyrids" id="wpa2a_40"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/04/hujan-meteor-lyrids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Evolusi Bintang</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/03/evolusi-bintang/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/03/evolusi-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 09:44:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[bintang neutron]]></category>
		<category><![CDATA[evolusi]]></category>
		<category><![CDATA[katai putih]]></category>
		<category><![CDATA[lubang hitam]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[planetary nebula]]></category>
		<category><![CDATA[pulsar]]></category>
		<category><![CDATA[reaksi fusi]]></category>
		<category><![CDATA[supernova]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seperti manusia, bintang juga mengalami perubahan tahap kehidupan. Sebutannya adalah evolusi. Mempelajari evolusi bintang sangat penting bagi manusia, terutama karena kehidupan kita bergantung pada matahari. Matahari sebagai bintang terdekat harus kita kenali sifat-sifatnya lebih jauh.</p> <p>Dalam mempelajari evolusi bintang, kita tidak bisa mengikutinya sejak kelahiran sampai akhir evolusinya. Usia manusia tidak akan cukup untuk mengamati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti  manusia, bintang juga mengalami perubahan tahap kehidupan. Sebutannya adalah evolusi. Mempelajari evolusi bintang sangat penting bagi manusia, terutama karena kehidupan kita bergantung pada matahari. Matahari sebagai bintang terdekat harus kita kenali sifat-sifatnya lebih jauh.</p>
<p>Dalam mempelajari evolusi bintang, kita tidak bisa mengikutinya sejak kelahiran sampai akhir evolusinya. Usia manusia tidak akan cukup untuk mengamati bintang yang memiliki usia hingga milyaran tahun. Jika demikian tentunya timbul pertanyaan, bagaimana kita bisa menyimpulkan tahap-tahap evolusi sebuah bintang?  <span id="more-793"></span></p>
<p>Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan kembali menganalogikan bintang dengan manusia. Jumlah manusia di bumi dan bintang di angkasa sangat banyak dengan usia yang berbeda-beda. Kita bisa mengamati kondisi manusia dan bintang yang berada pada usia/tahapan evolusi yang berbeda-beda. Ditambah dengan pemodelan, akhirnya kita bisa menyusun teori evolusi bintang tanpa harus mengamati sebuah bintang sejak kelahiran hingga akhir evolusinya.</p>
<p>Kelahiran bintang<br />
Bintang lahir dari sekumpulan awan gas dan debu yang kita sebut nebula. Ukuran awan ini sangat besar (diameternya mencapai puluhan SA) tetapi kerapatannya sangat rendah. Awal dari pembentukan bintang dimulai ketika ada gangguan gravitasi (misalnya, ada bintang meledak/supernova), maka partikel-partikel dalam nebula tersebut akan bergerak merapat dan memulai interaksi gravitasi di antara mereka setelah sebelumnya tetap dalam keadaan setimbang. Akibatnya, partikel saling bertumbukan dan temperatur naik.</p>
<div id="attachment_796" class="wp-caption aligncenter" style="width: 190px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/03/180px-Stellar_spire_eagle_nebula.jpg"><img class="size-full wp-image-796" title="Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/03/180px-Stellar_spire_eagle_nebula.jpg" alt="Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite)" width="180" height="364" /></a><p class="wp-caption-text">Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite)</p></div>
<p>Semakin banyak partikel yang merapat berarti semakin besar gaya gravitasinya dan semakin banyak lagi partikel yang ditarik. Pengerutan awan ini terus berlangsung hingga bagian intinya semakin panas. Panas tersebut dapat mendorong awan di sekitarnya. Hal ini memicu terjadinya proses pembentukan bintang di sekitarnya. Demikian seterusnya hingga terbentuk banyak bintang dalam sebuah awan besar. Maka tidaklah heran jika kita mengamati sekelompok bintang yang lahir pada waktu yang berdekatan di lokasi yang sama. Kelompok bintang inilah yang biasa kita sebut dengan gugus.</p>
<p>Akibat pengerutan oleh gravitasi, temperatur dan tekanan di dalam awan naik sehingga pengerutan melambat. Di tahap ini, bola gas yang terbentuk disebut dengan proto bintang. Apabila massanya kurang dari 0,1 massa Matahari, maka proses pengerutan akan terus terjadi hingga tekanan dari pusat bisa mengimbanginya. Pada saat tercapai kesetimbangan, temperatur di bagian pusat awan itu tidak cukup panas untuk dimulainya proses pembakaran hidrogen. Maksud dari pembakaran di sini adalah reaksi fusi atom hidrogen menjadi helium. Awan ini pun gagal menjadi bintang dan disebut dengan katai gelap.</p>
<p>Jika massanya lebih dari 0,1 massa Matahari, bagian pusat proto bintang memiliki temperatur yang cukup untuk memulai reaksi fusi saat dirinya setimbang. Reaksi ini akan terus terjadi hingga helium yang sudah terbentuk mencapai 10 &#8211; 20 % massa bintang. Setelah itu pembakaran akan terhenti, tekanan dari pusat menurun, dan bagian pusat ini runtuh dengan cepat. Akibatnya temperatur inti naik dan bagian luar bintang mengembang. Saat ini, bintang menjadi raksasa dan tahap pembakaran helium menjadi karbon pun dimulai. Di lapisan berikutnya, berlangsung pembakaran hidrogen menjadi helium. Setelah ini kembali akan kita lihat bahwa evolusi bintang sangat bergantung pada massa.</p>
<p>Untuk bintang bermassa kecil (0,1 &#8211; 0,5 massa Matahari), proses pembakaran hidrogen dan helium akan terus berlangsung sampai akhirnya bintang itu menjadi katai putih. Sedangkan pada bintang bermassa 0,5 &#8211; 6 massa Matahari, pembakaran karbon dimulai setelah helium di inti bintang habis. Proses ini tidaklah stabil, akibatnya bintang berdenyut. Bagian luar bintang mengembang dan mengerut secara periodik sebelum akhirnya terlontar membentuk planetary nebula. Bagian bintang yang tersisa akan mengerut dan membentuk bintang katai putih.</p>
<p>Berikutnya adalah bintang bermassa besar (lebih dari 6 massa Matahari). Di bintang ini pembakaran karbon berlanjut hingga terbentuk neon. Lalu neon pun mengalami fusi membentuk oksigen. Begitu seterusnya hingga secara berturut-turut terbentuk silikon, nikel, dan terakhir besi. Kita bisa lihat di diagram penampang bintang di bawah ini, bahwa reaksi fusi sebelumnya tetap terjadi di luar lapisan inti. Sehingga ada banyak lapisan reaksi fusi yang terbentuk ketika di bagian pusat bintang sedang terbentuk besi.</p>
<div id="attachment_797" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/03/320px-Evolved_star_fusion_shells.png"><img class="size-medium wp-image-797" title="Lapisan-lapisan reaksi fusi (Sumber: Wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/03/320px-Evolved_star_fusion_shells-300x300.png" alt="Lapisan-lapisan reaksi fusi (Sumber: Wikipedia)" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Lapisan-lapisan reaksi fusi (Sumber: Wikipedia)</p></div>
<p>Evolusi Lanjut<br />
Setelah reaksi yang membentuk besi terhenti, tidak ada proses pembakaran selanjutnya. Akibatnya, tekanan menurun dan bagian inti bintang memampat. Karena begitu padatnya, jarak antara neutroon dan elektron pun mengecil sehingga elektron bergabung dengan neutron dan proton. Peristiwa ini menghasilkan tekanan yang sangat besar dan mengakibatkan bagian luar bintang dilontarkan dengan cepat. Inilah yang disebut dengan supernova.</p>
<p>Apa yang terjadi setelah supernova bergantung pada massa bagian inti bintang yang tadi terbentuk. Apabila di bawah 5 massa Matahari (batas massa Schwarzchild), supernova menyisakan bintang neutron. Disebut demikian karena partikel dalam bintang ini hanya neutron. Bintang neutron biasanya terdeteksi sebagai pulsar (pulsating radio source, sumber gelombang radio yang berputar). Pulsar adalah bintang yang berputar dengan sangat cepat, periodenya hanya dalam orde detik. Putarannya itulah yang menyebabkan pulsasi pancaran gelombang radionya.</p>
<div id="attachment_798" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/03/evolution-sn2006gy_newline.jpg"><img class="size-medium wp-image-798" title="Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/03/evolution-sn2006gy_newline-300x243.jpg" alt="Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)" width="300" height="243" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)</p></div>
<p>Di atas 5 massa Matahari, gaya gravitasi di inti bintang begitu besarnya sehingga dirinya runtuh dan kecepatan lepas partikelnya melebihi kecepatan cahaya. Objek seperti ini disebut dengan lubang hitam. Tidak ada objek yang sanggup lepas dari pengaruh gravitasinya, termasuk cahaya sekalipun. Makanya benda ini disebut lubang hitam, karena tidak memancarkan gelombang elektromagnetik. Satu-satunya cara untuk mendeteksi keberadaan lubang hitam adalah dari interaksi gravitasinya dengan benda-benda di sekitarnya. Pusat galaksi kita adalah salah satu lokasi ditemukannya lubang hitam. Kesimpulan ini diambil karena bintang-bintang di pusat galaksi bergerak dengan sangat cepat, dan kecepatannya itu hanya bisa ditimbulkan oleh gaya gravitasi yang sangat kuat, yaitu oleh sebuah lubang hitam.</p>
