Kontak DADC

Call | SMS | Whatsapp 0817 226 986
Twitter: duniaastronomi
Facebook: Dunia Astronomi
Plurk: dadc
Instagram: dunia.astronomi
Hati-hati dengan penipuan yang mengatasnamakan dadc. Kami selalu menghubungi melalui nomor di atas.

dadc di Twitter

Bumi Ini Bulat atau Datar?

Tahukah Adik-adik, pertanyaan ini sering ditanyakan loh. Tidak hanya oleh anak-anak, tetapi juga oleh orang dewasa. Kita akan bahas di sini, tapi sebelumnya patut diingat bahwa sangatlah penting untuk membahasnya berlandaskan bukti terbaru karena kita sedang berbicara sains. Bicara sains tanpa bukti itu sama saja dengan berbohong alias hoax.

Kita lihat dulu sejarahnya ya. Dulu ketika teknologi belum semaju sekarang, kita sulit menentukan apakah Bumi bulat atau datar. Ilmu yang kita miliki baru sebatas dipelajari dari apa yang bisa kita lihat dengan mata. Dan karena sejauh kita memandang horison tidak tampak melengkung dan kita tidak bisa merasakan Bumi bergerak padahal seluruh benda langit bergerak, maka Bumi pun dianggap datar dan diam. Di sini, membahas bentuk Bumi memang tidak bisa lepas dengan membahas pergerakannya, karena keduanya berkaitan erat. Selengkapnya »

Gerhana Bulan Total 27-28 Juli 2018

Tahukah Anda pada tanggal 28 Juli 2018 akan ada Gerhana Bulan Total di Indonesia. Gerhana Bulan Total di Indonesia untuk kedua kalinya pada tahun 2018 setelah yang pertama terjadi pada tanggal 31 Januari 2018 lalu. Waktu kejadian Gerhana Bulan Total 2018[1]:

Tabel 1. Waktu kejadian Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018

NO FASE GERHANA WAKTU
UT (27/7) WIB (28/7) WITA (28/7) WIT (28/7)
1 Gerhana mulai (P1) 17:13,00 00:13,00 01:13,00 02:13,00
2 Gerhana Sebagian mulai (U1) 18:24,10 01:24,10 02:24,10 03:24,10
3 Gerhana Total mulai (U2) 19:29,90 02:29,90 03:29,90 04:29,90
4 Puncak Gerhana (Puncak) 20:21,70 03:21,70 04:21,70 05:21,70
5 Gerhana Total berakhir (U3) 21:13,50 04:13,50 05:13,50 06:13,50
6 Gerhana Sebagian berakhir (U4) 22:19,30 05:19,30 06:19,30 07:19,30
7 Gerhana berakhir (P4) 23:30,30 06:30,30 07:30,30 08:30,30

Lalu, bagaimana orang terdahulu mengetahui kapan terjadi fenomena gerhana Bulan? Ini yang akan dibahas pada tulisan ini. Astronom India mengatakan ‘Bulan menutupi Matahari di gerhana matahari dan bayangan besar (di bumi) gerhana bulan’ (Aryabhatiya 4.37)[2]. Ini menunjukkan bahwa orang terdahulu memberikan perhatian lebih kepada langit dengan membaca fenomena langit dan mencoba menganalisis kejadian yang mereka lihat.

Grahalaghava (1520-an) mencoba membuat perhitungan sederhana mengenai waktu kejadian gerhana Bulan dengan rasio trigonometri. Hasil perhitungan yang dibuat ternyata ada perbedaan waktu 9-10 menit dengan data dari Indian Astronomical Ephemeris (IAE)[3]. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Karanakutuhala dari Bhaskara II yang mecoba membuat perhitungan waktu kejadian gerhana.

Selain itu pencatatan adanya gerhana Bulan pun telah dilakukan oleh orang terdahulu. Seperti gerhana pada 25 September 972 di India, telah dicatat sebagai bertepatan dengan Tula Sankramana, Matahari berada di rasi Tula (Libra). Hal ini menunjukkan itu terjadi pada 17 Oktober (±1 hari) pada Indian Astronomical Ephemeris (IAE). Meskipun presesi ekuinoks dan koreksi terkait diketahui, informasi akan menyelesaikan kebingungan mengenai adanya perbedaan tersebut[4].

Sumber:
[1] BMKG. (2018, 6 Juli). Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Diperoleh 16 Juli 208 pukul 10:42 WIB dari http://www.bmkg.go.id/tanda-waktu/
[2] Aryabhatiyam of Aryabhata I (i) Cr. ed. & tr. K. S. Shukla & K. V. Sarma (1976). New Delhi: INSA. (ii) Nilakanta Somayaji ed. Suranad Kunjan pillai, Trivendrum Sanskrit Series 185 (1957). Trivandrum.
[3] Venugopal, P., dkk. Lunar and Solar eclipse procedures in Indian astronomy. Ramasubramanian, K., dkk, editor. History of Indian Astronomy-A Handbook. 2016. Mumbai (IN): Science and Heritage Initiative (SandHI) dan Tata Institute of Fundamental Research.
[4] Shylaja, B. S. dan Ganesha, G. K. 2016. History of the Sky-on Stones. Bangalore: Infosys Foundation.

