Kontak DADC

Call | SMS | Whatsapp 0817 226 986
Twitter: duniaastronomi
Facebook: Dunia Astronomi
Plurk: dadc
Instagram: dunia.astronomi
Hati-hati dengan penipuan yang mengatasnamakan dadc. Kami selalu menghubungi melalui nomor di atas.

dadc di Twitter

Selamat Datang Di DADC

Selamat datang di Dunia Astronomi (bisa disingkat dadc), Situs Astronomi Populer Terpercaya Indonesia.

Situs ini dibuat karena kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap ilmu pengetahuan astronomi, terutama yang disajikan dalam Bahasa Indonesia, masih belum dapat diakomodasi secara maksimal. Kami sebagai alumni Program Studi Astronomi ITB berharap situs dadc ini dapat membantu memajukan astronomi di Indonesia.

Tulisan dalam situs ini terbagi dalam dua kategori besar, yaitu ulasan dan berita. Ulasan adalah tulisan kami yang tidak berkaitan dengan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu. Sedangkan berita adalah tulisan kami yang ada kaitannya dengan sebuah peristiwa pada waktu tertentu. Masing-masing kategori tersebut kami kategorikan juga sesuai dengan bidang astronomi yang dibahasnya.

Seluruh tulisan kami buat sendiri yang kami rangkum dari sumber-sumber terpercaya. Jangan mudah percaya pada situs lain yang menampilkan tulisan plagiasi/tiruan/contekan.

Untuk mempermudah dalam mencari apa yang Anda butuhkan, berikut adalah navigasi utama dalam situs ini:

_________

Buku Stephen Hawking: A Mind Without Limits

Stephen Hawking (8 Januari 1942 – 14 Maret 2018) merupakan salah satu ilmuwan besar di jaman modern. Penemuan dan kontribusinya terhadap dunia sains cukup fenomenal, misalnya Radiasi Hawking. Kehidupan pribadinya pun menakjubkan karena mampu melawan prediksi dokter yang memperkirakan hidupnya hanya hingga tahun 1965, atau 2 tahun setelah ia didiagnosis menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), namun pada akhirnya mampu hidup 55 tahun setelahnya.

Bagi yang tertarik tentang bagaimana kehidupan Stephen Hawking dan pencapaian-pencapaiannya, Anda bisa dapatkan segera buku Stephen Hawking: A Mind Without Limit edisi kolektor. Pesan sekarang juga di dadc melalui WA atau form ini dengan harga hanya Rp. 119.000,- per eksemplar.

Spesifikasi Produk:
SKU: UC-98
ISBN: 978-602-441-101-5
Berat: 140 Gram
Dimensi (P/L/T): 21 Cm / 28 Cm/ 0 Cm
Halaman: 96
Jenis Cover: Soft Cover
Penerbit: Mizan Selengkapnya »

Foto Pertama Lubang Hitam

Hari ini, 10 April 2019, adalah hari bersejarah nan menghebohkan dunia astronomi. Lubang hitam, sebuah objek teoritis yang sudah diusulkan sejak tahun 1784 ketika John Michell menyebutkan ide tentang adanya objek yang demikian masif/padatnya sehingga cahaya tidak dapat lolos, berhasil difoto untuk pertama kalinya menggunakan Event Horizon Telescope (EHT). Pukul 20.00 WIB, foto sebuah lubang hitam di galaksi M87 yang berjarak 54 juta tahun cahaya dipublikasikan oleh tim yang terlibat dalam EHT. Selengkapnya »

Mengapa Tidak Ada Lagi Planet Pluto, Padahal Dulu Ada?

Pertanyaannya bagus nih, dan ada banyak orang yang menanyakannya loh. Sebenarnya, Pluto masih ada di Tata Surya kita kok. Perubahan yang dialami Pluto hanyalah statusnya yang tidak lagi disebut sebagai planet, melainkan menjadi planet katai (dwarf planet).