<p>Hingga saat ini, pengamatan terhadap bintang-bintang masih terus dilakukan. Teori evolusi bintang di atas bisa saja berubah kalau ada bukti-bukti baru. Tidak ada yang kekal dalam sains, dan tidak ada kebenaran mutlak. Apa yang menjadi kebenaran saat ini bisa saja terbantahkan di kemudian hari. Itulah uniknya sains: dinamis.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F03%2Fevolusi-bintang%2F&amp;title=Evolusi%20Bintang" id="wpa2a_44"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/03/evolusi-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merkurius, Planet Terkecil, Terdekat, dan Tercepat</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/02/merkurius-planet-terkecil-terdekat-tercepat/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/02/merkurius-planet-terkecil-terdekat-tercepat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 08:15:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[merkurius]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[rotasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=758</guid>
		<description><![CDATA[<p>Merkurius adalah planet terkecil di tata surya dan terdekat dari Matahari. Nama planet ini diambil dari nama dewa pengantar pesan jaman Romawi kuno. Ia diberi nama tersebut karena pergerakannya di langit yang sangat cepat.</p> <p class="wp-caption-text">Planet Merkurius (Sumber: Wikipedia)</p> <p>Dari Bumi, Merkurius hanya bisa diamati secara visual pada jarak maksimum 28,3 derajat dari Matahari. Artinya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Merkurius adalah planet terkecil di tata surya dan terdekat dari Matahari. Nama planet ini diambil dari nama dewa pengantar pesan jaman Romawi kuno. Ia diberi nama tersebut karena pergerakannya di langit yang sangat cepat.<span id="more-758"></span></p>
<div id="attachment_757" class="wp-caption aligncenter" style="width: 250px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/02/240px-Mercury_in_color_-_Prockter07_centered.jpg"><img class="size-full wp-image-757" title="Planet Merkurius (Sumber: Wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/02/240px-Mercury_in_color_-_Prockter07_centered.jpg" alt="Planet Merkurius (Sumber: Wikipedia)" width="240" height="238" /></a><p class="wp-caption-text">Planet Merkurius (Sumber: Wikipedia)</p></div>
<p>Dari Bumi, Merkurius hanya bisa diamati secara visual pada jarak  maksimum 28,3 derajat dari Matahari. Artinya, planet ini hanya terlihat  di langit timur sebelum Matahari terbit atau di barat setelah Matahari  terbenam. Dengan jarak sudut sekecil itu, kita hanya memiliki waktu  maksimum selama 1 jam 53 menit saja untuk mengamati planet ini, yaitu  pada saat Merkurius mencapai elongasi maksimalnya. Jadi, kita tidak akan  pernah bisa melihat Merkurius berada di zenith (lihat gambar di bawah).  Karena kemunculannya yang bergantian itu planet ini sempat  diidentifikasi oleh masyarakat Yunani kuno sebagai 2 benda yang berbeda.  Kala itu, Merkurius yang muncul di langit timur diberi nama Apollo dan  yang muncul di langit barat diberi nama Hermes.</p>
<p>Jika kita berada di Merkurius, kita dapat menyaksikan Matahari  bergerak retrograde di langit. Di satu lokasi, setelah terbit di timur  dan sebelum melintasi meridian, Matahari akan sedikit bergerak mundur  lalu kembali bergerak ke barat hingga terbenam. Begitu pula setelah  Matahari terbenam, ia akan mengalami gerak retrograde sekali lagi  (walaupun tidak dapat diamati). Akibatnya, satu hari di sana (sekali  siang dan sekali malam) sama dengan 176 hari Bumi (sekitar 6 bulan).  Silakan lihat sendiri dengan menggunakan program simulasi langit  Stellarium.</p>
<p>Penyebab gerak retrograde Matahari itu berkaitan dengan periode  revolusi dan rotasinya. Periode revolusi Merkurius adalah 88 hari Bumi,  sedangkan periode rotasinya adalah 58,7 hari Bumi. Kita bisa lihat bahwa  perbandingan periode rotasi dan revolusinya adalah 2/3. Artinya, planet  ini menyelesaikan 2 kali revolusinya dalam waktu yang bersamaan dengan 3  kali rotasi.</p>
<div id="attachment_762" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/02/elongasi.png"><img class="size-medium wp-image-762" title="Planet dalam jika dilihat dari Bumi (Sumber: Wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/02/elongasi-300x270.png" alt="Planet dalam jika dilihat dari Bumi (Sumber: Wikipedia)" width="300" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Planet dalam jika dilihat dari Bumi (Sumber: Wikipedia)</p></div>
<p>Hubungan antara periode rotasi dan revolusi ini (disebut juga dengan  resonansi) adalah hal yang unik di tata surya. Resonansi yang umum  terdapat di tata surya adalah 1:1. Artinya, periode rotasi sama dengan  periode revolusi. Misalnya pada sistem Pluto dan Charon, yang  masing-masing memiliki periode rotasi yang sama dengan periode revolusi  Charon terhadap Pluto. Akibatnya, Pluto dan Charon saling menunjukkan  permukaan yang tetap. Bulan juga memiliki resonansi 1:1 karena periode  rotasinya sama dengan periodenya mengelilingi Bumi. Kita tahu akibatnya,  yaitu permukaan Bulan yang terlihat dari Bumi selalu tetap.</p>
<p>Ciri fisik<br />
Planet batuan ini hanya berdiameter 4800 km. Ukuran ini lebih kecil dari  Ganymede dan Titan, 2 satelit terbesar di tata surya. Tetapi Merkurius  masih lebih masif dari keduanya. Dan kerapatannya 5,43 g/cm^3,  menjadikannya benda dengan kerapatan tertinggi kedua di tata surya  setelah Bumi. Ketebalan bagian inti planet ini lebih dominan relatif  terhadap ukurannya, yaitu mencapai 60% dari massanya. Jaraknya dari  Matahari antara 46 juta km hingga 70 juta km. Eksentrisitas orbitnya  paling besar di antara semua planet, yaitu 0,21.</p>
<p>Inklinasi orbit Merkurius terhadap ekliptika adalah 7 derajat. Sudut  kemiringan sumbu rotasinya terhadap sumbu revolusi mendekati nol,  sekitar 0,027 derajat. Masih lebih kecil dari Jupiter yang sebesar 3,1  derajat. Dengan sudut sekecil itu, tidak ada 4 musim di Merkurius belahan utara  dan selatan. Temperatur di permukaannya bervariasi antara 80 &#8211; 700 K.</p>
<p>Misi penerbangan ke Merkurius<br />
Merkurius adalah salah satu objek yang sulit diamati, sehingga tidak  banyak informasi yang bisa diperoleh darinya. Bahkan, periode rotasi  planet ini baru diketahui benar pada tahun 1965 setelah Merkurius  diamati dengan radar.</p>
<p>Pengiriman wahana untuk meneliti Merkurius dari dekat pun tidak  mudah. Posisinya yang dekat dengan Matahari, ketiadaan atmosfer, dan  perbedaan laju orbit adalah beberapa hal yang menyulitkan. Alhasil,  hingga kini baru ada 1 misi yang sukses mengamati Merkurius, yaitu  Mariner 10.</p>
<p>Wahana Mariner 10 diluncurkan pada 3 November 1973. Proses  keberangkatannya yang memanfaatkan planet Venus (sebagai &#8220;ketapel&#8221;  gravitasi) adalah yang pertama dilakukan dalam sejarah penerbangan  antariksa. Ketika melintas di dekat Venus, wahana ini mengambil rekaman  fotografi ultraungu dari planet itu. Walaupun Venus sudah pernah diamati  dengan teleskop landas Bumi sebelumnya, tetap saja foto Venus yang  diberikan Mariner 10 ini mengundang kekaguman para peneliti.</p>
<p>Wahana ini telah memberikan pengetahuan luar biasa tentang permukaan  Merkurius. Selain itu, wahana ini juga mendeteksi adanya medan magnet di  Merkurius. Satu hal yang mengagetkan bagi peneliti karena planet ini  memiliki rotasi yang lambat. Akhirnya, pada tahun 1975 Mariner 10 pun  sudah tidak berfungsi lagi setelah bahan bakarnya habis dan kontak  dihentikan.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_759" class="wp-caption aligncenter" style="width: 665px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/02/mar-mess-merkurius.png"><img class="size-large wp-image-759  " title="Mariner 10 (kiri) dan Messenger (Sumber: Wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/02/mar-mess-merkurius-1024x343.png" alt="Mariner 10 (kiri) dan Messenger (Sumber: Wikipedia)" width="655" height="219" /></a><p class="wp-caption-text">Mariner 10 (kiri) dan Messenger (Sumber: Wikipedia)</p></div>
<p>Baru pada tahun 1998, misi terbaru ke Merkurius mulai direncanakan.  Wahana pada misi itu dinamai Messenger, yang diluncurkan pada tanggal 3  Agustus 2004. Target misi ini adalah mengorbit Merkurius pada tanggal 18  Maret 2011. Terdapat 6 pertanyaan yang harus dicari jawabannya oleh  Messenger: 1. Mengapa kerapatan Merkurius begitu tinggi?; 2. Bagaimana  riwayat sejarah geologis planet ini?; 3. Bagaimana sifat medan magnet  Merkurius?; 4. Bagaimana susunan internal Merkurius?; 5. Apa materi yang  terdapat pada kutub-kutub Merkurius?; dan 6. Bagaimana komposisi  atmosfer Merkurius?</p>
<p>Di masa yang akan datang, sebuah misi lagi akan dijalankan. Namanya  BepiColombo. Misi ini akan melengkapi data yang didapat Messenger.  Direncanakan untuk diluncurkan pada tahun 2013 dan mengorbit Merkurius  pada tahun 2019, BepiColombo akan mengumpulkan data selama 1 atau 2  tahun. Para ilmuwan tentunya berharap kedua misi tersebut akan membawa  manusia semakin mengenal karakteristik planet kecil ini.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F02%2Fmerkurius-planet-terkecil-terdekat-tercepat%2F&amp;title=Merkurius%2C%20Planet%20Terkecil%2C%20Terdekat%2C%20dan%20Tercepat" id="wpa2a_48"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/02/merkurius-planet-terkecil-terdekat-tercepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Matahari Sebagian 4 Januari 2011</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/01/gerhana-matahari-sebagian-4-januari-2011/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/01/gerhana-matahari-sebagian-4-januari-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 11:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana matahari sebagian]]></category>
