|
|
Dua peristiwa gerhana Bulan sudah pernah saya bahas, yaitu gerhana Bulan total pada Agustus 2007 dan gerhana Bulan sebagian pada Agustus 2008. Kali ini saya akan membahas gerhana Matahari yang akan terjadi dalam waktu dekat ini, yaitu Gerhana Matahari Cincin (GMC) tanggal 26 Januari 2009. Selengkapnya »
Masih ingat tulisan saya tentang gerhana di bulan Agustus tahun lalu? Saat itu gerhana yang terjadi adalah gerhana bulan total yang kebetulan dapat diamati di Indonesia. Apakah ada yang terlewat dan tidak sempat mengamatinya? Jangan khawatir, karena dalam waktu dekat kita akan dapat mengamati gerhana kembali yang dapat diamati di semua bagian Indonesia. Bedanya kali ini yang terjadi adalah gerhana bulan sebagian. Dan gerhana ini akan menjadi kado spesial untuk Indonesia karena terjadi bersamaan dengan perayaan hari kemerdekaan kita, yaitu pada tanggal 17 Agustus 2008 dini hari.
Selengkapnya »
Dapatkah kita mengamati planet yang ada di tata surya kita? Mungkin di antara kita ada yang bertanya seperti itu. Jawabannya adalah bisa, tetapi tidak semuanya. Lalu, planet mana saja yang bisa kita amati? Selengkapnya »
Pernahkah Anda perhatikan dengan seksama, bahwa bintang yang kita amati di malam hari tampak berkedip? Cahayanya berubah-ubah seperti lampu kelap-kelip, dan terkadang warnanya pun berubah-ubah dari putih ke biru atau merah dan sebaliknya. Sebenarnya bintang memancarkan energinya relatif konstan/stabil setiap saat. Jadi perubahan yang terjadi tidak berasal dari bintangnya. Ada hal lain yang menyebabkan bintang tampak berkedip. Apakah itu? Selengkapnya »
Ketika kita melihat langit malam, akan kita dapati bermacam benda langit yang terangnya berbeda-beda. Bagaimana caranya agar kita dapat mengetahui perbandingan terang antara objek yang satu dengan yang lain? Di astronomi, kecerlangan benda langit dinyatakan dengan skala magnitudo. Dengan sistem ini juga, kita dapat menghitung perbandingan kecerlangan dua benda langit yang berbeda. Lalu bagaimana sistem magnitudo ini bekerja?
Selengkapnya »
Pada tulisan sebelumnya, kita sudah membahas koordinat langit ekuatorial. Sekarang, giliran koordinat horison (alt-azimuth) yang dibahas. Seperti apa sebenarnya koordinat ini, dan apa bedanya dengan koordinat ekuatorial? Berikut pembahasannya.
Koordinat alt-azimuth adalah menentukan posisi benda langit yang hanya berlaku secara lokal di sekitar pengamat saja. Nama koordinat ini ditentukan dari dua kata yang didefinisikan sebagai penentu posisi benda, yaitu altitud (disingkat alt) dan azimuth. Istilah-istilah penting lainnya yang digunakan dalam koordinat ini adalah horison, zenith, dan nadir.
Selengkapnya »
Di bulan Agustus ini, tampaknya Mars masih menyita perhatian masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dari banyaknya orang yang memperoleh berita bohong tersebut. Artikel saya pun menjadi artikel yang paling banyak dibaca dalam weblog ini. Padahal di bulan ini masih ada satu lagi peristiwa astronomi yang sebenarnya sangat menarik. Jadi, mari kita sekarang alihkan perhatian dari Mars yang sebesar bulan purnama yang tidak akan pernah terjadi.