Selengkapnya »

Menyambut Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019

Bersiaplah, sobat astro. Pada tanggal 26 Desember 2019 yang akan datang, tepat setahun lagi, akan terjadi Gerhana Matahari Cincin yang bisa disaksikan di Indonesia. Jalur pusat gerhananya akan melewati beberapa kota/daerah seperti Padang Sidempuan, Duri, Batam, Tanjung Pinang, Singkawang, dll. Sementara daerah lainnya bisa mengamati Gerhana Matahari Sebagian.

Peta lintasan Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019.

Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019 akan tampak sebagai gerhana sebagian di banyak wilayah Indonesia. Di Pulau Jawa, Bali, NTT dan NTB, Matahari akan tertutupi 40%-70%. Semakin ke selatan dan timur, tingkat gerhananya semakin kecil, hingga 30% saja. Nah, mumpung masih lama, ayo persiapkan segalanya dari sekarang untuk ikut dadc mengamati GMC 2019 ke daerah yang dilintasi jalur pusat gerhananya!

Apa Itu Bintang Neutron? Bagaimana Cara Terbentuknya?

Bintang neutron adalah salah satu bentuk tahap akhir kehidupan dari bintang yang sudah tua. Sesuai namanya, bintang ini didominasi oleh neutron, dengan sangat sedikit proton dan elektron. Padahal semua benda di sekitar kita terdiri dari atom yang pasti ada neutron, elektron, dan protonnya. Lalu mengapa bisa bintang ini hanya berisi neutron saja ya? Selengkapnya »

Jika Kita Keluar dari Galaksi Bima Sakti, Kita Akan Berada di Mana?

Jika kita keluar dari galaksi Bima Sakti, maka kita tidak akan langsung berada di galaksi lain tetapi memasuki ruang antar-galaksi. Hal ini terjadi karena jarak galaksi paling dekat dari Bima Sakti pun sangat jauh. Galaksi yang dimaksud adalah Canis Major Dwarf, yang berjarak 250.000 tahun cahaya dari Bumi. Selengkapnya »

Bumi Ini Bulat atau Datar?

Tahukah Adik-adik, pertanyaan ini sering ditanyakan loh. Tidak hanya oleh anak-anak, tetapi juga oleh orang dewasa. Kita akan bahas di sini, tapi sebelumnya patut diingat bahwa sangatlah penting untuk membahasnya berlandaskan bukti terbaru karena kita sedang berbicara sains. Bicara sains tanpa bukti itu sama saja dengan berbohong alias hoax.

Kita lihat dulu sejarahnya ya. Dulu ketika teknologi belum semaju sekarang, kita sulit menentukan apakah Bumi bulat atau datar. Ilmu yang kita miliki baru sebatas dipelajari dari apa yang bisa kita lihat dengan mata. Dan karena sejauh kita memandang horison tidak tampak melengkung dan kita tidak bisa merasakan Bumi bergerak padahal seluruh benda langit bergerak, maka Bumi pun dianggap datar dan diam. Di sini, membahas bentuk Bumi memang tidak bisa lepas dengan membahas pergerakannya, karena keduanya berkaitan erat. Selengkapnya »

Gerhana Bulan Total 27-28 Juli 2018

Tahukah Anda pada tanggal 28 Juli 2018 akan ada Gerhana Bulan Total di Indonesia. Gerhana Bulan Total di Indonesia untuk kedua kalinya pada tahun 2018 setelah yang pertama terjadi pada tanggal 31 Januari 2018 lalu. Waktu kejadian Gerhana Bulan Total 2018[1]:

Tabel 1. Waktu kejadian Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018

NO FASE GERHANA WAKTU
UT (27/7) WIB (28/7) WITA (28/7) WIT (28/7)
1 Gerhana mulai (P1) 17:13,00 00:13,00 01:13,00 02:13,00
2 Gerhana Sebagian mulai (U1) 18:24,10 01:24,10 02:24,10 03:24,10
3 Gerhana Total mulai (U2) 19:29,90 02:29,90 03:29,90 04:29,90
4 Puncak Gerhana (Puncak) 20:21,70 03:21,70 04:21,70 05:21,70
5 Gerhana Total berakhir (U3) 21:13,50 04:13,50 05:13,50 06:13,50
6 Gerhana Sebagian berakhir (U4) 22:19,30 05:19,30 06:19,30 07:19,30
7 Gerhana berakhir (P4) 23:30,30 06:30,30 07:30,30 08:30,30