		<category><![CDATA[gms]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[penumbra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=734</guid>
		<description><![CDATA[<p>Di hari keempat di tahun yang baru ini, kita langsung disambut fenomena astronomi yang menakjubkan: Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Gerhana ini akan berlangsung dari pukul 6.40 GMT (13.40 WIB) hingga 11 GMT (18 WIB). Namun sayangnya, GMS ini tidak dapat diamati dari Indonesia karena area yang dilalui oleh bayangan penumbra Bulan hanyalah di kawasan Eropa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di hari keempat di tahun yang baru ini, kita langsung disambut fenomena  astronomi yang menakjubkan: Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Gerhana ini akan berlangsung dari pukul 6.40 GMT (13.40 WIB) hingga  11 GMT (18 WIB). Namun sayangnya, GMS ini tidak dapat diamati dari  Indonesia karena area yang dilalui oleh bayangan penumbra Bulan hanyalah  di kawasan Eropa, Afrika bagian utara, dan sedikit Asia.</p>
<p><span id="more-734"></span></p>
<div id="attachment_735" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/S2011Jan04.png"><img class="size-medium wp-image-735" title="S2011Jan04" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/S2011Jan04-300x450.png" alt="GMS 20110104 (Sumber: eclipse.org.uk)" width="300" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">GMS 20110104 (Sumber: eclipse.org.uk)</p></div>
<p>Gerhana Matahari Sebagian terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi membentuk satu garis lurus dan dalam konfigurasi yang sedemikian rupa sehingga hanya bayangan sekundernya saja yang jatuh di permukaan Bumi. Area yang terkena bayangan sekunder dari Bulan (disebut juga penumbra) inilah yang mengalami Gerhana Matahari Sebagian.</p>
<div id="attachment_736" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/ats_0122011.gif"><img class="size-full wp-image-736" title="ats_0122011" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/ats_0122011.gif" alt="Animasi GMS 20110104 (Sumber: eclipse.org.uk)" width="250" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">Animasi GMS 20110104 (Sumber: eclipse.org.uk)</p></div>
<p>Negara pertama yang dapat melihat gerhana Matahari kali ini adalah Aljazair. Lalu Rusia, Kazakstan, Mongolia, dan Cina di bagian barat laut akan dapat mengamati Matahari terbenam dalam keadaan gerhana. Silakan lihat <a href="http://www.eclipse.org.uk/eclipse/0122011/">tautan ini</a> untuk mencari daftar lengkap kota yang terkena akan dapat mengamati GMS kali ini.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F01%2Fgerhana-matahari-sebagian-4-januari-2011%2F&amp;title=Gerhana%20Matahari%20Sebagian%204%20Januari%202011" id="wpa2a_52"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/01/gerhana-matahari-sebagian-4-januari-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan Meteor Quadrantids</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2011/01/hujan-meteor-quadrantids/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2011/01/hujan-meteor-quadrantids/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 11:19:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[hujan meteor]]></category>
		<category><![CDATA[komet]]></category>
		<category><![CDATA[meteor]]></category>
		<category><![CDATA[meteorit]]></category>
		<category><![CDATA[meteoroid]]></category>
		<category><![CDATA[quadrantid]]></category>
		<category><![CDATA[rasi]]></category>
		<category><![CDATA[ursa major]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hujan meteor Quadrantid adalah salah satu hujan meteor yang terbaik dalam setahun. Jumlah meteor mencapai 100 buah per jam. Asal radian dari hujan meteor ini adalah di dekat rasi Bootes, yang terletak di belahan langit utara.</p> <p style="text-align: left;">Sedikit berbeda dengan penamaan hujan meteor lainnya, hujan meteor ini dinamakan sesuai dengan rasi yang kini sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan meteor Quadrantid adalah salah satu hujan meteor yang terbaik dalam setahun. Jumlah meteor mencapai 100 buah per jam. Asal radian dari hujan meteor ini adalah di dekat rasi Bootes, yang terletak di belahan langit utara.<span id="more-726"></span></p>
<p style="text-align: left;">Sedikit berbeda dengan penamaan hujan meteor lainnya, hujan meteor ini dinamakan sesuai dengan rasi yang kini sudah tidak ada lagi. Rasi yang dimaksud adalah Quadran Muralis. Rasi yang ditemukan oleh J. Lalande pada tahun 1795 ini terletak dekat ekor dari Ursa Major, di antara Bootes dan Draco. Rasi ini menunjukkan alat mural quadrant, yang biasa digunakan untuk menentukan posisi benda langit.</p>
<div id="attachment_727" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/bode_quadrans.jpg"><img class="size-medium wp-image-727 " title="bode_quadrans" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/bode_quadrans-300x201.jpg" alt="Rasi Quadran Muralis" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Rasi Quadran Muralis (Sumber: www.pa.msu.edu)</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Hujan meteor ini terjadi pada pekan pertama Januari, dengan puncaknya berada pada tanggal 3 Januari. Rasi Bootes akan terbit sekitar pukul 2 dini hari, sehingga hujan meteor ini akan dapat disaksikan dengan lebih baik sekitar pukul 3, setelah arah radiannya sudah cukup tinggi di langit sebelah timur.</p>
<p style="text-align: left;">
<div id="attachment_728" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/quadrantids_rad.gif"><img class="size-medium wp-image-728" title="quadrantids_rad" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/quadrantids_rad-300x216.gif" alt="Mengamati hujan meteor Quadrantids (Sumber: science.nasa.gov)" width="300" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">Mengamati hujan meteor Quadrantids (Sumber: science.nasa.gov)</p></div>
<p style="text-align: left;">Hujan meteor ini pertama kali diamati pada tahun 1825. Namun posisinya yang berada jauh di utara menyebabkan hujan meteor ini sering tidak dapat diamati dengan baik. Karena di bulan Januari, belahan bumi utara mengalami musim dingin, sehingga langit tidak terlalu bersahabat. Selain itu juga karena puncak dari hujan meteor ini hanya berlangsung sekitar 2 jam saja.</p>
<p>Berbeda dengan kebanyakan hujan meteor lainnya, asal material hujan meteor ini tidak diketahui dengan pasti. Dugaannya adalah komet yang menjadi sumber hujan meteor ini sudah hancur sejak lama.</p>
<div id="attachment_731" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/quadrantids_vaubaillon.jpg"><img class="size-medium wp-image-731" title="quadrantids_vaubaillon" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2011/01/quadrantids_vaubaillon-300x200.jpg" alt="Aurora dan meteor-meteor Quadrantids (Sumber: APOD)" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Aurora dan meteor-meteor Quadrantids (Sumber: APOD)</p></div>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2011%2F01%2Fhujan-meteor-quadrantids%2F&amp;title=Hujan%20Meteor%20Quadrantids" id="wpa2a_56"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2011/01/hujan-meteor-quadrantids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matahari, Bintang Terbaik Yang Kita Miliki</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/10/matahari-bintang-terbaik-yang-kita-miliki/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/10/matahari-bintang-terbaik-yang-kita-miliki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Oct 2010 02:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[bintik matahari]]></category>
		<category><![CDATA[evolusi]]></category>
		<category><![CDATA[fotosfer]]></category>
		<category><![CDATA[katai putih]]></category>
		<category><![CDATA[korona]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[raksasa merah]]></category>
		<category><![CDATA[sunspot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[<p>Matahari kita adalah sebuah bintang, yaitu bola gas panas raksasa yang mengeluarkan energi dan cahaya. Ukurannya begitu besar dibandingkan dengan Bumi dan planet-planet lainnya. Namun sebenarnya, Matahari termasuk bintang yang ukurannya biasa saja. Masih banyak bintang lain yang berukuran jauh lebih besar ataupun jauh lebih kecil darinya. Tetapi tetap saja Matahari adalah satu bintang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matahari kita adalah sebuah bintang, yaitu bola gas panas raksasa yang mengeluarkan energi dan cahaya. Ukurannya begitu besar dibandingkan dengan Bumi dan planet-planet lainnya. Namun sebenarnya, Matahari termasuk bintang yang ukurannya biasa saja. Masih banyak bintang lain yang berukuran jauh lebih besar ataupun jauh lebih kecil darinya. Tetapi tetap saja Matahari adalah satu bintang yang sangat istimewa bagi manusia, Bumi, dan tata surya kita.<span id="more-709"></span></p>
<p>Matahari memiliki diameter 1,4 juta km dan massa 1,9 x 10^30 kg. Di galaksi Bimasakti, ukuran sebesar ini termasuk dalam 10% yang terbesar. Jauh lebih banyak bintang dengan ukuran dan massa yang lebih kecil (yang terbanyak adalah bintang dengan massa setengah massa Matahari).</p>