Pada hari Selasa tanggal 28 Agustus 2007 nanti akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT), yang kebetulan dapat diamati langsung di Indonesia. Proses gerhana tersebut berakhir pukul 13.20 UT (Universal Time = GMT, berbeda 7 jam dengan WIB) atau 20.20 WIB. Padahal di wilayah Indonesia bagian barat bulan baru terbit sekitar pukul 17.30 WIB, yang berarti peristiwa gerhana ini hanya dapat diamati kurang dari 3 jam saja. Proses gerhana itu sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak pukul 07.53 UT (pukul 14.53 WIB). Untuk ulasan lengkap mengenai GBT ini, silakan lihat halaman ini, sedangkan gambar dari NASA ini memberikan ringkasannya.
Selengkapnya »
Pada tanggal 16 Juli 2007 pukul 16.27 WIB, matahari akan berada tepat di atas Ka’bah. Peristiwa ini dapat dimanfaatkan untuk mengoreksi arah kiblat, karena bayangan yang dibentuk oleh benda yang berdiri tegak lurus dengan bumi pada waktu tersebut akan menunjukkan arah Ka’bah.
Caranya, tegakkan sebuah tongkat yang cukup panjang dan letakkan pada tempat yang terkena sinar matahari di sore hari. Pada waktu yang disebutkan di atas, tandai garis yang dibentuk oleh bayangan tongkat. Arah kiblat adalah arah yang dituju dari bayangan tongkat bagian ujung ke bayangan bagian pangkal.
Selengkapnya »
Semarang, Kamis 21 Juni 2007, pukul 18.30. Langit senja ini memberikan pemandangan yang menarik. Tiga objek tata surya yaitu Bulan (yang berumur 6.4 hari) dan Saturnus, yang ada di rasi Leo, serta Venus di rasi Cancer, berada berdekatan di sebelah barat. Kalau ingin diabadikan, harus buru-buru karena Venus tenggelam pukul 20.43. Di antara Saturnus dan Bulan terdapat sebuah bintang terang Regulus (alfa Leonis). Di sebelah selatan mereka terdapat dua bintang terang, Sirius (alfa Canis Majoris) dan Canopus (alfa Carinae) yang sudah tidak bisa diamati lagi karena hampir tenggelam.
Selengkapnya »
Sekali lagi percobaan sudah saya lakukan. Kali ini, dari arah barat benar [bukan arah barat kompas] saya hitung berapa besar sudut ke arah kiblat, yang ditentukan dari bayangan matahari pada hari Senin tanggal 28 Mei 2007 sekitar pukul 16.18 WIB.
Dengan metode sederhana, dan masih memerlukan koreksi yang lebih banyak agar hasilnya lebih akurat, saya peroleh bahwa arah kiblat itu berjarak 10 derajat dari barat ke arah utara.
Padahal kalau dilihat dari http://www.qiblalocator.com/ , arah kiblat di Semarang itu sekitar 30 derajat ke utara dari arah barat .
Dengan begini, tanggal 16 Juli jam 4.27 sore percobaan itu akan saya lakukan lagi. Semoga saja saya bisa melakukannya dengan ketelitian yang lebih baik.
Jika kita melihat sebuah komet di langit, bagaimana cara kita memberitahu teman kita di tempat lain agar dia dapat melihat komet yang sama? Jika kita ingin pergi ke rumah teman, pasti kita tanyakan alamatnya bukan? Begitu juga dengan komet di langit, beserta bintang-bintang, galaksi dan bermacam objek lainnya, mereka semua memiliki “alamat” tertentu yang tidak mungkin kembar satu sama lain. Alamat yang dimaksud di sini adalah koordinat. Ya, semua benda langit bisa kita cari asalkan kita mengetahui koordinatnya. Jadi, teman kita pasti bisa menemukan komet yang kita maksud.
Selengkapnya »
Tahukah Anda bahwa kutub-kutub magnet Bumi dan kutub-kutub rotasinya tidak saling berhimpit? Padahal jarum kompas yang kita gunakan akan menunjuk ke arah kutub magnet utara dan selatan. Hal ini berarti ketika kita menggunakan kompas untuk menentukan arah mata angin (kutub rotasi utara dan selatan), arah yang kita dapatkan tidaklah akurat. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui arah utara dan selatan yang sebenarnya?
Selengkapnya »
|
Komentar Terbaru