Ditulis oleh Al Khansa, diedit oleh dadc

Menghitung Jarak Matahari

Bagi Anda yang sudah pernah membaca/melihat video tentang FE, kemungkinan besar Anda tahu bahwa menurut FE jarak Matahari dari Bumi adalah sekitar 5.000 – 6.000 km saja. Mereka mendapat perhitungan tersebut dengan menggunakan metode bayangan dan trigonometri, sama seperti yang dilakukan oleh Eratosthenes. Sayangnya mereka menggunakan asumsi yang keliru di situ, yaitu datangnya sinar Matahari tidak sejajar sehingga membentuk sudut terhadap tongkat yang ditancapkan di tanah. Padahal sinar Matahari datangnya sejajar karena letaknya sangat jauh, dan akibatnya sudut yang terbentuk tersebut sebenarnya berasal dari kemiringan/kelengkungan permukaan Bumi. Jarak Matahari sebenarnya adalah sekitar 150 juta km. Lalu bagaimana sih cara menghitung jarak Matahari sehingga diperoleh nilai tersebut?

Selengkapnya »

dadc Mendukung Bumi Datar, Asalkan

Barangkali sudah banyak pembaca yang tahu bahwa belakangan ini muncul keramaian di dunia maya seputar Flat Earth Conspiracy atau Konspirasi Bumi Datar (dadc singkat FE). Menurut pengamatan dadc (dunia astronomi dot com), awal keramaian FE ini adalah dari serial video propaganda di Youtube. Di situ disebutkan bahwa sebenarnya Bumi kita datar dan foto Bumi bulat serta segala bukti yang ada merupakan hasil konspirasi kebohongan global. Padahal di video tersebut tidak ada satupun bukti sahih menurut sains yang menunjukkan bahwa Bumi datar. Namun tetap saja video itu mengakibatkan banyak orang mulai meragukan fakta Bumi bulat dan menganggap Bumi datar, diam, dan dikelilingi oleh benda-benda langit. Melalui tulisan ini, dadc bisa saja menyatakan mendukung fakta bahwa Bumi datar dan diam, asalkan beberapa syarat terpenuhi. Apa saja syaratnya? Sebagai permulaan, di sini dadc akan sampaikan 2 syarat terlebih dahulu. Selengkapnya »

Hoax Equinox Menyebabkan Gelombang Panas

Baru saja dadc menerima broadcast tentang terjadinya fenomena ekuinoks yang menyebabkan gelombang panas di kawasan Indonesia, Singapura, & Malaysia. Isinya kurang lebih seperti ini: Selengkapnya »

Apa itu Blue Moon?

Blue Moon bukanlah sebuah peristiwa yang istimewa secara visual. Karena saat itu terjadi, Bulan tidak akan menjadi berwarna biru. Blue Moon adalah istilah untuk Bulan purnama kedua dalam 1 bulan kalender. Untuk di bulan Juli 2015 ini, Bulan sudah mencapai fase purnama pada tanggal 2 Juli 2015 pukul 09.19 WIB dan berikutnya akan mencapai fase purnama kembali pada tanggal 31 Juli 2015 pukul 17.43 WIB. Jadi, peristiwa ini sama seperti purnama lainnya. Keistimewaannya hanya terletak pada faktor peluang terjadinya yang akan terulang dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Salah satu keunikan yang pernah terjadi adalah terdapat 2 Blue Moon dalam 1 tahun, yaitu pada tahun 1999 di bulan Januari dan Maret, ditambah ketiadaan purnama di bulan Februari. Blue Moon ganda berikutnya akan terjadi di bulan Januari dan Maret 2018 lalu Januari dan Maret 2037.

Silakan baca juga halaman berikut
http://earthsky.org/space/when-is-the-next-blue-moon

https://en.wikipedia.org/wiki/Blue_moon

Hoax Konjungsi Mengurangi Berat Benda Di Bumi

Beberapa hari terakhir beredar kabar tentang konjungsi planet Jupiter dan Pluto yang menyebabkan kejadian aneh di Bumi. Berikut isi kabar tersebut: Selengkapnya »

Komet Lovejoy Menyambut Tahun Baru 2015

Sebuah komet yang ditemukan 17 Agustus 2014 lalu oleh astronom amatir Australia bernama Terry Lovejoy akan menyambut tahun baru 2015 dengan menampakkan diri cukup terang di rasi Lepus, dekat Sirius si bintang paling terang di langit malam. Komet ini bernama C/2014 Q2 (Lovejoy), dahulu ditemukan di rasi Puppis dengan magnitudo 15. Namun kini diperkirakan dapat mencapai magnitudo 5 sehingga bisa kita amati dengan mata telanjang di malam yang cerah dan bebas dari polusi udaha & cahaya, atau dengan binokuler di tempat dengan polusi sedang. Selengkapnya »

Duet Komet Jelang Akhir Tahun

Di akhir tahun 2013 ini, banyak media ramai memberitakan tentang fenomena komet ISON. Komet tersebut akan dapat diamati dengan mudah (tanpa alat bantu optik) di akhir bulan November nanti. Namun sebenarnya tidak hanya komet ISON saja yang membuat berita. Ada 1 komet lain yang juga patut dijadikan target pengamatan, yaitu komet Lovejoy.

Teleskop Hubble Menemukan Asteroid Berekor

Sebuah tim astronom yang menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble baru saja mengamati sebuah asteroid di sabuk asteroid yang memiliki ekor layaknya komet. Dan uniknya, jumlah ekornya tidak hanya 1 atau 2, namun 6 buah sekaligus! Selengkapnya »