<div id="attachment_710" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/10/628px-The_Sun_by_the_Atmospheric_Imaging_Assembly_of_NASAs_Solar_Dynamics_Observatory_-_20100801.jpg"><img class="size-medium wp-image-710" title="Matahari (Sumber: wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/10/628px-The_Sun_by_the_Atmospheric_Imaging_Assembly_of_NASAs_Solar_Dynamics_Observatory_-_20100801-300x286.jpg" alt="Matahari (Sumber: wikipedia)" width="300" height="286" /></a><p class="wp-caption-text">Matahari (Sumber: wikipedia)</p></div>
<p>Matahari adalah bintang deret utama dengan kelas G2. Materi penyusunnya adalah hidrogen sebanyak 70%, helium 28%, dan sisanya unsur berat lain. Permukaannya (fotosfer) bersuhu 5.800 K, sedangkan di bagian pusat suhunya mencapai 15 juta K. Cahaya Matahari yang berwarna putih kekuningan yang bisa kita lihat berasal dari lapisan fotosfer. Di lapisan ini terdapat banyak kejadian menarik, di antaranya adalah bintik Matahari, granulasi, prominensa, dan filamen. Di bagian luar terdapat atmosfer yang disebut korona. Bagian ini memiliki temperatur 5 juta K. Karena terangnya fotosfer, kita tidak dapat mengamati korona kecuali ketika terjadi gerhana Matahari total.</p>
<p>Sebagai sebuah bintang, Matahari memiliki pabrik pembangkit energi yang sangat aktif di bagian pusatnya. Di bagian yang kerapatannya sangat tinggi ini (150 kali kerapatan air), atom-atom hidrogen bereaksi membentuk helium dalam serangkaian reaksi. Reaksi penggabungan (fusi) ini menghasilkan energi yang sangat besar, yaitu 386 miliar miliar juta watt. Setiap detiknya, sebanyak 700 juta ton hidrogen diubah menjadi 695 juta ton helium dan 5 juta ton energi dalam bentuk sinar gamma.</p>
<div id="attachment_713" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/10/609px-Solar_eclips_1999_4_NR.jpg"><img class="size-medium wp-image-713" title="Korona Matahari terlihat ketika gerhana Matahari total (Sumber: wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/10/609px-Solar_eclips_1999_4_NR-300x295.jpg" alt="Korona Matahari terlihat ketika gerhana Matahari total (Sumber: wikipedia)" width="300" height="295" /></a><p class="wp-caption-text">Korona Matahari terlihat ketika gerhana Matahari total (Sumber: wikipedia)</p></div>
<p>Bintik Matahari adalah suatu area gelap di fotosfer yang suhunya lebih  rendah relatif terhadap sekitarnya (3800 K berbanding 5800 K).  Keberadaannya bergantung pada aktivitas medan magnet di Matahari. Dan  jumlahnya akan meningkat atau menurun secara periodik, setiap 11 tahun  sekali. Jika jumlahnya sangat banyak, maka kita sebut Matahari sedang  berada dalam masa aktif. Diperkirakan puncak dari keaktifan Matahari  yang berikutnya akan terjadi pada tahun 2013 nanti. Mungkin kita sering  mendengar hal ini dari isu kiamat 2012. Namun tentu saja keduanya tidak  ada berkaitan.</p>
<div id="attachment_712" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/10/Sun_parts_big.jpg"><img class="size-medium wp-image-712" title="Diagram penampang Matahari (Sumber: wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/10/Sun_parts_big-300x214.jpg" alt="Diagram penampang Matahari (Sumber: wikipedia)" width="300" height="214" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram penampang Matahari (Sumber: wikipedia)</p></div>
<p>Sebagaimana manusia, bintang juga lahir, tumbuh besar, lalu mati. Semakin besar massa sebuah bintang, maka kala hidupnya semakin singkat dan sebaliknya. Usia Matahari saat ini, atau sama dengan usia tata surya kita, adalah sekitar 4,57 milyar tahun. Diperkirakan Matahari masih akan terus seperti sekarang hingga 5 milyar tahun lagi. Setelah itu, Matahari akan memasuki fase raksasa merah (red giant). Disebut demikian karena ukurannya akan membesar hingga 250 kali lipat dan mungkin akan mencapai orbit Bumi (sejauh 150 juta km).</p>
<div id="attachment_711" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/10/Solar_Life_Cycle.png"><img class="size-medium wp-image-711" title="Diagram Evolusi Matahari (Sumber: wikipedia)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/10/Solar_Life_Cycle-300x73.png" alt="Diagram Evolusi Matahari (Sumber: wikipedia)" width="300" height="73" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram Evolusi Matahari (Sumber: wikipedia)</p></div>
<p>Evolusi seperti ini adalah hal yang biasa untuk bintang bermassa kecil dan menengah. Di akhir kehidupannya, Matahari tidak akan menjadi supernova dan lubang hitam karena evolusi tersebut hanya untuk bintang bermassa besar. Setelah tahap raksasa merah, kemudian Matahari akan melontarkan lapisan luarnya hingga membentuk planetary nebula. Bagian yang tersisa dari Matahari hanyalah intinya saja, yang disebut dengan bintang katai putih (white dwarf). Akhirnya ia akan mendingin secara perlahan hingga milyaran tahun.</p>
<p>Peran penting Matahari bagi masyarakat sudah tampak dari berbagai peradaban kuno. Di jaman Yunani kuno Matahari disebut dan dipuja sebagai dewa Helios. Sedangkan di jaman Romawi Matahari diperlakukan sama dengan sebutan Sol. Matahari juga berperan penting di tata surya kita. Massanya mencapai 99,86% dari massa total tata surya. Hal ini menunjukkan betapa Matahari sangat dominan. Ikatan gravitasinya membuat planet-planet dan benda lainnya di tata surya bergerak mengelilingi Matahari secara teratur. Dan Matahari pun mengajak seluruh tata surya untuk mengelilingi pusat galaksi Bimasakti dalam periode sekitar 220 juta tahun.</p>
<p>Cahaya yang dipancarkan Matahari sangat membantu kita dalam banyak hal. Selain memberikan panasnya di siang hari, informasi yang ada di dalam cahaya Matahari berperan besar dalam pengetahuan yang kita miliki sekarang tentang bintang-bintang di alam semesta. Dalam jarak yang tepat, cahayanya juga memberikan jaminan terhadap kebutuhan energi yang diperlukan dalam kehidupan di Bumi.</p>
<p>Spektrum Matahari juga berjasa dalam banyak hal. Dahulu, saat spektrum Matahari dipelajari pertama kali, manusia menemukan unsur helium. Unsur ini dinamakan demikian karena saat itu hanya ditemukan di Matahari. Dan dari spektrum inilah kita mengetahui bahwa Matahari dan bintang adalah benda yang sejenis.</p>
<p>Singkat kata, Matahari adalah benda percobaan terdekat bagi astronom di laboratorium alam semesta dalam meneliti bintang. Berbagai misi luar angkasa yang khusus meneliti Matahari telah dan akan diluncurkan demi mengenal Matahari lebih dekat, seperti Pioneer, Helios, SOHO, Genesis, Stereo, dan lain-lain.</p>
<p>Sejak tata surya terbentuk hingga sekarang, peran Matahari dalam mendukung kehidupan di Bumi sangatlah besar. Namun tidak selamanya akan berjalan begitu, karena dalam evolusinya Matahari akan memanas dan membesar. Saat itu, Matahari sudah tidak lagi mendukung kehidupan. Bahkan ia akan menelan dan menghancurkan Merkurius, Venus, dan kemudian Bumi. Akankah kehidupan di Bumi saat itu sudah berpindah ke planet lain? Atau mungkin ke planet di bintang lain, galaksi lain? Sebaiknya begitu, tetapi siapa yang tahu.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F10%2Fmatahari-bintang-terbaik-yang-kita-miliki%2F&amp;title=Matahari%2C%20Bintang%20Terbaik%20Yang%20Kita%20Miliki" id="wpa2a_60"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/10/matahari-bintang-terbaik-yang-kita-miliki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Geosentris Dan Heliosentris Di Eropa (2)</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/09/geosentris-dan-heliosentris-di-eropa-2/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/09/geosentris-dan-heliosentris-di-eropa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Sep 2010 05:19:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[copernicus]]></category>
		<category><![CDATA[galilean]]></category>
		<category><![CDATA[galileo]]></category>
		<category><![CDATA[geosentris]]></category>
		<category><![CDATA[heliosentris]]></category>
		<category><![CDATA[kepler]]></category>
		<category><![CDATA[newton]]></category>
		<category><![CDATA[tycho brahe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tidak banyak perubahan yang terjadi pada bentuk model geosentris di Eropa sejak kehancuran bangsa Romawi di sekitar tahun 400 M karena tidak ada rekaman yang jelas tentang itu. Perkembangan ilmu astronomi baru menghangat kembali saat adanya gebrakan dari Copernicus (1473-1543 M) yang mengemukakan model heliosentrisnya. Model tersebut mengganggu kemapanan pengetahuan tentang alam semesta geosentris. Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak banyak perubahan yang terjadi pada bentuk model geosentris di Eropa sejak kehancuran bangsa Romawi di sekitar tahun 400 M karena tidak ada rekaman yang jelas tentang itu. Perkembangan ilmu astronomi baru menghangat kembali saat adanya gebrakan dari Copernicus (1473-1543 M) yang mengemukakan model heliosentrisnya. Model tersebut mengganggu kemapanan pengetahuan tentang alam semesta geosentris. Dan dibandingkan dengan kemunculannya yang pertama kali, kali ini model heliosentris benar-benar menyita perhatian masyarakat karena kesederhanaan yang digunakannya.</p>
<p><span id="more-564"></span>Bagi Copernicus, model geosentris versi Ptolemius sudah tidak sesuai dengan berbagai prinsip filosofis yang menyatakan keistimewaan manusia dan Buminya. Ia berpendapat demikian karena pusat sistem dalam model geosentris bukanlah Bumi, melainkan titik equant. Terlebih lagi equant adalah suatu benda yang tidak berwujud. Karena itu, Copernicus mencoba membuat model yang lebih sederhana dan lebih mudah secara matematis.</p>