Lalu, bagaimana orang terdahulu mengetahui kapan terjadi fenomena gerhana Bulan? Ini yang akan dibahas pada tulisan ini. Astronom India mengatakan ‘Bulan menutupi Matahari di gerhana matahari dan bayangan besar (di bumi) gerhana bulan’ (Aryabhatiya 4.37)[2]. Ini menunjukkan bahwa orang terdahulu memberikan perhatian lebih kepada langit dengan membaca fenomena langit dan mencoba menganalisis kejadian yang mereka lihat.

Grahalaghava (1520-an) mencoba membuat perhitungan sederhana mengenai waktu kejadian gerhana Bulan dengan rasio trigonometri. Hasil perhitungan yang dibuat ternyata ada perbedaan waktu 9-10 menit dengan data dari Indian Astronomical Ephemeris (IAE)[3]. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Karanakutuhala dari Bhaskara II yang mecoba membuat perhitungan waktu kejadian gerhana.

Selain itu pencatatan adanya gerhana Bulan pun telah dilakukan oleh orang terdahulu. Seperti gerhana pada 25 September 972 di India, telah dicatat sebagai bertepatan dengan Tula Sankramana, Matahari berada di rasi Tula (Libra). Hal ini menunjukkan itu terjadi pada 17 Oktober (±1 hari) pada Indian Astronomical Ephemeris (IAE). Meskipun presesi ekuinoks dan koreksi terkait diketahui, informasi akan menyelesaikan kebingungan mengenai adanya perbedaan tersebut[4].

Sumber:
[1] BMKG. (2018, 6 Juli). Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Diperoleh 16 Juli 208 pukul 10:42 WIB dari http://www.bmkg.go.id/tanda-waktu/
[2] Aryabhatiyam of Aryabhata I (i) Cr. ed. & tr. K. S. Shukla & K. V. Sarma (1976). New Delhi: INSA. (ii) Nilakanta Somayaji ed. Suranad Kunjan pillai, Trivendrum Sanskrit Series 185 (1957). Trivandrum.
[3] Venugopal, P., dkk. Lunar and Solar eclipse procedures in Indian astronomy. Ramasubramanian, K., dkk, editor. History of Indian Astronomy-A Handbook. 2016. Mumbai (IN): Science and Heritage Initiative (SandHI) dan Tata Institute of Fundamental Research.
[4] Shylaja, B. S. dan Ganesha, G. K. 2016. History of the Sky-on Stones. Bangalore: Infosys Foundation.

Ditulis oleh Al Khansa, diedit oleh dadc

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018

Tak lama lagi, kita akan kembali mendapat kesempatan untuk menyaksikan sebuah fenomena spektakuler, yaitu Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018. Selengkapnya »

Menghitung Jarak Matahari

Bagi Anda yang sudah pernah membaca/melihat video tentang FE, kemungkinan besar Anda tahu bahwa menurut FE jarak Matahari dari Bumi adalah sekitar 5.000 – 6.000 km saja. Mereka mendapat perhitungan tersebut dengan menggunakan metode bayangan dan trigonometri, sama seperti yang dilakukan oleh Eratosthenes. Sayangnya mereka menggunakan asumsi yang keliru di situ, yaitu datangnya sinar Matahari tidak sejajar sehingga membentuk sudut terhadap tongkat yang ditancapkan di tanah. Padahal sinar Matahari datangnya sejajar karena letaknya sangat jauh, dan akibatnya sudut yang terbentuk tersebut sebenarnya berasal dari kemiringan/kelengkungan permukaan Bumi. Jarak Matahari sebenarnya adalah sekitar 150 juta km. Lalu bagaimana sih cara menghitung jarak Matahari sehingga diperoleh nilai tersebut?

Selengkapnya »