<div id="attachment_502" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/04/ven_merk_helio.png"><img class="size-medium wp-image-502" title="ven_merk_helio" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/04/ven_merk_helio-300x204.png" alt="Mengukur jarak Venus dan Merkurius" width="300" height="204" /></a><p class="wp-caption-text">Mengukur jarak Venus dan Merkurius dari Matahari</p></div>
<p>Kesederhanaan dalam model heliosentris buatan Copernicus ada setidaknya  dua hal, yaitu masalah posisi planet Merkurius dan Venus yang tidak  pernah jauh dari Matahari dan gerak retrograde planet. Menurut model  ini, penjelasan atas permasalahan posisi Merkurius dan Venus adalah  karena keduanya secara alamiah terletak di antara Matahari dan orbit  Bumi. Berbeda dengan model geosentris Ptolemius yang memposisikan  episiklis Merkurius dan Venus secara cerdik namun rumit, yaitu dengan  menggambarkan titik pusat episiklis Merkurius dan Venus yang selalu  berada pada garis hubung Matahari &#8211; Bumi sehingga ketiga benda itu  selalu bergerak beriringan setiap saat. Kemudian gerak retrograde juga  dijelaskan sebagai peristiwa yang alamiah karena terjadi ketika planet  yang laju orbitnya tinggi mendahului planet lain yang laju orbitnya  lebih rendah. Jauh lebih sederhana dibandingkan model geosentris yang  memerlukan episiklis untuk menjelaskannya.</p>
<p>Kelebihan lain model heliosentris adalah jarak semua planet dari pusat sistem dapat ditentukan dengan relatif mudah. Untuk planet dalam (yang orbitnya berada di antara Matahari dan Bumi), penghitungan jarak bisa dilakukan dengan trigonometri pada saat planet mencapai elongasi terbesarnya dari Matahari. Sedangkan untuk planet luar (orbitnya lebih jauh dari posisi Bumi), penghitungan jarak masih bisa dilakukan walaupun dengan cara yang sedikit lebih rumit. Perhitungan jarak ini tidak bisa dilakukan orang dengan model geosentris.</p>
<p><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/09/historian-05.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-675" title="historian 05" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/09/historian-05-300x222.png" alt="historian 05" width="300" height="222" /></a>Model heliosentris yang dibuat Copernicus ini masih menggunakan deferen dan episiklis. Tetapi berbeda dengan penggunaannya di model geosentris Ptolemius, episiklis dan deferen di sini bukan digunakan untuk menjelaskan gerak retrograde melainkan hanya untuk menjelaskan laju orbit planet yang tidak konstan. Copernicus berhasil membuat model alam semesta yang lebih sederhana, yaitu tanpa equant dan titik eksentris. Namun ternyata modelnya memerlukan lebih banyak episiklis daripada model geosentris Ptolemius agar dapat menjelaskan hasil pengamatan. Berarti model yang ia buat masih belum cukup sederhana. Hal ini terjadi karena ia masih memegang konsep bentuk orbit lingkaran sempurna.</p>
<p>Walaupun tampak cukup baik, namun Copernicus masih belum dapat memberikan bukti yang mendukung model heliosentrisnya. Copernicus menyadari hal ini dan karenanya ia berniat untuk tidak mempublikasikan karyanya itu ke masyarakat. Namun menjelang akhir kehidupannya Copernicus dibujuk oleh salah satu orang dekatnya untuk menerbitkan tulisannya itu dalam sebuah buku, dan akhirnya ia menyetujuinya. Bukunya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Caelestium (Revolusi Bola Langit) pun terbit dan sampai ke tangan Copernicus tepat di hari kematiannya, pada tanggal 24 Mei 1543. Untuk mengantisipasi kontroversi yang timbul, buku tersebut dilengkapi dengan pengantar yang menyatakan bahwa buku itu hanya memaparkan model alam semesta secara matematis saja dan tidaklah menggambarkan kenyataan sistem yang sesungguhnya. Tentu saja pernyataan ini tidak ditulis maupun disetujui oleh Copernicus.</p>
<p>Setelah kematian Copernicus, model heliosentrisnya tidak ikut mati. Yang terjadi justru kebalikannya, model tersebut begitu menyita perhatian publik. Penyebabnya adalah karena kontribusi beberapa orang dalam waktu kurang dari 100 tahun sejak kematian Copernicus. Mereka secara berturut-turut berperan dalam pengembangan model heliosentris baik secara langsung maupun tidak.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/09/historian-02.png"><img class="size-medium wp-image-659 aligncenter" title="historian 02" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/09/historian-02-300x260.png" alt="tokoh heliosentrisme" width="300" height="260" /></a></p>
<p>Tokoh pertama yang  berkontribusi besar dalam pengembangan teori heliosentris setelah kematian Copernicus adalah Tycho Brahe (1546-1601 M). Ketertarikan Tycho (dibaca Tiko) pada astronomi berawal setelah ia menyaksikan gerhana Matahari tanggal 21 Agustus 1560 yang sudah diprediksi sebelumnya. Karena dilahirkan sebagai keturunan bangsawan, Tycho pun bisa mengakses buku karya Ptolemius dan beberapa tabel astronomi, termasuk yang dibuat berdasarkan model</p>
<p>Pada bulan Agustus 1563, Tycho mengamati Jupiter dan Saturnus yang berada berdekatan di langit. Ternyata peristiwa ini sudah diprediksi dalam tabel astronomi yang ia miliki namun dengan akurasi yang rendah. Prediksi dari tabel Ptolemius melenceng sejauh satu bulan, sementara prediksi dari tabel Copernicus melenceng beberapa hari. Menurut Tycho, table astronomi seharusnya bisa memberikan akurasi lebih tinggi bila ditunjang dengan pengamatan planet yang lebih akurat dalam rentang waktu yang lama. Hal inilah yang kemudian menjadi cita-cita Tycho dan membuatnya meninggalkan kuliahnya.</p>
<p>Fenomena astronomi berikutnya yang ia hadapi adalah ketika munculnya sebuah bintang pada tahun 1572 di suatu titik yang tidak terlihat sebelumnya. Bintang ini kemudian disebut juga sebagai nova, yang berarti bintang baru. Nova tersebut lebih terang daripada Venus sehingga dapat dilihat di siang hari dan bertahan hingga lebih dari satu tahun. Tycho yang mencoba menentukan paralaks bintang tersebut dapat membuktikan bahwa bintang tersebut terletak sama jauhnya dengan bintang-bintang. Padahal masyarakat saat itu menganggap nova adalah peristiwa yang terjadi di atmosfer Bumi.</p>
<p>Tycho, yang sempat berkeliling Eropa untuk memperdalam ilmu astronominya, kemudian berkeinginan untuk menetap di Swiss. Namun Raja Denmark yang berkuasa saat itu tidak ingin kehilangan astronom terbaik di negerinya. Jadi ia kemudian memberikan Tycho sebuah pulau kecil agar ia tetap berada di Denmark. Di pulau itu Tycho pun membangun sebuah kastil bernama Uraniborg dan observatorium yang dilengkapi dengan peralatan yang memiliki akurasi tinggi.</p>
<div id="attachment_672" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/09/408px-Mauerquadrant.jpg"><img class="size-medium wp-image-672  " title="408px-Mauerquadrant" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/09/408px-Mauerquadrant-300x440.jpg" alt="Tycho Brahe dalam observatoriumnya" width="180" height="264" /></a><p class="wp-caption-text">Tycho Brahe dan observatoriumnya</p></div>
<p>Di observatoriumnya inilah ia melakukan pengamatan komet pada tahun  1577. Banyak orang berpendapat bahwa komet, seperti juga nova  sebelumnya, adalah fenomena yang terjadi atmosfer Bumi. Dan sekali lagi  Tycho membuktikan bahwa komet itu bukan seperti yang dikira. Komet  adalah sebuah benda langit yang terletak jauh di belakang Bulan.</p>
<p>Kedua hasil pengamatan Tycho tersebut memberikan pengaruh sangat  besar terhadap dunia astronomi dan filosofi saat itu. Kepercayaan yang  dianut banyak orang saat itu adalah bahwa area langit tempat  bintang-bintang berada adalah tempat yang keadaannya selalu tetap, tanpa  perubahan sejak era penciptaan. Hasil pengamatan Tycho terhadap nova  itu kemudian diterbitkan dalam buku berjudul De Stella Nova yang  membuatnya terkenal di seluruh Eropa, sedangkan hasil pengamatannya  tentang komet baru terbit setelah ia meninggal dunia.</p>
<p>Tycho juga memiliki sebuah model alam semesta versinya sendiri. Model  tersebut tampak seperti perpaduan antara model Ptolemius dan  Copernicus, karena menyatakan bahwa Bumi ada di pusat alam semesta dan  dikelilingi oleh Matahari, Bulan dan bintang-bintang. Perbedaannya  terletak pada posisi dominan Matahari karena dikelilingi oleh semua  planet selain Bumi. Namun model ini tidak memiliki pengaruh besar kepada  masyarakat di sekitarnya saat itu.</p>
<p>Di observatoriumnya, Tycho melakukan pengamatan yang akurat terhadap  berbagai benda langit. Hasilnya adalah data tentang posisi planet-planet  dan 700 bintang selama 20 tahun. Namun ia tidak dapat mengolah data  tersebut karena kekurangannya dalam matematika. Setelah meninggalkan  Denmark pada tahun 1597, ia membangun observatorium baru di Praha.  Sembari menunggu pembangunan tersebut, ia mencari orang yang dapat  mengolah data yang dimilikinya. Kemudian baru di tahun 1600 ia  mempekerjakan seorang ahli untuk mengolah data tersebut. Orang itu  adalah Johannes Kepler (1571-1630 M). Kepler memiliki tugas melakukan analisis matematika terhadap data yang dimiliki Tycho. Setelah Tycho  meninggal, data pengamatan Tycho yang sangat penting itu segera diambil  alih oleh Kepler. Ia kemudian menghabiskan waktu hingga 8 tahun sebelum  menemukan apa yang kita sebut sekarang dengan Hukum Kepler.</p>
<p>Kepler mempublikasikan dua hukum awalnya terlebih dahulu pada tahun 1609 dan hukum ketiganya baru 10 tahun kemudian. Seperti kita tahu, Hukum Pertama Kepler menyebutkan bahwa semua planet mengelilingi Matahari dengan bentuk orbit elips, bukan lingkaran, dan Matahari terletak bukan di tengah elips melainkan di titik fokusnya. Kemudian Hukum Kedua Kepler menyebutkan bahwa laju orbit planet berubah-ubah, lambat jika jauh dari Matahari (di titik aphelion) dan cepet jika dekat dari Matahari (di titik perihelion). Dengan dua hukum awal ini maka episiklis dan deferen sudah tidak diperlukan lagi. Model heliosentris  pun berubah menjadi jauh lebih sederhana.</p>
<p>Di saat yang hampir bersamaan, Galileo (1564-1642 M) mengarahkan teleskopnya ke langit dan melakukan beberapa pengamatan yang hasilnya mendukung model heliosentris. Pertama, ia menyaksikan perubahan fase Venus dari waktu ke waktu, seperti halnya Bulan. Galileo mengetahui bahwa penyebabnya adalah perubahan posisi Venus ketika mengelilingi  Matahari dan hal ini tidak akan terjadi pada model geosentris. Lalu pengamatannya pada Jupiter menunjukkan bahwa ada 4 buah benda yang selalu berada di sekitar Jupiter sepanjang waktu. Menurut Galileo, keempatnya adalah satelit Jupiter dan hubungannya dengan Jupiter sama seperti hubungan Bumi dan Bulan. Pemahaman ini memberikan perubahan pemikiran tentang hubungan Bumi-Bulan dalam model heliosentris. Dahulu orang berpikir bahwa jika Bumi mengelilingi Matahari, maka Bulan (yang mengelilingi Bumi) akan tertinggal. Namun fakta bahwa Jupiter tidak meninggalkan 4 satelitnya (kini disebut dengan satelit Galilean) menunjukkan bahwa Bulan juga tidak akan tertinggal dari Bumi walaupun Bumi bergerak mengelilingi Matahari.</p>
<p>Pengamatan Galileo pada Bulan dan Matahari juga memberikan pengaruh  besar di jaman itu. Bulan diketahui memiliki permukaan yang tidak rata  sedangkan Matahari diketahui memiliki bintik gelap (sunspot) yang  bergerak di permukaan Matahari seiring dengan rotasi Matahari. Kedua  fakta tersebut menyanggah filosofi bahwa semua benda langit adalah benda  yang sempurna, tanpa kecacatan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/09/historian-04.png"><img class="size-medium wp-image-670 aligncenter" title="historian 04" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/09/historian-04-300x217.png" alt="Venus, Bulan, Jupiter, Matahari" width="300" height="217" /></a></p>
<p>Ilmu baru ini bukannya diterima oleh masyarakat luas namun justru membuat Galileo dihukum. Ia dianggap membuat ajaran baru yang menentang  agama saat itu. Dalam keadaan buta, ia dijadikan tahanan di rumahnya sendiri. Cap sebagai terhukum pada Galileo sendiri baru dicabut pada tahun 1992, dan sejak itu ia dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbaik.</p>
<p>Paska penemuan Kepler, model heliosentris tidaklah dapat diterima langsung oleh masyarakat saat itu. Penyebabnya adalah apa yang ditemukan Kepler belum dapat dijelaskan secara fisis. Belum ada penjelasan secara ilmiah mengapa Bumi mengelilingi Matahari dan bukan sebaliknya. Tidak lama setelah itu, jawaban yang dinanti pun muncul dari Newton (1642-1727 M). Hukum Gravitasi Newton yang kita kenal sekarang ini ternyata berkaitan erat dengan Hukum Ketiga Kepler, yang menunjukkan adanya hubungan antara kuadrat periode orbit dengan pangkat tiga jaraknya dari pusat sistem. Hukum Newton juga menyebutkan bahwa sudah sepantasnyalah benda bermassa kecil mengelilingi benda yang bermassa lebih besar. Maka, semakin kuatlah dukungan terhadap model heliosentris.</p>
<p>Model heliosentris akan semakin kuat jika bukti rotasi dan revolusi Bumi ditemukan. Keduanya hanya tinggal menunggu waktu saja seiring dengan teknologi yang semakin canggih. Akhirnya memang bukti-bukti tersebut ditemukan. Bukti revolusi Bumi yang pertama ditemukan adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aberration_of_light">aberasi bintang</a> pada tahun 1727 oleh James Bradley walaupun ia sedang mencari bukti adanya <a href="http://duniaastronomi.com/2009/05/mengukur-jarak-bintang-dengan-paralaks/">paralaks bintang</a>. Sementara paralaks bintang baru ditemukan pada tahun 1837 oleh F. Bessel. Sedangkan bukti Bumi berotasi adalah adanya <a href="http://www.classzone.com/books/earth_science/terc/content/visualizations/es1904/es1904page01.cfm?chapter_no=visualization">efek Coriolis</a> dan efek <a href="http://www.calacademy.org/products/pendulum/">pendulum Foucault</a>.</p>
<p>Kita bisa lihat bahwa kelahiran dan perkembangan model alam semesta (dalam hal ini, tata surya) selalu berkaitan dengan pengamatan. Model heliosentris akhirnya bisa diterima masyarakat karena memang model tersebut sederhana, dan yang penting, ada bukti-bukti yang mendukungnya. Jadi kita bisa menilai model mana yang lebih objektif. Kecuali ada bukti-bukti baru yang mendukung model geosentris, model heliosentris akan terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F09%2Fgeosentris-dan-heliosentris-di-eropa-2%2F&amp;title=Geosentris%20Dan%20Heliosentris%20Di%20Eropa%20%282%29" id="wpa2a_64"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/09/geosentris-dan-heliosentris-di-eropa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Geosentris Dan Heliosentris Di Eropa (1)</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/09/geosentris-dan-heliosentris-di-eropa-1/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/09/geosentris-dan-heliosentris-di-eropa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 05:09:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[aristarchus]]></category>
		<category><![CDATA[aristoteles]]></category>
		<category><![CDATA[geosentris]]></category>
		<category><![CDATA[heliosentris]]></category>
		<category><![CDATA[hipparchus]]></category>
		<category><![CDATA[model alam semesta]]></category>
		<category><![CDATA[model tata surya]]></category>
		<category><![CDATA[ptolemius]]></category>
		<category><![CDATA[retrograde]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jika dilihat secara sepintas, benda-benda di langit tampak bergerak dari timur ke barat. Selama satu hari satu malam, bintang-bintang, planet, Bulan, dan Matahari terbit dan tenggelam. Namun sebenarnya bukan hanya gerakan terbit dan tenggelam saja yang terjadi pada benda-benda langit tersebut. Ada yang bergerak dari ekuator ke utara, kembali ke ekuator, ke selatan, dan kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika dilihat secara sepintas, benda-benda di langit tampak bergerak dari timur ke barat. Selama satu hari satu malam, bintang-bintang, planet, Bulan, dan Matahari terbit dan tenggelam. Namun sebenarnya bukan hanya gerakan terbit dan tenggelam saja yang terjadi pada benda-benda langit tersebut. Ada yang bergerak dari ekuator ke utara, kembali ke ekuator, ke selatan, dan kembali lagi ke ekuator dalam waktu satu bulan atau satu tahun, seperti Bulan atau Matahari. Ada objek yang arah geraknya berubah-ubah dalam hitungan bulan. Awalnya bergerak dari barat ke timur lalu berubah menjadi dari timur ke barat, lalu kembali lagi seperti semula, sebagaimana yang terjadi dengan semua planet. Dan ada juga planet yang tidak pernah jauh dari Matahari, yang hanya terlihat di barat setelah Matahari terbenam atau di timur sebelum Matahari terbit. Dari gerakan benda-benda langit yang kompleks tersebut kemudian timbul pertanyaan besar, apa yang sebenarnya terjadi di langit?<span id="more-10"></span></p>
<p>Pemikiran tentang gerak benda langit sudah dilakukan ratusan tahun sebelum masehi. Prosesnya dimulai sejak Anaximander (611-546 SM) membuat model geosentris pertama dengan mengungkapkan bahwa Bumi datar, tidak bergerak, dan dikelilingi oleh Matahari, Bulan, dan bintang-bintang yang terletak pada kulit-kulit bola. Kemudian Phytagoras (569-475 SM), yang mengajarkan bahwa bola adalah bentuk geometri yang paling sempurna, membuat perubahan pada model sebelumnya dengan mengatakan bahwa bentuk Bumi adalah bulat. Tambahan mendetil juga diberikan oleh Eudoxus (408 SM) tentang gerak benda langit yang melingkar.</p>
<p>Model geosentris ini terus disempurnakan oleh beberapa orang, misalnya Aristoteles (384-322 SM). Ia memiliki kelebihan dibanding orang-orang sebelumnya karena melakukan pengamatan untuk memperjelas model geosentris ini. Dari salah satu hasil pengamatannya ia memberikan bukti yang menunjukkan bahwa Bumi itu bulat. Kesimpulan itu didapatnya setelah mengamati bayangan Bumi yang mengenai permukaan Bulan pada peristiwa gerhana Bulan berbentuk lingkaran. Ia juga berpendapat bahwa ukuran Bumi yang sangat besar membuatnya tidak mungkin untuk bergerak.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/02/historian-01.jpg"><img class="size-medium wp-image-554" title="historian 01" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/02/historian-01-300x435.jpg" alt="Tokoh Sejarah" width="300" height="435" /></a></p>
<p>Pertentangan kemudian muncul ketika Aristarchus (310-230 SM) menolak model geosentris. Dan ia pun menjadi orang yang untuk pertama kalinya mengusulkan ide bahwa sebenarnya Mataharilah yang menjadi pusat alam semesta (heliosentris). Menurutnya, Bumi bergerak mengelilingi Matahari sembari melakukan rotasi. Salah satu hal yang mendasari pernyataan Aristarchus ini adalah perhitungannya terhadap ukuran Matahari. Matahari dikatakan lebih besar daripada Bumi. Maka berdasarkan pernyataan Aristoteles, Matahari lebih tidak mungkin bergerak daripada Bumi.</p>
<p>Gagasan Aristarchus ini kemudian tidak mendapat tanggapan dan dukungan dari masyarakat sekitarnya saat itu. Terutama karena tidak ada orang yang dapat membuktikan bahwa Bumi sedang bergerak melakukan rotasi ataupun mengelilingi Matahari. Salah satu bukti yang dicari saat itu adalah paralaks akibat Bumi mengelilingi Matahari. Namun karena tidak ada yang dapat mengamatinya maka disimpulkan bahwa Bumi memang tidak mengelilingi Matahari. Dan mereka beranggapan bahwa jika Bumi berotasi, maka semua benda di udara akan tertinggal dan menimbulkan angin besar. Tetapi karena hal itu tidak terjadi, maka disimpulkan bahwa Bumi memang tidak berotasi.</p>
<p>Berbagai peningkatan akurasi model geosentris kemudian dilakukan oleh Hipparchus (190-120 SM), yang meletakkan Bumi tidak tepat di pusat sistem (melainkan di posisi eksentris) dan mendefinisikan lingkaran episiklis dan deferen untuk planet-planet. Episiklis adalah lintasan planet yang berbentuk lingkaran, yang titik pusatnya berada di deferen, yaitu sebuah lingkaran yang titik pusatnya berada dekat dengan Bumi. Dalam perkembangannya, sebuah episiklis bisa saja berada dalam episiklis lainnya. Jadi, dalam sistem ini semua planet bergerak mengelilingi titik pusat episiklisnya, sementara titik pusat episiklisnya tersebut bergerak sepanjang deferen.</p>
<p>Perubahan dalam model geosentris baru ini diperlukan untuk menjelaskan gerak benda langit yang memang cukup rumit. Episiklis diperlukan untuk menjelaskan gerak retrograde planet  sedangkan posisi Bumi yang tidak di pusat berfungsi untuk menjelaskan laju Matahari, Bulan dan planet yang tidak konstan. Perubahan juga diperlukan untuk peningkatan akurasi karena model ini dibuat dengan tujuan agar dapat digunakan dalam pengamatan selanjutnya, dengan kata lain, posisi benda langit pada waktu apapun harus dapat diramalkan dengan akurat. Tujuan ini menjadi berbeda dengan tujuan awal pembuatan model yang hanya berlandaskan kepentingan filosofis saja.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_559" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/02/3_years_of_saturn.gif"><img class="size-medium wp-image-559" title="3_years_of_saturn" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/02/3_years_of_saturn-300x181.gif" alt="Gerak Retrograde Saturnus" width="300" height="181" /></a><p class="wp-caption-text">Gerak retrograde Saturnus (Sumber: APOD).</p></div>
<p>Hipparchus membuat model geosentrisnya ini dengan menggunakan data dari pengamatannya sendiri yang cukup akurat. Ini adalah salah satu kelebihannya. Model ini juga disebut-sebut sebagai yang terbaik karena dapat menjelaskan gerak retrograde planet, kecerlangan maksimum planet superior yang terjadi saat retrograde, laju orbit planet, Matahari dan Bulan yang tidak konstan, serta karena model ini dapat diperbaiki akurasinya dengan penambahan episiklis.</p>
<p>Sampai saat ini, model geosentris dibuat dengan menempatkan Bumi di pusat sistem, kemudian berturut-turut ke arah luar adalah Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, Saturnus, dan bintang-bintang. Urutan tersebut dibuat berdasarkan laju yang diamati dari Bumi. Bulan berada di posisi terdekat dari Bumi karena memiliki laju orbit yang paling tinggi. Semua bintang dikatakan terletak pada jarak yang sama dari Bumi karena tidak terlihat adanya pergerakan individu. Jumlah planet juga hanya lima karena pada saat itu Neptunus dan Uranus belum ditemukan.</p>
<div id="attachment_416" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/02/ven_merk_geo.png"><img class="size-medium wp-image-416" title="ven_merk_geo" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/02/ven_merk_geo-300x204.png" alt="Model Geosentris Ptolemy" width="300" height="204" /></a><p class="wp-caption-text">3 Planet Terdekat Dari Matahari</p></div>
<p>Untuk menjelaskan posisi Merkurius dan Venus yang tidak pernah jauh dari Matahari sehingga hanya bisa diamati pada saat Matahari belum terbit atau saat Matahari sudah terbenam, model geosentris ini membuat garis yang menghubungkan Bumi, titik pusat episiklis Merkurius dan Venus, serta Matahari. Garis ini bermakna bahwa gerak Matahari akan selalu bersamaan dengan titik pusat episiklis Merkurius serta Venus.</p>
<p>Apa yang dilakukan Ptolemy (85-165 M) kemudian adalah semakin menyempurnakan model yang telah dibuat oleh Hipparchus. Ptolemy memperkenalkan equant, sebuah solusi geometris untuk menjelaskan laju tak konstan objek yang mengelilingi Bumi dengan lebih baik. Dalam modelnya ini, pergerakan episiklis di deferen konstan terhadap titik equant, bukan terhadap titik pusat sebagaimana yang digunakan dalam model geosentris Hipparchus. Hal ini mengakibatkan laju planet akan terlihat tidak konstan dari pengamat di Bumi.</p>
<div id="attachment_417" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/02/equ_epi_def.png"><img class="size-medium wp-image-417" title="equ_epi_def" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/02/equ_epi_def-300x358.png" alt="Model Alam Semesta (Tata Surya) Ptolemy" width="300" height="358" /></a><p class="wp-caption-text">Model alam semesta (tata surya) Ptolemy.</p></div>
<p>Model Ptolemy ini dikatakan cukup baik dalam memberikan penjelasan terhadap hasil pengamatan dan sekaligus memprediksi posisi benda langit di masa depan. Model ini pun digunakan sebagai panduan masyarakat dalam memahami alam semesta dan bertahan tanpa tandingan hingga hampir 15 abad kemudian.</p>
<p><em>&#8230; bersambung</em></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F09%2Fgeosentris-dan-heliosentris-di-eropa-1%2F&amp;title=Geosentris%20Dan%20Heliosentris%20Di%20Eropa%20%281%29" id="wpa2a_68"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/09/geosentris-dan-heliosentris-di-eropa-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengamatan Hilal Ramadhan 1431 H</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/08/pengamatan-hilal-ramadhan-1431-h/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/08/pengamatan-hilal-ramadhan-1431-h/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 07:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sebentar lagi, bulan Ramadhan tiba. Dalam sistem penanggalan Hijriah (kalender Islam), pergantian hari terjadi pada sore hari dan pergantian bulan ditandai dengan munculnya Bulan sabit muda (hilal) setelah Matahari terbenam. Maka kita bisa pastikan kapan bulan Ramadhan tiba dengan menghitung kapan bulan sabit dapat terlihat atau bahkan dengan mengamatinya langsung.</p> <p class="wp-caption-text">Hilal Gresik 20080930. Sumber: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebentar lagi, bulan Ramadhan tiba. Dalam sistem penanggalan Hijriah (kalender Islam), pergantian hari terjadi pada sore hari dan pergantian bulan ditandai dengan munculnya Bulan sabit muda (hilal) setelah Matahari terbenam. Maka kita bisa pastikan kapan bulan Ramadhan tiba dengan menghitung kapan bulan sabit dapat terlihat atau bahkan dengan mengamatinya langsung.<span id="more-633"></span></p>
<div id="attachment_640" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/08/condrodipo-300908.jpg"><img class="size-medium wp-image-640" title="condrodipo-300908" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/08/condrodipo-300908-300x225.jpg" alt="Hilal Gresik 20080930. Sumber: bosscha.itb.ac.id" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Hilal Gresik 20080930. Sumber: bosscha.itb.ac.id</p></div>
<p>Untuk memberikan informasi hilal astronomi secara lebih luas dan terbuka   kepada masyarakat, Depkominfo bekerja sama dengan PT. Telekomunikasi Indonesia dan Observatorium Bosscha dan didukung beberapa instansi lain, mengadakan kegiatan pengamatan hilal Ramadhan 1431 H. Kegiatan tersebut akan diselenggarakan pada tanggal 10 dan 11 Agustus 2010 nanti dari 12 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasil pengamatan itu dapat diakses masyarakat melalui internet secara langsung  (<em>streaming</em>). Alamat situs yang menyediakan layanan tayangan langsung itu adalah <a title="Situs Hilal Depkominfo" href="http://hilal.depkominfo.go.id/">http://hilal.depkominfo.go.id/</a> dan <a title="Situs Hilal Bosscha" href="http://bosscha.itb.ac.id/hilal/">http://bosscha.itb.ac.id/hilal/.</a></p>
<p>Ke-12 titik pengamatan yang tersebar di seluruh Indonesia adalah:</p>
<p>1. Biak, Papua,<br />
2. Pantai Barat Kupang,<br />
3. Mataram, NTB,<br />
4. Condrodipo, Gresik,<br />
5. Lantai atas MTB Makasar,<br />
6. Tenggarong, Kaltim,<br />
7. Bukit Belabelu, Yogyakarta,<br />
8. Observatorium Bosscha, Bandung,<br />
9. UPI BANDUNG,<br />
10. Anyer, Banten,<br />
11. Pekanbaru, Riau, dan<br />
12. Lok Ngah, Aceh.</p>
<p>Salah satu personel Dunia Astronomi juga terlibat dalam kegiatan ini. Hanief Trihantoro (pinah) yang bekerja di Planetarium Tenggarong, Kaltim akan melakukan pengamatan di Tenggarong dibantu oleh seorang rekan dari Observatorium Bosscha. Jika ingin tahu lebih detil mengenai lokasi pengamatannya, silakan lihat di salah satu situs yang disebutkan di atas.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F08%2Fpengamatan-hilal-ramadhan-1431-h%2F&amp;title=Pengamatan%20Hilal%20Ramadhan%201431%20H" id="wpa2a_72"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/08/pengamatan-hilal-ramadhan-1431-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan Sebagian 26 Juni 2010</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/06/gerhana-bulan-sebagian-26-juni-2010/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/06/gerhana-bulan-sebagian-26-juni-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 10:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wahai rakyat Indonesia, bersiaplah melakukan pengamatan karena gerhana Bulan terjadi lagi. Kali ini gerhana yang terjadi adalah gerhana Bulan sebagian. Gerhana ini dapat diamati dari Indonesia di langit sebelah timur ketika Bulan terbit. Secara lengkap, jadwal terjadinya gerhana Bulan sebagian nanti adalah sebagai berikut:</p> Awal gerhana penumbral : 08:57:21 UT (WIB = UT+7, WITA = [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahai rakyat Indonesia, bersiaplah melakukan pengamatan karena gerhana Bulan terjadi lagi. Kali ini gerhana yang terjadi adalah gerhana Bulan sebagian. Gerhana ini dapat diamati dari Indonesia di langit sebelah timur ketika Bulan terbit. Secara lengkap, jadwal terjadinya gerhana Bulan sebagian nanti adalah  sebagai berikut:<span id="more-606"></span></p>
<pre>Awal gerhana penumbral  :   08:57:21 UT (WIB = UT+7, WITA = UT+8, WIT = UT+9)
Awal gerhana sebagian   :   10:16:57 UT
Puncak gerhana          :   11:38:27 UT
Akhir gerhana sebagian  :   12:59:50 UT
Akhir gerhana penumbral :   14:19:34 UT</pre>
<p>Dari jadwal tersebut, dapat kita ketahui bahwa gerhana akan dimulai pada   pukul 15.57 WIB (17.57 WIT) dan berakhir pada pukul 21.19 WIB (23.19   WIT). Berarti, kesempatan kita untuk mengamati gerhana ini lebih lama   akan kita peroleh jika kita berada di wilayah Indonesia bagian timur   (Papua dan sekitarnya). Di Semarang misalnya, Bulan baru terbit pada pukul 17.27 WIB (lihat <a href="http://www.timeanddate.com/worldclock/moonrise.html">halaman ini</a> untuk mengetahui waktu terbit Bulan di seluruh dunia) sehingga gerhana hanya dapat diamati selama kurang dari 2 jam saja. Sedangkan di Jayapura, Bulan terbit pukul 17.30 WIT sehingga ada waktu hingga lebih dari 3 jam. Untuk mengetahui daerah mana saja  di seluruh   dunia yang dapat mengamati gerhana ini, lihat  gambar di bawah.</p>
<pre>

<div id="attachment_607" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/06/GBS-20100626-a.png"><img class="size-medium wp-image-607" title="Area Pengamatan GBS 20100626 (Sumber: NASA Eclipse)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/06/GBS-20100626-a-300x140.png" alt="Area Pengamatan GBS 20100626 (Sumber: NASA Eclipse)" width="300" height="140" /></a><p class="wp-caption-text">Area Pengamatan GBS 20100626 (Sumber: NASA Eclipse)</p></div></pre>
<p>Pada peristiwa gerhana Bulan sebagian ini, kita akan dapat mengamati  Bulan purnama yang secara perlahan berubah warna hingga separuhnya  berwarna merah, seperti gambar di bawah. Kenapa begitu? Hal tersebut  disebabkan oleh adanya sebagian kecil dari cahaya Matahari yang  dipantulkan oleh Bulan, yaitu cahaya merah. Karena Bumi memiliki atmosfer yang tembus cahaya, maka  tidak seluruh cahaya Matahari terhalangi oleh Bumi. Sebagian besar cahayanya terserap oleh atmosfer dan hanya menyisakan cahaya merah yang dapat menembus atmosfer Bumi dan sampai ke permukaan Bulan.</p>
<div id="attachment_611" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/06/GBS-2010026-c.png"><img class="size-medium wp-image-611" title="Kenampakan Bulan pada saat GBS 20100626 (Sumber: NASA Eclipse)" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/06/GBS-2010026-c-300x187.png" alt="Kenampakan Bulan pada saat GBS 20100626 (Sumber: NASA Eclipse)" width="300" height="187" /></a><p class="wp-caption-text">Kenampakan Bulan pada saat GBS 20100626 (Sumber: NASA Eclipse)</p></div>
<p>Peristiwa ini jarang terjadi karena gerhana Bulan baru akan terjadi lagi pada bulan Desember 2010 nanti. Oleh karena itu segera persiapkan diri untuk melakukan pengamatan dan pemotretan. Semoga sukses. <img src='http://duniaastronomi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F06%2Fgerhana-bulan-sebagian-26-juni-2010%2F&amp;title=Gerhana%20Bulan%20Sebagian%2026%20Juni%202010" id="wpa2a_76"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/06/gerhana-bulan-sebagian-26-juni-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Koreksi Arah Kiblat</title>
		<link>http://duniaastronomi.com/2010/05/hari-koreksi-arah-kiblat/</link>
		<comments>http://duniaastronomi.com/2010/05/hari-koreksi-arah-kiblat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 04:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadc</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamatan]]></category>
		<category><![CDATA[kakbah]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[koreksi]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[mekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaastronomi.com/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah Anda bahwa setiap tahun Matahari akan berada tepat di atas Kakbah sebanyak dua kali. Yaitu pada tanggal 28 Mei pada pukul 12.18 waktu Arab Saudi atau 16.18 WIB (17.18 WIT) dan 16 Juli pada pukul 12.27 waktu Arab Saudi atau 16.27 WIB (17.27 WIT). Peristiwa ini bisa dimanfaatkan oleh para pengurus masjid untuk melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tahukah Anda bahwa setiap tahun Matahari akan berada tepat di atas Kakbah sebanyak dua kali. Yaitu pada tanggal 28 Mei pada pukul 12.18 waktu Arab Saudi atau 16.18 WIB (17.18 WIT) dan 16 Juli pada pukul 12.27 waktu Arab Saudi atau 16.27 WIB (17.27 WIT). Peristiwa ini bisa dimanfaatkan oleh para pengurus masjid untuk melakukan koreksi arah kiblat. Bagaimana caranya?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pada hari yang disebutkan di atas, dirikanlah sebuah tongkat secara tegak lurus dengan permukaan tanah di area yang terkena sinar Matahari. Usahakan agar area yang digunakan dapat diberi tanda (dengan cat/spidol) agar arah kiblat dapat dituliskan nantinya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lalu pada jam yang ditentukan, bayangan tongkat akan menunjukkan arah kiblat. Tandailah bayangan tongkat itu.</div>
<p>Di setiap tahunnya, Matahari akan berada tepat di atas Kakbah sebanyak dua kali. Yaitu pada tanggal 28 Mei pada pukul 12.18 waktu Arab Saudi atau 16.18 WIB (17.18 WITA) dan 16 Juli pada pukul 12.27 waktu Arab Saudi atau 16.27 WIB (17.27 WITA). Peristiwa ini bisa dimanfaatkan oleh siapapun yang berkepentingan (misalnya pengurus masjid) untuk melakukan koreksi arah kiblat. Bagaimana caranya?<span id="more-594"></span></p>
<div id="attachment_595" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/05/koreksikiblat.png"><img class="size-medium wp-image-595 " title="koreksikiblat" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/05/koreksikiblat-300x399.png" alt="Koreksi kiblat" width="300" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Skema koreksi arah kiblat</p></div>
<p>Dirikanlah sebuah tongkat secara tegak lurus di area yang terkena sinar Matahari. Usahakan agar area yang digunakan dapat diberi tanda (dengan cat/spidol) agar arah kiblat dapat dituliskan nantinya. Atau gunakan kertas untuk melukiskan arah kiblatnya (lihat gambar di atas).</p>
<p>Lalu pada hari dan jam yang ditentukan, bayangan tongkat akan menunjukkan arah kiblat. Tandailah bayangan tongkat itu. Agar bisa digunakan di tempat lain, tandai juga arah mata angin di kertas itu dengan menggunakan kompas. Kemudian bandingkan antara arah mata angin dengan arah kiblatnya.</p>
<p>Kertas tersebut dapat kita gunakan untuk mengoreksi arah kiblat di masjid lain dengan melakukan langkah yang sebaliknya. Yaitu tentukan arah mata angin dengan kompas, lalu cocokkan dengan arah mata angin di kertas, dan kita pun bisa menentukan arah kiblat yang tepat di tempat tersebut.</p>
<div id="attachment_598" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/05/kiblat.png"><img class="size-medium wp-image-598 " title="kiblat" src="http://duniaastronomi.com/wp-content/uploads/2010/05/kiblat-300x149.png" alt="Posisi kiblat dan titik antipode" width="500" /></a><p class="wp-caption-text">Posisi kiblat dan titik antipode</p></div>
<p>Tempat-tempat yang tidak bisa mengamati Matahari pada saat itu (karena Matahari sudah tenggelam, misalnya di zona WIT) tidak akan bisa menggunakan cara ini di tanggal tersebut. Namun tidak perlu khawatir karena ada waktu lain yang bisa dimanfaatkan, yaitu tanggal 28 November pukul 00.09 waktu Arab Saudi atau 06.09 WIT dan 12 (atau 13) Januari pukul 00.29 waktu Arab Saudi atau 06.29 WIT. Di kedua waktu ini, Matahari terletak di titik antipode, yaitu titik yang berlawanan dengan koordinat Kakbah.</p>
<p>Bagaimana jika di waktu yang ditentukan awan menutupi Matahari? Sekali lagi tidak perlu khawatir karena kita masih bisa menggunakan metode ini dalam batas toleransi 2 hari sebelum dan sesudah hari yang ditentukan serta 5 menit sebelum dan sesudah jam yang ditentukan.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fduniaastronomi.com%2F2010%2F05%2Fhari-koreksi-arah-kiblat%2F&amp;title=Hari%20Koreksi%20Arah%20Kiblat" id="wpa2a_80"><img src="http://duniaastronomi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaastronomi.com/2010/05/hari-koreksi-arah-kiblat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

